
Di sebuah rumah mewah milik Keluarga Winata, nampak seorang gadis cantik yang sedang memarahi pengawalnya. Pasalnya mereka tidak ada yang berhasil mengorek informasi sedikit pun tentang keberadaan Malvin. Bahkan orang yang di suruh mengintai rumah Keluarga Putra, dan mengikuti Dave datang dengan kondisi babak belur menghadap ke nona mudanya.
"Kenapa kalian begitu bodoh! Bukankah kalian sudah terlatih selama ini? Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menemukan calon suamiku?" sentak Mona.
"Maafkan kami, Nona! Sepertinya mereka memiliki pengawal yang profesional," ucap salah satu pengawal yang sudah babak belur.
"Aku tidak percaya, pengawal yang terlatih pilihan Ayah bisa dikalahkan dengan mudah. Sebenarnya siapa yang sudah melindungi Keluarga Putra," gumam Mona.
"Nona sepertinya telah terjadi hal besar di keluarga itu. Saya melihat Keluarga Putra telah diculik tadi malam." Lapor salah satu pengawal.
"Kalau begitu, berarti Malvin tidak mungkin bersama mereka. Tapi siapa yang telah melakukannya? Aku tidak peduli dengan penculikan itu, sekarang kalian cari lagi dengan benar. Aku tidak mau tahu, kalian harus bisa menemukan calon suamiku, Malvin. Kalau ada yang berhasil menemukannya, aku akan memberi hadiah yang besar." Mona langsung beranjak pergi, kepalanya langsung terasa berdenyut karena keinginan hatinya tidak dapat terpenuhi.
Kenapa Nona bersusah payah mencari lelaki itu? Padahal, aku tidak kalah tampan dengannya. Apa yang harus aku lakukan agar mengubah haluan Nona sehingga dia bisa melihat ke arahku, batin Rado, salah satu pengawal pribadi Mona.
Sementara di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, Dave dan yang lainnya sedang berada di ketinggian 3000 kaki diatas permukaan laut. Sekarang mereka dalam perjalanan menuju ke kota Shanghai. Acara liburan yang awalnya hanya Keluarga Putra saja, kini bertambah meriah dengan adanya Andrea dan kelurganya yang ikut serta. Sebenarnya bukan acara liburan yang benar-benar liburan, karena Andrea dan Dave akan bertemu dengan klien dari sana untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan besar yang tertarik pada game virtual yang dirancangnya.
Sevia yang memang belum terbiasa naik pesawat, sedari tadi dia tertidur karena kepalanya pusing, sehingga Bi Lina yang menjaga Devanya. Meskipun dia hanya seorang pembantu rumah tangga, tapi Bi Lina sudah terbiasa naik pesawat karena sering diajak berlibur oleh Keluarga Putra.
"Via masih pusing kepalanya?" tanya Dave merasa khawatir pada Sevia.
"Masih, Dave!" keluh Sevia.
"Sini aku pijitin," Dave dengan telaten memijat kepala Sevia leher sampai ke bahunya. Merilekskan saraf-saraf yang menegang. Namun, sepertinya tukang pijat plus-plus dadakan tidak merasa puas jika hanya bagian itu saja yang dia pijat sehingga salah satu tangannya merambah ke area depan yang sensitif.
"Dave, yang benar apa?" gerutu Sevia.
__ADS_1
"Ini sudah benar sayang, sebaiknya kita pergi ke kamar saja. Tapi sayang kamarnya sedang dipakai oleh pemiliknya," keluh Dave.
"Memang di pesawat ini ada kamar tidurnya?" tanya Sevia heran.
"Ada, Devanya juga tidur di sana dengan Bi Lina dan anak-anaknya Kak Allana. Sedang dua kamar yang lainnya sudah dipakai oleh Om Al dan Om Andrea. Pasti mereka sedang berpetualangan mendaki bukit di atas awan. Via, do'akan suamimu agar bisa beli jet pribadi. Aku juga ingin merasakan mendaki bukit di atas awan." Dave yang tanpa sengaja pernah memergoki Al habis mantap-mantap dengan tantenya, pikirannya jadi travelling.
