
Setelah kepergian Dave yang masuk ke dalam butik, Mona pun segera memanggil bodyguard yang sedari tadi terus mengikutinya.
"Cepat kalian selidiki Dave, aku curiga dia tahu tentang Malvin." Mona pun langsung pergi begitu saja tanpa peduli dengan bodyguard-nya.
Sesuai perintah majikannya, salah satu bodyguard pun diam di situ menunggu Dave keluar dari butik, seraya mencari tahu tentang orang yang harus dia selidiki.
Sementara Dave yang merasa curiga dengan orang yang berada di depan butik, dia segera mempercepat belanjanya. Tak lupa Dave pun segera meminta Harry untuk datang mengecoh orang itu. Papa muda itu pun segera membayar semua belanjaannya.
"Via, kita harus cepat pulang! Sepertinya Mona curiga padaku, lihat orang yang berdiri di depan pintu itu! Dia bodyguard Mona, nanti kamu pulang sama Harry. Aku mau mengecoh dia agar dia tidak mengikuti sampai rumah," suruh Dave pada Sevia seraya dia menyerahkan putrinya pada Sevia.
"Dave, kamu hati-hati! Aku menunggumu di rumah," ucap Sevia dengan suara sendu.
Rasanya dia berat membiarkan Dave dalam masalah sendiri, tetapi Sevia pun tidak mungkin menemaninya karena yang ada nanti justru merepotkan. Apalagi ada bayi kecil yang membutuhkan perlindungan ekstra.
"Aku pasti pulang! Tolong bilang ke Om dan Tante kita berangkatnya di mansion Om Andrea saja, agar tidak bisa terendus oleh Mona. Aku akan menunggu di sana, kamu siapkan baju-baju aku saja." Dave memeluk sesaat istrinya. Memberikan ketenangan pada Sevia.
"Iya, jaga diri Dave!"
Tak berapa lama kemudian, panggilan masuk dari Harry yang memberitahukan kalau dia sudah sampai di lobby Mall. Dave pun bergegas keluar dari butik berpura-pura tidak melihat bodyguard Mona yang sedari tadi seperti bermain ponsel di dekat pintu keluar butik. Namun, Sevia yang penasaran ingin melihat wajah bodyguard itu sedikit menolehkan kepalanya. Dave yang menyadarinya segera mengembalikan pandangan Sevia agar bodyguard itu tidak menyadari bahwa pergerakannya sudah diketahui.
Sesuai rencana awal, Sevia segera naik ke mobil Harry yang sudah terparkir di depan lobby. Dave sengaja membukakan pintu belakang agar Sevia duduk di sana. Lagipula Sevia merasa sungkan jika harus duduk bersebelahan dengan asisten suaminya. Namun berbeda dengan pemikiran Harry yang merasa tidak suka dengan apa yang Sevia lakukan.
__ADS_1
Ya ampun, aku dianggap supir taksi. Kenapa dia harus duduk di belakang? Padahal duduk di depan juga tidak akan bersentuhan. Dasar Dave, posesif sekali! Aku bawa belok ke hotel, kebakaran jenggot dia, batin Harry.
Setelah kepergian Harry yang membawa istri dan anaknya, Dave pun kembali berputar-putar di mall seraya membeli apa saja yang ingin dia beli. Terakhir, dia masuk ke dalam bioskop. Dave sengaja memilih duduk di kursi paling depan agar dia cepat keluar saat film sedang diputar. Benar saja, saat film akan diputar Dave segera keluar sehingga bodyguard yang tadi terus mengikutinya pun ikut keluar dan mendapat sorakan dari para penonton karena dia duduk di kursi atas.
Sementara Dave langsung berlari menuju ke parkiran mobilnya. Dengan secepat kilat dia pun mengendarai mobil sport yang baru dibelinya beberapa bulan yang lalu. Dave tersenyum remeh saat melihat bodyguard itu baru sampai di parkiran.
Tanpa melihat ke belakang lagi, brondong tampan itu segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Andrea yang bisa dipastikan aman untuknya bersembunyi karena memiiki pengamanan yang berlapis dengan tekhnologi canggih yang mendukungnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Dave saat sudah turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam," sahut Mitha dari dalam rumah seraya membukakan pintu depan.
