
Kegundahan Devanya sangat berbanding terbalik dengan orang tuanya. Dave dan Sevia kini sedang memadu kasih, meluapkan semua hasrat yang bergelora di jiwa. Meskipun kini mereka sudah tidak muda lagi, tetapi Dave masih memiliki tenaga extra untuk membuat istrinya melenguh kenikmatan sepanjang malam. Apalagi, saat mereka tahu kalau anak-anaknya sedang pergi karaoke. Kesempatan itu Dave gunakan untuk menggempur istrinya sedari petang.
"Ah ... Sayang. Aku ingin pipis," erang Sevia di bawah kungkungan Dave.
"Ayo kita keluarkan bersama-sama!" ajak Dave.
Setelah keduanya melenguh panjang, Dave pun akhirnya ambruk di tubuh istrinya. Setelah semua semua mayonaise itu keluar semua, barulah Dave berpindah tidur di samping istrinya. mereka bersihkan sisa-sisa percintaannya dengan tissue basah karena merasa malas beranjak dari tempat tidur.
"Sayang kita istirahat dulu! Nanti kita lanjutkan lagi, mumpung anak-anak tidak ada," ucap Dave dengan mengecup kening Sevia.
"Dave, apa kita tidak terlalu jahat dengan memaksakan Deva agar menerima pertunangan itu. Aku merasa, akhir-akhir ini putri kita sering murung," ucap Sevia.
"Itu tidak akan lama, Via. aku yakin, Ano bisa mengayomi Deva dan yang terpenting, keluarga Ano yang meminta Deva untuk menjadi menantunya."
"Entah kenapa, aku merasa Deva dan Ion sedang menjalin hubungan asmara. Sudah lama tidak mendengar Deva mengeluh karena selalu diganggu Ion."
"Kalau pun benar, aku akan tetap menerima pinangan Om Andrea. Aku tidak mau Deva mengalami nasib yang sama dengan Zee," ucap Dave.
"Memang Zee kenapa? Bukankah dia bahagia bersama suaminya?" tanya Sevia dengan tangannya yang mengelus lembut dada berotot Dave.
"Itu yang terlihat dari luar, tapi tidak dari dalam. Dia sering mengeluh dengan sikap Tuan Zidan padanya." Dave meminum air yang dia simpan di atas nakas hingga habis tak bersisa.
"Malvin memang bisa menerima Zee dan selalu perhatian pada istrinya. Tapi Zee selalu mendapatkan perlakuan tidak enak dari mertuanya. Om Zidan terlalu perfeksionis, kalau ada yang salah pada anak-anak Zee ataupun pada Zee, pasti Zee yang selalu kena amarahnya." Dave menghela napas dalam sebelum dia melanjutkan ceritanya.
"Sebenarnya, aku sudah menyuruh dia untuk pulang ke tanah air dan menjalankan perusahaan Putra Group bersama dengan Elzio. Tapi Zee tidak bisa meninggalkan Malvin. Dia sangat mencintai suaminya," beber Dave.
"Lagipula, Ion sudah dijodohkan dengan cucu sahabat Om Zidan. Mungkin menunggu Ion cukup umur, baru akan diresmikan."
Sebenarnya aku tahu kalau Devanya dan Orion sedang menjalin hubungan diam-diam di belakangku. Makanya aku langsung menerima usulan Om Andrea agar secepatnya menyatukan Keano dan putriku. Aku tidak ingin Deva merasa terpuruk karena keluarga papanya Orion terlalu mengutamakan babat bobot bebet, batin Dave.
"Semoga saja pilihan kita tepat untuk Deva," ucap Sevia.
__ADS_1
...*...
Seminggu sudah Devanya dan Orion tidak saling bertemu. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Begitupun dengan Diandra yang memilih mencari kerja sendiri dibandingkan mendapatkan rekomendasi dari keluarganya.
Pagi ini, Devanya nampak malas-malasan di tempat tidurnya. Rasanya dia enggan turun dari peraduannya. Perutnya yang terasa sakit melilit, membuat dia memilih untuk tiduran.
Sementara Diandra sudah cantik dengan kemeja putih dan rok span hitamnya. Dia akan melamar pada perusahaan baru yang belum lama ini dibuka. Dia pun masuk ke kamar Devanya untuk berpamitan.