"Kamu ih pikirannya ke sana terus, Dave. Memang kamu lepas perjaka umur berapa tahun?" tanya Sevia yang jadi penasaran.
"Perjakaku direnggut oleh tante mesuum pas umurku masih 21 tahun. Kamu tahu, dia begitu tergila-gila padaku. Sampai setiap malam dia meminta jatah. Aku sih pasrah saja soalnya permainan dia bikin aku mabuk kepayang. Aku juga gak nyangka kalau tante mesuum itu menebar racun di pikiranku sehingga aku menjadi candu dan ingin mengulanginya lagi dan lagi," cerocos Dave yang sukses membuat mata Sevia langsung membulat.
"Bukan aku yang memulai, Dave! Tapi kamu yang meminta hak padaku," sungut Sevia.
"Memang begitu ya? Aku kho lupa, coba kita ulangi lagi kejadiannya seperti apa." Dave mengerlingkan matanya nakal, dia senang sekali menggoda istrinya.
"Masa sih? Perasaan aku orangnya kalem, coba tanya sama tante dan Zee mereka pasti bilang hal yang sama," elak Dave.
"Tanya apa Dave?" tanya Icha yang baru keluar dari kamar denegan rambut yang setengah basah.
Berarti benar apa yang dibilang oleh Dave, kalau om dan tantenya habis .... Batin Sevia.
"Nggak kho, Tan! Tadi Via gak percaya kalau aku orangnya kalem." Dave langsung mengurai kekagetannya karena pembicaraan absurd dia terdengar oleh tantenya.
"Oh, Dave memang kalem kalau di depan Tante. Tidak tahu kalau di depan kamu, pasti dia manja banget ya," tebak Icha.
"Iya, Tan!" jawab Sevia.
__ADS_1
"Berarti Dave percaya sama kamu sepenuhnya. Hanya kamu yang bisa membuat dia jadi dirinya sendiri." Icha tersenyum manis pada Sevia sebelum dia beranjak pergi karena tujuannya untuk mengambil minum.
"Benar apa yang tante bilang, Via. Hanya kamu yang bisa membuat aku bisa jadi diriku sendiri. Tetaplah di sisiku, apapun yang akan terjadi nanti." Tanpa sungkan, Dave mencium bibir Sevia sekilas sehingga pipi Sevia menjadi merona saat tanpa sengaja matanya melihat ada beberapa pasang mata yang sedang melihatnya.
"Dave, aku malu!" Sevia langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Dave, istrimu malu. Sebaiknya kamu bersabar sampai pesawat ini mendarat di mansion kakekku," ledek Elvano dengan merangkul mesra istrinya.
"Benar tuh, Dave. Aku tidak menyangka adik kecilku bisa jadi seperti ini," timpal Joen yang duduk tidak jauh dari Elvano.
Dave hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan candaan dua orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu. Sementara Sevia semakin menundukkan kepalanya malu. Untung saja Allana yang sedari tadi hanya memperhatikan ikut membela Sevia karena terlihat pipinya sudah merona karena malu.
"Bang El tuh kaya gak pernah gitu aja. Bahkan Bang El lebih parah dari Dave dan Bang Joen aku sarankan cepat cari kakak ipar, biar bisa merasakan apa yang Dave rasakan sekarang," bela Allana.
Sampai akhirnya perjalanan yang memakan waktu kurang lebih lima jam itu tiba di mansion Tuan Lee Ji Sung dengan selamat. Sebuah mansion yang Andrea dapatkan dari kakeknya.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga," ucap Sevia saat dia sudah berada di kamar bersama putrinya, sedangkan Dave sedang pergi entah kemana bersama dengan bosnya.
Memang enak ya jadi orang kaya, semua serba ada dan serba tersedia. Tapi ternyata, mereka juga bekerja dengan keras. Bahkan di saat katanya acara liburan, Dave masih harus bekerja seperti tidak ada lelahnya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1