Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 74 Terpaksa Melepaskan


__ADS_3

Setelah malam itu, benar saja Devanya dan Keano tidak pernah bertemu. Sampai tiba waktunya hari pernikahan mereka, keduanya belum bersua satu sama lain. Bukan apa-apa tapi Keano memang sibuk dengan pekerjaannya. Demi meluangkan waktu untuk pernikahannya, pemuda tampan itu rela lembur setiap hari.


Sementara Devanya disibukkan dengan finishing baju pengantin dan segala printilan untuk pesta pernikahannya. Dia tidak pernah sendiri saat harus pergi ke luar rumah karena Diandra atau Sevia selalu menemaninya ke mana pun dia pergi. Mereka begitu protektif, apalagi Davin telah memberi tahu orang tuanya tentang Devanya yang akan balapan dengan Orion.


"Mama, memang berangkat ke villa jam berapa? Kenapa papa dan yang lainnya belum pulang?" tanya Devanya.


"Sebentar lagi papa pulang. Nanti kita langsung berangkat ke sana," jawab Sevia.


"Apa Tante Rani ikut?" tanya Devanya.


"Tentu saja ikut! Semua orang di rumah ini, kecuali satpam akan ikut semua," jawab Sevia.


"Mah, waktu dulu mama nikah sama papa deg-degan gak?" tanya Devanya dengan menatap lekat mamanya.


"Mama dan papa nikah tanpa rencana karena salah paham," jawab Sevia dengan tersenyum.


Dia jadi teringat saat dulu menikah dengan Dave. Hari-hari yang dia lewati saat mengandung Devanya. Bahkan, saat dia melahirkan anak pertamanya yang tidak didampingi oleh keluarga.


"Apa seperti Davin dan Diandra ya, Mah?" ceplos Devanya


"Maksud kamu Davin dan Diandra? Memang mereka sudah menikah?" tanya Sevia heran.


Mulut kenapa ember gini? Gimana nih malah keceplosan? rutuk hati Devanya.


"Kalau misalkan mereka nikah kaya mama gitu. Nikah gak direncanakan, tahu-tahu di depan penghulu." Beruntung Devanya bisa mengelak dari pertanyaan mamanya.


"Kalau udah nikah, ya mau gimana lagi. Mama tidak bisa menentang kehendak Tuhan. Mereka menikah dengan cara apapun, semua itu pasti sudah menjadi guratan takdirnya."


"Mama pengertian sekali, makin sayang Mama." Devanya langsung mencium pipi mamanya sebelum dia memeluk erat Sang Mama.


Saat keduanya saling berpelukan, Dave datang dengan Harry dan Gavin. Mereka akan berangkat bersama ke villa dengan menggunakan Helikopter yang sudah disediakan oleh Andrea. Melihat anak dan istrinya saling berpelukan, Dave pun ikut-ikutan memeluk keduanya.

__ADS_1


"Papa ikh main peluk-peluk aja!" gerutu Devanya saat merasa pengap karena pelukan papanya.


"Mumpung kamu belum menikah. Papa khawatir, saat kamu sudah jadi istri Ano, dia keberatan jika kamu papa peluk," jelas Dave.


"Papa ...." Devanya langsung memeluk papanya. Ada sedih di hatinya jika harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Meskipun hanya berpindah rumah.


"Semoga kamu bahagia dengan pernikahan ini. Deva, jadilah istri yang baik. Jangan pernah melawan pada suamimu. Untuk saat ini kamu memang milik kami sebagai orang tuamu, tapi setelah ijab kabul nanti, seutuhnya kamu milik suamimu," pesan Dave.


"Iya, Pah!" sahut Devanya dengan suara serak.


...***...


Villa kenangan yang biasanya sepi, hari ini nampak begitu ramai dengan banyaknya keluarga dekat yang akan menghadiri acara pernikahan Keano dan Devanya. Wajah bahagia yang terpancar dari setiap orang yang datang, berbanding terbalik dengan dua orang pemuda yang terlihat tidak bergairah.


Orion dan Gavin yang sama-sama menyimpan perasaan pada Devanya, hanya mampu mengelus dada. Mau tidak mau, mereka harus mengikhlaskan wanita pujaan hatinya berjodoh dengan lelaki lain.


