Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 91 Foto Bersama


__ADS_3

Kemeriahan pesta pernikahan Diandra dan Davin, sangat berbanding terbalik dengan keadaan seorang pria dewasa di belahan bumi yang lain. Sungguh, Harry tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus tertuju pada pesta pernikahan putri angkatnya. Meskipun memang benar dia bukan ayah kandung Diandra, tetapi hatinya sangat sakit saat Rani tidak memberitahunya.


"Rani, apa pintu maaf kamu sudah tertutup untuk aku? Apa sekarang, aku hanya orang lain untuk kamu? Aku memang salah, aku sangat-sangat menyesali dengan apa yang sudah aku lakukan," gumam Harry.


Harry mencari ponselnya dan berniat untuk menelpon Rani yang masih berstatus istri sahnya. Meskipun Rani kerap kali meminta berpisah padanya, tetapi Harry tetap tidak mau menceraikan istrinya.


Tut ... Tut ... Tut ...


Panggilan teleponnya selalu saja tidak terangkat oleh Rani. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan angka dua belas. Dia yakin kalau di negaranya sekarang sudah jam dua belas siang karena perbedaan waktunya memang dua belas jam.


Harry pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dave. Saat panggilan teleponnya tersambung. Dia begitu bersemangat untuk menanyakan acara pernikahan Diandra dan Davin.


"Hallo, Dave! Bagaimana acaranya? Apakah lancar?" tanya Harry.


"Alhamdulillah lancar, kamu belum tidur Bro?" tanya Dave yang melihat lingkaran hitam di mata sahabatnya.


"Aku tidak bisa tidur. Seandainya kamu tidak melarang aku untuk pulang, mungkin sekarang aku sudah ada di sana."


"Sebentar, aku cari tempat aman dulu."


Terlihat di layar ponselnya, Dave menjauh dari keramaian pesta pernikahan putranya. Sahabatnya itu langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan peredam suara agar pembicaraannya dengan Harry tidak terdengar oleh orang lain.


"Hallo, Harry! Masih belum tidur?" tanya Dave dengan melihat ke layar ponselnya.


"Bagaimana aku bisa tidur, kalau aku tidak bisa melihat acara pernikahan putriku. Kamu tahu Dave. Hatiku sangat sakit karena Rani menganggap aku sebagai orang lain. Sedikitpun dia tidak memberitahu aku tentang pernikahan Dian. Kamu tahu, aku merasa menjadi seorang Daddy yang tidak berguna." cerocos Harry.


"Meskipun aku hanya ayah sambungnya, tapi aku sangat menyayangi Dian seperti putriku sendiri. Apa Gavin juga tidak diberitahu tentang pernikahan adiknya?" lanjutnya.


"Aku tidak tahu, karena yang merencanakan semua ini, Rani dan istriku. Aku hanya tahu beres. Tapi yang aku lihat, mantan mertua Rani juga datang menjadi wali nikah Dian dan Davin."


"Dave, apa yang harus aku lakukan agar Rani bisa menerima aku kembali? Kepalaku terasa mau meledak setiap kali menemuinya. Dia terus saja meminta aku untuk melepaskannya," keluh Harry


"Buat dia mengandung anakmu. Cinta kalian sedang diuji karena tidak ada penguat di dalamnya. Coba waktu itu kamu tidak menyuruh Rani untuk memakai alat kontrasepsi. Mungkin kalian sudah memiliki anak dari hasil pernikahan kalian karena Dian dan Gavin kan dari pasangan yang berbeda."


"Aku takut, dia pergi meninggalkan aku. Seperti Nadine yang meninggalkan aku setelah dia melahirkan."

__ADS_1


"Kamu bodoh Harry! Rani dan Nadine dua pribadi yang berbeda. Seharusnya kamu menyadari itu atau kamu sengaja melakukan hal itu dengan Anne, agar kalian memiliki anak," tebak Dave.


"Tidak, Dave! Anne adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."


Saat keduanya sedang asyik berbincang, terdengar pintu kaca mobil Dave ada yang mengetuk. Pria bermata biru itu pun langsung melihat ke luar jendela. Nampak di sana Gavin berdiri menghadap ke arahnya.


"Harry, sudah dulu ya! Sepertinya aku dipanggil untuk kembali ke sana," ucap Dave menutup teleponnya.


Dave pun langsung ke luar mobil untuk menemui Gavin yang sedang menunggunya. "Iya, Vin. Kenapa? Kapan kamu datang?"


"Barusan Om. Tadi disuruh Tante Via untuk memanggil Om. Katanya mau foto bersama," jawab Gavin.


"Ya ampun, Via! Orang baru saja datang sudah disuruh-suruh," keluh Dave seraya keluar dari mobilnya.


"Gak apa, Om!" Gavin pun tersenyum manis dan langsung mengikuti langkah kaki Dave.


