Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 113 Terlacak


__ADS_3

Dave dan Harry sudah berada di ruangan Andrea seperti apa yang diminta oleh bosnya itu. Begitupun dengan Andrea yang sudah menunggu mereka berdua, setelah tadi dia bertemu dengan seseorang. Wajah yang biasanya nampak santai, kini terlihat serius.


"Maaf, Om! Semalam aku pulang duluan. Apa ada masalah di pesta?" tanya Dave yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan bosnya.


"Dave, ada urusan apa kamu membuka data rahasia milik keluarga Mattews? Apa benar kamu putra dari Dave Mattews?" tanya Andrea dengan mata yang terus menyelidik pada anak buah kesayangannya itu.


"Itu aku ... Aku hanya ingin tahu tentang Dave Mattews," jawab Dave kikuk.


Dia tidak menyangka jejaknya akan terlihat oleh Andrea. Bukankah selama ini apa yang dia kerjakan selalu rapi setiap kali masuk ke dalam situs yang ingin dia ketahui, ataupun mengintip data-data penting perusahaan yang akan bekerja sama dengan AP Technology.


"Kamu tahu, Dave? Jejak kamu terlacak. Namun, mereka tidak tahu pasti siapa yang sudah mengambil sebagian data pentingnya. Saat semalam Tuan David menunjukkan alamat IP, Om tahu kalau itu pekerjaan kamu," jelas Andrea.


"Maaf, Om! Aku ceroboh," sesal Dave.


"Boleh Om tahu apa yang kamu ambil? Kenapa kamu melakukanya?" tanya Andrea.


"Itu-itu-itu aku tidak bisa mengatakannya, maaf!" Dave pun langsung menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui sesuatu yang tanpa sengaja dia ketahui.


"Baiklah, Om tidak bisa memaksa. Tapi jika nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diharapkan, mungkin Om tidak bisa membantumu. Ingat Dave, sekarang kamu sudah berkeluarga. Terkadang kita harus mengenyampingkan ego kita demi keselamatan orang-orang yang kita sayangi." Andrea menepuk bahu Dave pelan.


"Baik, Om!" sahut Dave.


"Satu lagi Dave, tolong kamu selesaikan soal masalah Mr. David!" pinta Andrea kemudian dia beranjak pergi.


Dave hanya diam tak menjawab. Hatinya benar-benar bimbang dengan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mungkin mengaku pada Mr. David kalau dia yang telah membuka data rahasia milik keluarga Mattews.


"Kamu tenang saja, kita hanya tinggal mencari kambing hitam. Kamu jangan memakai IP itu lagi," bisik Harry.


"Kamu benar Harry, kita hanya perlu berpura-pura tidak tahu di depannya," ucap Dave.


"Dave, apa kamu tidak ingin mengakui tentang siapa kamu sebenarnya? Bukankah kamu sangat ingin bertemu dengan keluarga papa kamu?" tanya Harry.


"Aku memang ingin bertemu dengan mereka tapi aku tidak siap jika harus mendapat penolakan," jawab Dave.

__ADS_1


"Tapi yang kulihat Nyonya Kylie begitu merindukan putranya. Kalau kamu mengaku, pasti mereka bisa menerima kamu dengan baik." Harry berusaha meyakinkan sahabatnya karena dia tahu Dave sangat ingin memiliki keluarga kandung yang sesungguhnya.


"Sudahlah Harry, lebih baik kita pulang! Aku sangat ingin bertemu dengan istriku," sahut Dave.


Kedua sahabat itu akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka berdua langsung menuju ke rumah Icha karena memang istri dan mereka titipkan pada Keluarga Putra. Saat sampai di sana, nampak ruang keluarga begitu ramai dengan kehadiran tiga bayi yang menggemaskan.


"Assalamu'alaikum," ucap Dave.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruang tengah.


Sevia yang sedang duduk di sofa langsung berdiri menyambut kedatangan suaminya. Dia pun langsung mencium punggung tangan suaminya. Meskipun masih kaku dan malu-malu, Rani pun mengikuti apa yang sahabatnya lakukan.


