
Pekerjaan yang menumpuk, senior yang judes membuat kedua gadis cantik itu bekerja dengan serius. Mereka sampai tidak sadar Orion datang saat jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Tapi tidak bagi senior yang bernama Kemal, dia langsung menegur Orion dengan keras.
"Kamu anak magang, baru saja hari kedua sudah datang telat. Kamu serius tidak untuk magang di sini?" tanya Kemal ketus.
"Serius, Mas. Tadi pagi aku sudah ijin pada Pak Keano untuk datang telat karena ada halangan," jawab Orion.
"Belagu amat minta ijin pada CEO. Memang kamu siapa sampai berani minta ijin langsung?" tanya Kemal lagi senyum remeh di bibirnya.
"Aku mahasiswa Universitas Internasional Mahardika, kenapa memangnya?" Orion yang mulai terpancing malah balik bertanya pada orang yang terlihat meremehkannya.
"Pantas saja, anak orang kaya memang suka belagu semaunya. Seperti kamu ini, pasti orang tuanya hanya mendidiknya dengan uang."
Bugh!
Baru saja Kemal selesai bicara, bogeman mentah langsung melayang ke wajahnya. Orion tidak terima saat ada orang yang menyalahkan orang tuanya dengan apa yang dia lakukan. Kemal tersungkur mendapat serangan dadakan dari Orion
"Lu bisa hina gue, tapi tidak orang tua gue. Lu memang senior di sini tapi gue bisa membuat lu kehilangan pekerjaan sekarang juga." tunjuk Orion nyalang.
Dia langsung pergi dari ruang marketing. Namun, di saat bersamaan, Orion bertemu dengan Andrea yang mau masuk ke ruang marketing. Setelah Orion menarik dalam napasnya untuk menetralkan emosinya, dia pun langsung menyapa Andrea.
"Opa apa kabar?" sapa Orion dengan mencium punggung tangan Andrea.
"Opa baik, kenapa kamu ada di sini?" tanya Andrea yang kaget melihat cucu besan sekaligus iparnya ada di perusahaannya.
"Ion lagi magang, Opa. Permisi Opa, Ion disuruh beli kopi oleh senior itu," tunjuk Orion pada Kemal yang sedang menunduk di kubik-nya.
__ADS_1
Andrea bertambah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Orion. Akhirnya dia pun ikut melihat ke arah tangan Orion yang sedang menunjuk Kemal.
Apa hubungannya bocah tengil itu dengan Tuan Andrea? Apa dia cucunya? Tapi kan cucu lelakinya yang sudah besar hanya Tuan Keano dan Tuan Elgar, batin Kemal.
"Ya sudah, Opa mau melihat cucu menantu Opa dulu," ucap Andrea seraya berlalu pergi menuju ke ke kubik Devanya.
Sementara Orion, hanya melongo mendengar apa yang Andrea katakan. Mood-nya yang hancur bertambah hancur saat Andrea mengatakan ingin bertemu cucu menantu dan dia berjalan ke arah Devanya. Orion pun langsung pergi menuju roof top perusahaan raksasa itu.
Apa maksud Opa Andrea cucu menantu? Apa dia akan menjadikan Vanya menantu di keluarganya? Apa Bang Ano akan dijodohkan dengan Vanya? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menentang keputusannya. Aku harus mengikat Vanya agar dia memilih berada di sisiku, batin Orion.
Lama Orion berada di roof top perusahaan raksasa itu, dia terus menghisap benda bernikotin yang selalu dia bawa. Namun, hanya sesekali menghisapnya saat perasaannya sedang kacau. Sampai terdengar bel jam istirahat makan siang, dia langsung menghubungi Devanya agar menyusul dan membawa makanan untuknya.
Sementara Devanya yang mendapatkan pesan dari Orion, dia pun hanya bisa mengikuti keinginan lelaki yang menyebalkan itu tetapi selalu membuatnya kehilangan kalau tidak bertemu lama.
"Nggak ah, aku makan di kantin saja. Mau nemuin Ion?" tanya Diandra.
"Iya, dia minta dibawain makan siang ke sana."
"Deva, kamu makan sang sama Ion saja. Sekalian rayu agar kembali kerja. Bagaimana dia dapat nilai kalau kerjanya kayak gitu," saran Diandra.
"Ya udah deh, gak apa-apa kan, kalau aku tinggal?"
"Santai saja. Kan karyawan sini juga banyak yang makan di kantin."
"Sahabat aku ini emang anak yang mandiri," puji Devanya seraya memeluk Diandra dari samping.
__ADS_1
Tuntutan hidup aku harus jadi anak mandiri. Semoga saja Mama bisa sembuh lagi seperti semula, batin Diandra.
Setelah Devanya memesan makanan, dia pun langsung membawanya ke roof top. Nampak di sana Orion sedang berdiri di pinggir pagar pembatas dengan tangan yang menumpu ke pagar. Matanya memandang jauh ke depan melihat gedung-gedung pencakar langit yang berbaris rapi.
"Ion, ini makanannya," ucap Devanya saat dia sudah dekat dengan Orion.
"Makasih," ucap Orion datar lalu membalikkan badannya menghadap Devanya.
"Ayo makan, Ion! Aku juga lapar," ajak Devanya langsung duduk sembarang di lantai pinggir pagar pembatas.
Orion pun langsung mengikuti apa yang Devanya lakukan. Mereka tidak peduli jika nanti celana yang dipakainya kotor. Keduanya pun memakan makanannya tanpa ada yang bersuara. Sampai akhirnya Devanya memulai percakapan.
"Jadi ingat waktu SMU, aku sering pergi ke roof top sendiri saat lagi kesel sama kamu. Aku selalu sembunyi saat kamu datang mencari aku. Sekarang malah aku yang datang saat kamu sedang kesal pada orang."
"Apa kamu mengkhawatirkan aku? Dulu aku mencari kamu, karena aku khawatir. Aku tahu mungkin di mata kamu aku orang yang menyebalkan. Tapi tidak apa, asalkan kamu selalu mengingatku dan tidak menjadikan aku sebagai orang yang transparan. Meskipun ada tapi kamu tidak bisa melihat ke arahku karena selalu terfokus pada Bang Ano."
"Ion ...."
"Kamu tahu Vanya, aku selalu ingin terlihat beda di mata kamu agar kamu lebih mudah mengingat aku."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik Like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1