
.Hari pun telah berganti, kini Sevia dan Dave sudah kembali ke kota industri. Hari-hari Sevia dia sibukkan dengan bekerja dan kuliah, begitupula dengan Dave yang setiap hari terpaksa harus lembur karena mau mengambil cuti untuk menghadiri pesta pernikahan Harry. Sebenarnya Sevia ingin ikut kembali ke kota Gudeg. Namun, dia harus menghadapi ujian tengah semester sehingga Sevia pun mengurungkan niatnya.
Sehari sebelum keberangkatan Dave, Sevia terlihat tidak bersemangat. Entah kenapa, rasanya dia ingin selalu bersama dengan suaminya. Dia merasa berat saat akan ditinggalkan oleh Dave ke kota gudeg.
"Via, apa sudah kamu siapkan baju untukku?" tanya Dave saat keduanya sedang sarapan.
"Sudah ada di koper kecil," jawab Sevia seraya menikmati roti sandwich.
"Kenapa, kelihatannya lesu banget? Paling aku dua malam di sana. Jum'at pagi pasti sudah kembali," ucap Dave.
"Dave, boleh gak kalau nanti aku kangen sama kamu?" tanya Sevia dengan menatap lekat suami brondongnya.
"Tentu saja boleh! Aku kan suami kamu," sahut Dave.
Saat Sevia akan bicara lagi, terdengar suara bunyi bel di depan pintu. Sevia pun segera beranjak untuk membuka pintu. Namun, saat pintu sudah terbuka lebar, dia menjadi tertegun karena ada seorang gadis cantik bak model yang berdiri di depan pintu. Rambut yang berwarna coklat dan iris mata hazel membuat Sevia terpesona dengan kecantikan gadis yang ada di depannya.
"Via, katakan pada Harry sebentar aku ke toilet dulu," teriak Dave.
Mendengar suara Dave yang berteriak, gadis cantik itu pun tersenyum. Dia senang karena akan bertemu lagi dengan kekasihnya. Namun, dia merasa heran ketika melihat ada seorang gadis di apartemen Dave
"Apa kamu pembantu, Dave?" tanya gadis itu pada Sevia.
"Aku ...." Belum selesai Sevia bicara, gadis cantik itu sudah memotong pembicaraan Sevia.
__ADS_1
"Sudahlah, aku mengerti! Aku Katherine Aslan kekasihnya Dave. Bisa aku masuk? Kamu menghalangi jalanku," potong Katherine.
Sevia pun langsung memberi jalan pada gadis cantik itu. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan kekasih suaminya. Melihat kecantikan dan body gadis yang ada di depannya, membuat dia menjadi tidak percaya diri. Dia pun langsung menuju ke dapur menyiapkan minum untuk tamunya. Setelah semuanya siap, Sevia berniat untuk membawa minuman itu ke depan. Namun, langkah kakinya tertahan saat melihat Dave sedang berpelukan dengan gadis itu. Dia pun menyimpan kembali minumannya di meja makan dan langsung berlalu menuju ke kamar untuk mengambil tas.
Sementara itu, Dave merasa kaget dengan kedatangan Katherine ke apartemennya. Seingatnya, dia tidak pernah memberitahukan alamat apartemennya pada Katherine. Karena hanya keluarganya yang tahu alamat apartemen Dave di kota industri.
"Kattie, kapan kamu datang?" tanya Dave setelah Katherine mengurai pelukannya.
"Aku kemarin tiba di sini," jawab Katherine dengan tersenyum manis.
"Sebaiknya kamu pulang, aku mau berangkat kerja!" usir Dave dengan matanya melihat pada jam tangan yang melingkar di tangan.
"Dave, apa kamu tidak merindukanku? Merindukan kebersamaan kita. Aku sangat merindukanmu, Dave! Merindukan setiap sentuhan kamu," tutur Katherine.
Serasa susah bernapas, dada Sevia mendadak sakit. Saat tidak sengaja dia mendengar apa yang Katherine katakan. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaannya dengan berlalu begitu saja di depan Dave dan Katherine. Melihat Sevia yang pergi begitu saja, Dave pun ingin mengejarnya. Namun, Katherine segera menahan tangan pria bermata biru itu agar tidak mengejar gadis yang dianggapnya sebagai pembantu Dave.
"Sudahlah, Dave! Biarkan saja dia pergi, mungkin pembantu kamu malu melihat kemesraan kita," ujar Katherine.
"Apa katamu, pembantu? Dia istriku Kattie! Kamu datang ke sini hanya untuk mengacaukan hidupku," seru Dave.
"Aku tidak percaya kamu sudah menikah! Mr. Andrea tidak pernah mengatakan apapun soal pernikahanmu. Stop membohongiku, Dave!" sanggah Katherine.
"Sudahlah! Ayo keluar, aku mau berangkat kerja." Dave langsung menarik tangan Katherine untuk keluar dari apartemennya.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku membuktikan padanya kalau aku sudah menikah, sedangkan surat nikah saja tidak punya.
"Dave, kenapa kamu kasar sekali? Tanganku sakit!," keluh Katherine.
Dave langsung menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu apartemen Harry. Tak lama kemudian, Harry membuka pintu dengan setelan jas siap kerja. Dia pun langsung tersenyum menyambut kedatangan Dave dan Katherine.
"Di dalam ada Bram, apa kamu ingin bertemu dengannya dulu?" tanya Harry.
"Jadi, dia datang bersama dengan si kunyuk?" Dave langsung menerobos masuk untuk menemui sahabatnya. Dia sangat geram karena Bram membawa Katherine ke Indonesia.
"Sialan kamu, Bram! Kenapa kamu membawa dia?" tanya Dave dengan menunjuk Katherine.
"Sorry, Dave! Dia ingin ikut saat tahu aku akan pulang untuk menghadiri pernikahan Harry." Bram pun menyatukan kedua telapak tangannya untuk meminta maaf pada Dave.
"Sudahlah! Kamu urus dia, aku dan Harry akan berangkat kerja." Dave pun langsung pergi dari apartemen Harry meninggalkan Bram dan Katherine, yang langsung diikuti oleh Harry.
"Dave, apa kamu tidak merindukan aku?" teriak Bram saat melihat sahabatnya berlalu pergi.
Bukannya menjawab, Dave malah melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Bram hanya menghela napas dalam, saat menyadari kesalahannya karena telah membawa Katherine bersamanya.
"Kamu lihat Kattie! Dave sudah berubah, sebaiknya kamu menyerah. Lagipula, kenapa dulu kalian berpisah kalau kamu masih mencintai dia?" tanya Bram.
"Karena aku pikir dia tidak normal. Kamu tahu, dia menolak saat aku ajak bercinta. Aku pikir, dia memiliki hubungan khusus, lebih dari sahabat dengan Harry. Ternyata aku salah, saat aku tahu Harry akan menikah dengan seorang gadis. Makanya aku ingin kembali bersama dengan Dave."
__ADS_1
...~Bersambung~...