"Ion, apa kamu sudah ikhlas melepaskan Deva?" tanya Gavin saat keduanya sedang menikmati senja dengan melihat hamparan perkebunan teh di belakang villa.


"Sejak kapan kamu merokok? Kamu lebih beruntung dari aku karena pernah memiliki dia meskipun hanya sebentar. Tapi aku, aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Biarlah perasaan ini tersimpan rapi di hatiku," ucap Gavin


"Rasanya lebih sakit, saat kita sudah mengungkapkan perasaan kita tapi ternyata tidak bisa kita miliki seutuhnya. Kamu tahu, Vin. Hanya rokok ini yang mampu membuat aku tenang saat hatiku sedang benar-benar kacau." Lagi-lagi Orion menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


Hatinya terasa perih setiap kali mengingat kisah percintaannya dengan Devanya. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan luka hatinya dengan mencari kesenangan, yang membuatnya bisa sedikit melupakan Devanya.


"Sudahlah, bukankah kata pepatah cinta tak harus memiliki. Yakin saja, Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh untuk kita. Ayo kita masuk! Mataharinya sudah tenggelam," ajak Gavin.


Dua sahabat itu masuk ke dalam villa bersama-sama. Mereka disambut oleh Davin dan Devan yang sedang berbincang di ruang tengah. Sedangkan Devanya dan para wanita cantik lainnya sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan hidangan makan malam.


"Deva, lebih baik istirahat saja di kamar. Biar Oma dan yang lainnya yang menyiapkan makan malam," suruh Mitha pada calon cucu menantunya.


"Iya, sayang. Istirahat saja, nanti minta ditemani sama Diandra. Calon pengantin tidak boleh kelelahan, apalagi besok setelah akad nikah di sini langsung resepsi. Pasti butuh tenaga ekstra untuk menyambut tamu," timpal Allana.

__ADS_1


"Dian, tolong temani Deva! Kalian istirahat saja di atas. Biar ini ibu-ibu cantik yang menghidangkan," seloroh Sevia dengan tersenyum.


"Iya benar, kalian istirahat saja. Nanti turun saat jam makan malam," timpal Icha.


"Ya udah Deva ke atas dulu Oma, Nenek, Mommy, mama, yuk Dian!" ajak Devanya setelah mengabsen satu persatu wanita-wanita hebat yang disayanginya. Sedangkan Diandra hanya tersenyum tipis dengan mengikuti tarikan tangan Devanya.


Beruntung sekali menjadi Devanya. Memiliki keluarga yang utuh. Calon suami yang nyaris sempurna. Ditambah lagi, keluarga suaminya yang begitu baik. Semoga saja, keberuntungannya menular padaku, batin Diandra.


Saat keduanya sudah tiba di kamar yang mereka tempati, Devanya langsung menuju ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya sebelum ikut jamuan makan malam keluarga. Namun, saat dia baru keluar dari kamar mandi, jantung gadis itu mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya karena mendapati Orion sedang tertidur di kamar itu.


"Ion kenapa tidur di sini? Cepat keluar sebelum ada yang melihat," suruh Devanya. Beruntung tadi sempat membawa baju ke kamar mandi sehingga saat keluar, dia sudah berpakaian rapi.


"Kenapa kamu takut, Vanya? Bukankah kita sudah biasa berada dalam satu kamar?" tanya Orion dengan tersenyum miring.


"Kamu jangan gila, Ion! Besok aku akan menikah," seru Devanya.


Diandra ke mana? Kenapa dia bisa masuk ke kamar? Bagaimana kalau semua orang salah paham? panik Devanya dalam hati.


"Aku tahu, bukankah besok kamu menikah. Berarti hari ini kamu masih jadi wanita bebas yang belum terikat oleh pernikahan. Lagipula, aku hanya ingin memberikan salam perpisahan pada mantan simpananku." Orion bangun dari tidurnya. Lalu berjalan mendekat ke arah Devanya.


Namun, di saat yang bersamaan, pintu kamar ada yang membuka dari luar. Dengan segera Orion bersembunyi di balik tirai. Bukan apa-apa, dia tidak ingin hubungannya dengan Keano dan keluarga besarnya menjadi jelek jika mereka memergokinya sedang menggoda Devanya.


...~Bersambung ~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil menunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin juga karya Author yang keren ini!


__ADS_1


__ADS_2