"Tante, apa kabar?" tanya Dave seraya mencium punggung tangan wanita yang masih terlihat cantik meski umurnya sudah mendekati angka 50.
"Tante pintar sekali menebaknya! Om ada, Tan?" tanya Dave.
"Ada, tunggu sebentar! Apa mau ikut ke belakang saja? Om kamu sedang menikmati angin malam di Gazebo," tawar Mitha.
"Ikut ke belakang saja, Tan!" Dave pun mengikuti Mitha yang akan ke dapur karena gazebo yang dimaksud memang harus melewati pintu dapur.
Setelah bertemu dengan Andrea, Dave pun langsung mengutarakan maksud kedatangannya dan memberitahukan dengan apa yang terjadi padanya. Andrea hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dibicarakan oleh Dave tanpa menyela sedikitpun.
__ADS_1
"Keputusan kamu tepat sekali dengan datang ke sini. Kamu tenang saja, Om pasti melindungi keluarga Putra dari Nona muda keluarga Winata." Andrea menepuk bahu Dave berkali. "Sekarang kamu hubungi Al untuk bersiap, nanti Om akan menyuruh para pengawal bayangan untuk menjemput keluargamu ke sini. Biar mereka mengira kalau Keluarga Putra ada yang menculik, hahaha ...." Andrea tertawa dengan ucapannya sendiri.
Sementara itu, setelah Al mendapat telepon dari Dave, dia pun menyuruh semua anggota keluarganya untuk bersiap. Termasuk beberapa orang pekerja di rumahnya yang nanti akan membantu Sevia menjaga putri kecilnya dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh seluruh anggota keluarga.
Tepat pukul sepuluh malam, ada dua mobil minibus yang datang ke rumah Al dengan beberapa orang pengawal berseragam lengkap seperti militer. Al dan yang lainnya begitu terburu masuk ke dalam mobil itu. Begitupun dengan Sevia yang sedari tadi diam. Sungguh, dia jadi teringat dengan film penculikan para jenderal, sehingga Sevia terus berdoa dalam hatinya untuk keselamatan semua keluarga Dave. Namun, kecemasannya mendadak sirna saat Dave menyambut kedatangannya dan yang lain di depan pintu mansion milik bos suaminya.
"Sayang, kenapa mukamu pucat sekali?" tanya Dave dengan merangkul istrinya yang baru datang. Sedangkan putrinya ada dalam gendongan Icha.
"Aku takut, Dave!" Sevia langsung memeluk tubuh Dave dengan terisak. Sedari tadi pulang dari mall hatinya tidak tenang ditambah lagi dengan penjemputan yang seperti penculikan membuat dia semakin was-was.
Semua orang yang melihat ketakutan Sevia hanya bisa tersenyum. Mereka memaklumi karena mungkin hal seperti ini baru dirasakan oleh istrinya Dave. Sementara yang lainnya sudah biasa menghadapi hal yang menegangkan. Mereka pun meninggalkan Dave dan Sevia yang masih berpelukan di depan pintu mansion.
"Tenang, sayang! Kita aman di sini, Mona tidak akan pernah bisa masuk ke sini. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaan mansion ini. Sekarang kita menginap dulu di sini, baru besok pagi kita pergi liburan. Ayo aku kenalkan dengan keluarga Om Andrea. Mereka semua baik sama aku." Dave mengurai pelukan Sevia dan mencium keningnya.
"Dave, kenapa bermesraan di depan pintu? Kamar di mansion ini banyak yang kosong, kamu pilih saja salah satunya!" Celetuk Elvano yang baru datang bersama dengan Joen. "Jangan membuat jomblo di sampingku merana melihat kemesraan kalian!"
...~Bersambung~...
Alhamdulillah bisa up lagi setelah seharian kemarin kena migrain.
Jangan lupa dukungannya ya Kakak! Ayo langsung klik like, comment, vote, rating⭐5, gift dan pastinya masukin favorite ya.
__ADS_1
Terima kasih!