
Mentari pagi telah menyapa. Membawa harapan pada setiap insan yang mengaguminya. Devanya yang sudah siap dengan baju pengantinnya, nampak sedang duduk dengan memandang jauh ke luar jendela.
Sungguh perasaan Devanya saat ini sedang tidak karuan. Apalagi, saat dia teringat dengan pesan yang Orion kirimkan padanya semalam. Membuat di berpikir yang tidak-tidak.
Bagaimana jika Bang Ano membatalkan pernikahan ini? Apa yang harus aku lakukan? Papa pasti akan sangat kecewa padaku jika dia tahu kalau semua itu salahku, batin Devanya.
Sekali lagi Devanya membuka ponselnya dan membaca pesan dari Orion.
Orion : [Vanya, kamu tahu, Bang Ano marah padaku. Dia bahkan meninju aku. Padahal, aku ke kamar kamu karena ingin mengucapkan salam perpisahan. Betapa posesifnya calon suami kamu. Apa kamu akan bertahan dengan suami yang seperti itu? Jika Bang Ano meninggalkanmu atau menyakiti kamu karena cemburu, datang saja padaku. tangan aku akan selalu terbuka untukmu.]
Devanya menarik napas berkali-kali lalu menghembuskan-nya. Dia terus meyakinkan diri kalau Keano tidak akan pernah meninggalkan dia. Sampai terdengar suara mamanya yang membuyarkan lamunan gadis itu.
"Sayang, kenapa melamun? Pengantin tidak boleh melamun ataupun sedih di hari pernikahannya. Ayo kita turun ke bawah! sebentar lagi acara ijab kabulnya akan dimulai," ucap Sevia.
"Mah, apa Bang Ano jadi menikahi aku?" tanya Devanya dengan menatap wajah cantik mamanya.
"Tentu saja! Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Sevia heran.
"Tidak apa, Mah!" elak Devanya.
"Ayo Dian!" ajak Sevia pada Diandra yang dia dapati sedang melamun sama seperti putrinya.
"I-iya, Tan!" sahut Diandra gugup.
Ketiga wanita cantik itu turun ke lantai bawah dengan Devanya yang berada di tengah. Pengantin wanita yang tampak anggun itu di apit oleh mama dan sahabatnya. Semua orang memandang takjub saat Devanya menuruni tangga.
Bagaimana tidak, pengantin wanita yang memiliki iris mata biru itu berbalut kebaya putih yang memiliki ekor menjuntai ke lantai. Ditambah lagi siger yang menghiasi kepalanya. Mahkota ini bermakna harapan akan rasa hormat, kearifan, dan kebijaksanaan dalam pernikahan.
Selain siger, kembang tanjung pun mempercantik tampilan Devanya pada bagian sanggul, perias menyematkan enam kembang tanjung yang berbentuk seperti kupu-kupu kecil. Hiasan ini melambangkan kesetiaan sang perempuan pada pasangannya.
Tidak ketinggalan pula ronce melati yang menjuntai sampai ke dada. Ronce melati ini bermakna kesucian dan kemurnian sang perempuan.
Keano sampai tidak berkedip saat melihat calon istrinya berjalan menghampirinya. Kedua calon pengantin itu duduk bersisian dengan kerudung panjang yang menutup kepala mereka. Lalu Keano berjabat tangan dengan wali untuk membacakan ijab dan kabul.
__ADS_1
"Bagaimana Nak Keano? Apa sudah siap?" tanya Penghulu.
"Siap, Pak!" sahut Keano.
"Ananda Keano Wiratama Putra, saya nikahkah dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Devanya Sky Putri binti Dave Sky Pradipta dengan maskawin sebuah pulau pribadi di daerah kepulauan S seluas 157,5 Km² dan seperangkat perhiasan dengan berat lima puluh gram dibayar tunai." Dave merasa terharu karena dia bisa denga lancar menjadi wali putrinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Devanya Sky Putri binti Dave Sky Pradipta dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Keano dengan satu kali tarikan napas mengucapkan ijab dan kabul.
"Bagaimana saksi, apakah sah?" tanya penghulu.
"Sah ...." Kompak semua hadirin yang hadir menyaksikan akad nikah Keano dan Devanya.