Setibanya di pelaminan, benar saja kalau semua orang sedang menunggu kedatangannya. tadi saat Dave menyelinap menjauh dari keramaian, sebenarnya mereka sedang bersiap untuk berfoto bersama. Dave pun langsung mengambil posisi disamping Sevia dan merangkul pinggang istrinya dengam mesra.


Meskipun, dia sudah tidak muda lagi. Tetapi Dave selalu bersikap mesra pada istrinya baik di depan umum ataupun di atas tempat tidur. Baginya, Sevia adalah sumber kebahagiannya.


"Aku?" tanya Keano dengan menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya, Tuan. Seperti Tuan bule itu. Pengantin Pria juga, rangkul istrinya dengan mesra."


Tanpa bicara lagi, Keano pun menuruti apa yang fotografer itu katakan. Yang sukses membuat pipi Devanya langsung merona. Gadis bermata biru itu belum terbiasa memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum.


"Kami bagaimana?" tanya Orion, Devan dan Gavin.


"Yang jomblo bisa berjongkok saja di depan pengantin," jawab fotografer itu dengan cueknya.


"Kalian saja, Ion, Devan, aku mau berfoto di samping mamaku. Hitung-hitung pengganti Daddy yang gak bisa datang," ucap Gavin seraya merangkul Rani.


Aku lupa tidak memberitahu Harry. Apa dia akan marah karena tidak aku beritahu. Maafkan aku Harry, meskipun aku tahu kalau kamu sangat menyayangi Dian. Tetapi, sebaiknya kita mulai saling menjauh. Agar terbiasa saat nanti kita benar-benar berpisah, batin Rani.


"Terima kasih, Vin. Kamu sudah menyempatkan datang. Kata Dave, akhir-akhir ini kamu selalu sibuk. Apa ada pekerjaan lain selain pekerjaan kantor?" tanya Rani lembut.

__ADS_1


Saat Gavin akan menjawab pertanyaan mama sambungnya, terdengar fotografer mulai menghitung mundur untuk mengambil foto keluarga. Hingga akhirnya, beberapa pose diambil untuk kenang-kenangan.


...***...


Pesta pun telah usai, keluarga Sky sudah kembali ke ibu kota. Hanya Davin, Dian dan Rani yang tertinggal di kampung halaman. Pengantin baru itu nampak malu-malu di depan keluarga Diandra. Apalagi, saat Nenek Encas memberikan beberapa pertanyaan pada Diandra dan Davin.


"Dian, apa sebelumnya kamu pernah melakukan hubungan badan dengan suami kamu sebelum menikah? Kenapa aku melihat, mukamu sangat pucat?"


"Anu, Nek! Aku ... Aku mungkin kelelahan karena sepulang kerja langsung pulang kampung," jawab Diandra.


"Kamu yakin? Bukan karena kamu sedang hamil kan?" tanya Encas dengan menyelidik.


"Ibu sudah! Kita baru saja bertemu dengan cucu kita. Kenapa harus bertanya seperti itu?" Husen langsung menegur istrinya.


"Ya sudah, kita langsung pulang saja. Oh iya, mana uang sisanya? Dian coba suruh mama kamu ke mari! Nenek mau pulang."


"Iya, Nek sebentar!" Diandra langsung pergi masuk ke dalam rumah dan mencari mamanya. Saat sudah menemukan, dia pun langsung mengatakan tentang neneknya yang akan pulang.


Mendengar apa yang putrinya katakan, Rani pun segera masuk ke dalam kamar dan mengambil cek yang diberikan Sevia padanya untuk membayar uang perwalian. Dia menghela napas dalam sebelum menemui mantan mertuanya itu.


Mas Diwan, kenapa ibu sangat jauh berbeda denganmu? Sifat kamu dan sifat ibu sangat bertolak belakang. Terkadang aku berpikir kalau kamu sebenarnya bukan anak kandung ibu, batin Rani.


Setelah Rani memberikan cek pada mantan mertuanya, mereka pun langsung berpamitan. Namun, sepertinya mulut pedas Encas belum puas untuk membuat mantan menantunya itu sakit hati dengan ucapannya.


"Rani, apa kamu tidak bisa mendidik anak? Masa anak kamu hamil sebelum menikah. Lihat saja wajahnya pucat begitu. Pasti dia sedang hamil muda," ucap Encas sebelum dia pulang.


"Ibu, apa Ibu belum puas menghina aku. Dulu aku dibilang wanita mandul, pembawa sial yang tidak pantas menjadi istri anak ibu. Sekarang, dengan entengnya ibu memfitnah Dian." Rani menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Asal Ibu tahu, meskipun dia sekarang hamil tapi dia hamil setelah menikah di bawah tangan. Karena waktu itu, Dian tidak tahu kalau kakeknya masih hidup. Terima kasih Pak sudah menjadi wali Dian. Untuk kedepannya, anggap saja kita orang asing yang tidak pernah saling mengenal."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2