"Senangnya melihat kalian begitu harmonis, semoga selalu seperti ini ya! Ingat, setiap ada masalah harus dibicarakan dengan baik. Jangan sampai kesalahpahaman membuat kalian berpisah," ucap Icha memberikan sedikit wejangan.


"Iya, Tan. Kalau aku dan Sevia, semua masalah selesai saat sudah di atas tempat tidur," ucap Dave dengan mengerlingkan matanya pada Sevia. Pikirannya yang runyam membuat Dave melakukan hal yang mampu membuat hatinya senang.


"Dave ih nakal," ucap Sevia dengan mencubit perut suaminya.


"Lihat Tante! Dia sudah memberikan kode padaku, sepertinya aku harus membawanya ke kamar dulu." Dave langsung menarik tangan Sevia begitu saja, membuat semua orang yang ada di situ hanya diam melongo.


"Tidak ada, Tan!" Bohong Harry.


"Tante tidak percaya sama kamu, Tante tahu bagaimana Dave. Meskipun kamu tidak mau terus terang, tapi Tante yakin ada sesuatu yang kalian sembunyikan." Icha langsung menyilangkan tangan di dadanya. Dia sangat tidak suka jika dibohongi.


Harry hanya nyengir kuda mendengar apa yang Icha katakan. Dia sudah tidak bisa untuk membela diri. Icha memang selalu peka dengan apa yang terjadi pada anak-anaknya.


"Maaf, Tan! Lebih baik, Tante tahu dari Dave. Aku tidak mau dikatakan mulut ember," kilah Harry.


"Sudahlah, Tante tahu kalau kamu suka sekongkol dengan Dave dari jaman sekolah sampai sekarang sudah sama-sama punya anak. Lebih baik Tante mengajak anak-anak bermain di belakang." Icha langsung menggendong Devanya dan meminta pengasuh Gavin dan Diandra untuk membawanya ke belakang.


Rani hanya diam melongo melihat apa yang dilakukan Icha. Dia bingung harus melakukan apa. Sementara Harry hanya tersenyum dengan apa yang Icha lakukan. Dia mengerti kalau sebenarnya Icha memberikan ruang untuk dia dan istrinya.


"Harry, bagaimana ini? Tante Icha jadi marah. Memangnya ada masalah apa dengan Dave?" tanya Rani cemas.

__ADS_1


"Tidak ada masalah apa-apa. Ayo kita duduk dulu!" Harry langsung merangkul Rani agar duduk bersamanya. Rani pun hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Tante hanya menyuruh kita untuk berduaan, kamu tahu artinya apa? Dia menyuruh kita untuk pacaran seperti ini." Harry langsung mencium pipi Rani sekilas bersamaan dengan Elziio yang baru pulang setelah bertanding basket.


"Ampun deh Bang! Pacaran di depan orang jomblo," sindir Elzio seraya berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


"Baru pulang, Dek? Nanti malam kita tanding, ya!" teriak Harry.


"Siap-siap kalah, Bang!" Elzio pun tak kalah ikut berteriak.


Dave yang sedang tiduran dengan paha Sevia sebagai bantalnya menjadi ikut-ikutan berteriak seperti Tarzan. "Jangan sombong Dude, kalau belum bisa mengalahkan Bang Dave!"


"Dave apa-apaan sih? Malah ikut-ikutan berteriak," tanya Sevia.


"Via, dengar saja pasti ada satu orang lagi yang berteriak dan setelah itu semuanya akan diam!" sahut Dave.


"Gak akan ada Bang, mama lagi di belakang." Tanpa permisi lagi, Elzio langsung masuk ke kamar Dave dan duduk di bawahnya.


"Baru pulang, Dek? Mandi dulu sana!" suruh Dave.


"Aku udah mandi di sana. Bang, pas aku masuk ke rumah, di luar seperti ada orang yang sedang mengawasi rumah ini. Kira-kira mereka suruhan siapa ya?" tanya Elzio.


"Apa, Dek? Apa mereka berwajah Asia atau bule seperti Abang?" tanya Dave kaget.


Elzio melihat ke belakang, melihat dengan seksama wajah Abang angkatnya itu. "Sepertinya mereka satu koloni dengan Abang."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...


Yuk kepoin juga karya keren satu ini!

__ADS_1



__ADS_2