"Alhamdulillah," ucap penghulu yang diikuti oleh semua orang yang hadir.
Alhamdulillah, sekarang aku sudah menjadi istri Bang Ano. Semoga saja apa yang Ion katakan tidak pernah terjadi, batin Devanya.
Alhamdulillah, kini aku bisa memiliki Deva seutuhnya. Semoga pernikahanku dengan Deva dapat membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah aamiin, batin Keano.
Ada desiran yang tak biasa yang mereka rasakan. Antara rasa haru, syukur dan bahagia bercampur jadi satu. Mereka berharap, semoga pernikahan ini yang pertama dan yang terakhir untuk keduanya.
"Bang Ano, sun-sunannya nanti saja di lanjut. Kasian Pak Penghulu nungguin buat tanda tangan dokumen," celetuk Devan di belakang Keano.
Keano pun langsung melepaskan Devanya. Untuk sesaat, dia lupa kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian. Dia pun hanya tersenyum tipis untuk menghilangkan kegugupannya.
Setelah semua dokumen ditanda tangani, keduanya pun sungkeman pada orang tua. Semua prosesi adat sunda keduanya jalani dengan baik. Tanpa disadari oleh siapapun, ada seseorang yang tanpa sengaja menitikkan air mata.
Dia merasa bahagia atas pernikahan kakak sepupunya tapi sekaligus merasa sakit, karena dia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bersama dengan gadis yang dicintainya. Orion memilih pergi menuju ke villa Keluarga Putra tanpa berniat untuk mengucapkan selamat pada keduanya.
Aku pikir, aku akan baik-baik saja saat melihat Vanya nikah dengan Bang Ano. Tapi ternyata, hatiku terasa hampa, kosong tak berpenghuni. Vanya, kamu sukses membuatku terpuruk dalam cintamu, batin Orion.
Lain Orion lain pula dengan Gavin. Meskipun kedua pemuda itu memiliki perasaan yang sama dengan gadis bermata biru itu. Tetapi mereka mencintai dengan cara yang berbeda.
Gavin dan yang lainnya bergantian memberikan ucapan selamat pada pengantin baru. Tak ketinggalan Devan yang begitu antusias untuk mengucapkan selamat pada kakak perempuannya. Dia bahkan naik ke pelaminan paling awal di antara saudaranya.
__ADS_1
"Selamat ya Bang Ano. Jangan tergesa-gesa bikin dedek bayinya. Slow down aja, Bang. Jangan lupa belajar dulu ilmunya sebelum praktek," ucap Devan.
"Bisa aja kamu, Van." Keano tersenyum tipis menanggapi ucapan adik iparnya.
"Selamat kakak jeyekku, mulai hari ini aku yang akan menguasai mama dan papa. Karena aku anak mereka yang masih single," ucap Devan dengan tersenyum bangga.
"Iya kamu single karena kamu jomblo," ketus Devanya.
"Aku gak suka kejujuran kakak!" Devan langsung memasang muka masam saat kakaknya berhasil membalikkan kata.
"Udah cepetan sana turun! Yang lain juga mau salaman," usir Devanya.
"Siapa juga yang mau turun, orang aku mau foto bareng sama pengantin. Meskipun nyebelin tapi karena hari ini kakak cantik jadi aku maklum aja," sahut Devan
"Bang Ano, Kak Deva selamat ya! Semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Davin langsung menggeser Devan agar tidak menghalanginya.
"Makasih Davin," ucap Keano dan Devanya kompak.
"Selamat ya Bang Ano, Deva. Semoga samawa," ucap Diandra dengan cipika cipiki dengan Devanya.
"Makasih Dian," ucap Devanya. Sementara Keano hanya diam tidak menyahut ucapan Diandra.
"Selamat Bang Ano, Deva. Semoga kebahagian menyertai kalian. Jangan balap lagi ya!" pesan Gavin dengan tersenyum manis.
"Makasih Gavin," ucap Devanya dengan membalas senyum sahabatnya.
Mereka pun berfoto dengan berbagai pose. Tidak peduli dengan kerabat lainnya yang ingin mengucapkan selamat. Setelah puas berpose, Devan dan yang lainnya langsung turun dari pelaminan.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya Allah! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1