"Deva, aku cari kerja dulu ya! Do'akan agar aku secepatnya dapat kerja," pamit Diandra.
"Dian, kenapa gak kerja di perusahaan Ion atau Bang Ano. Mereka pasti mau bantu kamu," saran Devanya.
"Aku ingin mandiri. Gak mau nyusahin orang lain terus," ucap Diandra.
"Dian tolong suruh Bu Ijah bawakan sarapan ke atas, perutku sakit. Mana mama sama papa lagi liburan," keluh Devanya.
"Siap Tuan putri, aku berangkat ya!" Diandra pun langsung pergi dari kamar Devanya.
Setelah kepergian Diandra, Devanya langsung merebahkan kembali badannya. Dia terus memegang perutnya yang sakit. Sampai-sampai tidak menyadari ada seseorang yang sudah berdiri dengan nampan di tangannya.
Setelah dia menyimpan nampan yang dibawanya di atas nakas, Keano pun duduk di tepi tempat tidur. Dia pun menempelkan tangannya di dahi Devanya lalu berkata, "Deva, sarapan dulu!"
Devanya langsung membuka matanya dan begitu terkejut melihat Keano sudah duduk di tepi tempat tidurnya. "Abang gak kerja?"
"Kerja, Abang hanya mampir. Ternyata kamu sakit. Ayo sarapan dulu, nanti minum obat!" suruh Keano.
Devanya hanya menurut, dia sarapan meskipun tidak berselera karena perutnya sakit. Setelah habis setengahnya, Devanya pun menghentikan sarapannya. Dia langsung ke toilet karena ada sesuatu yang memaksa ingin dikeluarkan.
Sementara Keano langsung melongo sepeninggal Devanya. Dia sangat kaget melihat ada darah di atas seprei.
"Deva sakit apa? Kenapa dia berdarah? Apa ada yang menusuknya dari bawah tempat tidur?" gumam Keano.
__ADS_1
Keano pun langsung bangun dari duduknya. Dia membungkukkan badannya melihat ke bawah. Namun, dia tidak menemukan apa-apa selain sebuah kotak. Penasaran karena tidak menemukan apapun dari tempatnya, Keano pun langsung melihat bawah tempat tidur Devanya dari berbagai sisi. Sampai akhirnya, Devanya keluar dari kamar mandi dengan mengerutkan keningnya melihat apa yang Keano lakukan.
"Abang sedang apa jongkok begitu? Apa koin Abang jatuh ke bawah tempat tidurku?" tanya Devanya.
"Tidak, Abang sedang mencari orang yang sudah menusuk kamu dari bawah sampai berdarah." terang Keano.
"Siapa yang sudah menusuk aku?" Devanya menjadi bingung dengan ucapan Keano karena merasa tidak ada yang menusuknya.
"Itu di seprai kamu ada darah, pasti tadi ada yang menusuk kamu dari bawah makanya kamu lari ke kamar mandi," jelas Keano.
"Apa??? Darah di seprei aku???" pekik Devanya kaget dengan muka yang langsung memerah karena kaget.
"Iya."
"Abang jangan lihatin darah itu, aku ke toilet dulu."
Memalukan! Bisa-bisanya aku tembus ketahuan Bang Ano. Dikira aku ditusuk lagi. Kenapa Bang Ano polos banget gak tahu kalau itu darahku karena datang bulan? gerutu Devanya dalam hati.
Devanya langsung mencari stok pembalut yang dia simpan di tempat biasa dia menyimpannya tapi ternyata, tidak ada stok satu pun.
"Minta tolong Bang Ano buat beliin di minimarket, dia mau gak ya? Pasti Mbak yang kerja di rumah ini sedang ke pasar di jam-jam segini. Diandra udah berangkat lagi," gumam Devanya.
"Deva, kamu gak papa?" tanya Keano di balik pintu kamar mandi.
"Bang, aku minta tolong! Beliin aku pembalut!" teriak Devanya di dalam kamar mandi.
"Pembalut apaan?" tanya Keano tidak mengerti.
"Abang berangkat aja dulu! Nanti aku kirim pesan nama merek dan jenisnya."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....