Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 108 Asalkan Kamu Bahagia


__ADS_3

Langit sore yang indah di pantai membuat Devanya dan yang lainnya betah berlama-lama di sana. Apalagi perpaduan warna merah jingga di langit dengan awan berubah menjadi abu-abu, membuat suasana senja semakin indah.


Suasana senja yang romantis, membuat Keano tidak pernah jauh dari Devanya. Apalagi, Orion terlihat akan mendekati istrinya, dia langsung saja menjadi bodyguard posesif untuk Devanya.


"Bang, kenapa tiduran terus?" tanya Devanya saat Keano asyik tidur di atas pahanya.


"Abang ngantuk, Ay. Tadi malam hanya tidur sebentar," keluh Keano dengan mata yang terpejam.


"Bang, langit sorenya indah sekali. Memang Abang tidak ingin melihatnya?" tanya Devanya.


"Tidak ada hal yang lebih indah dari istri Abang," gombal Keano.


Pipi Devanya langsung merona mendengar apa yang Keano katakan. Semakin hari, suaminya jadi semakin pintar merayu. Gadis bermata biru itu, menatap lekat wajah tampan suaminya. Sampai akhirnya tangan Keano menjulur menarik tengkuk Devanya agar gadis itu menunduk.


Dengan sedikit mengangkat kepalanya, Keano langsung meraup bibir tipis yang berwarna peach. Keduanya saling berpagutan, mencuri kesempatan di saat yang lain sedang bermain air laut. Hingga saat keduanya sudah kehabisan stok oksigen, Keano pun melepaskan pagutannya.


"Bang ... Nakal!" cetus Devanya.


"Ay, pulang yuk! Kita lanjut di kamar biar cepat ada Dede bayi di sini," ucap Keano seraya mencium perut Devanya yang terhalang celana jeans dan sweater.


"Pagi kan udah, memang belum kenyang?"


"Kalau sama kamu, Abang gak pernah kenyang."


"Lantas kalau sama orang lain, gimana?"


"Sama orang lain, Abang gak ada minat."


Devanya dan Keano pun saling berpandangan dengan bibir yang terangkat sempurna. Bunga-bunga cinta di hatinya bermekaran seperti bunga sakura yang terlihat begitu indah. Hingga tanpa mereka sadari, Devan sedang membidikkan kamera ke arahnya.


"Kak Vanya, ayo nunduk sedikit! Bibirnya saling menempel juga gak apa-apa. Lihat landscape-nya bagus sekali!" tunjuk Devan.


Keano tidak menghilangkan kesempatan untuk meraup kembali bibir istrinya. Namun, kali ini dia hanya mengecupnya singkat. Dengan sigap Devan pun mengambil gambar kakaknya.


Melihat semua itu, Orion langsung duduk bersila menghadap ke arah Devanya dan Keano. Dia sengaja menghalangi Devan yang sedang mengambil foto kemesraan Devanya dan Keano. Dengan tidak tahu malunya, Orion memalingkan wajah Devanya agar melihat ke arahnya.


"Ion, kamu apa-apaan?" sentak Keano. Pria tampan itu langsung bangun dari tidurnya dan duduk di samping istrinya.


"Kalian kejam!!! Sudah tahu aku masih cinta sama Vanya, kenapa harus bermesraan di depan aku? Pakai acara adu bibir segala. Kalian tahu, hatiku terluka, sangat terluka." seru Orion dengan gaya lebay-nya.


"Ku menangis membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku. Kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya. Ku menangis, melepaskan kepergian dirimu dari sisi hidupku. Harus slalu kau tahu, akulah hati yang telah kau sakiti." Devan dengan gaya tengilnya langsung menyanyi lagu milik Rossa.


Hingga Orion pun menjadi ikut-ikutan. Bukannya merasa kasian mendengar curahan hati Orion, Devanya justru tertawa melihat kedua sahabat itu bernyanyi dengan gerak tubuh yang dibuat gemulai. Apalagi, melihat gerak bibir mereka yang sengaja dibuat monyong.


Davin yang sedang bermain air, dia langsung menghampiri mereka dengan menggendong Diandra. Mereka langsung tertawa saat melihat yang Devan dan Orion mendadak jadi pengamen jalanan.


Syukurlah kamu bisa tertawa lagi. Tidak apa jika aku harus menjadi badut sekalipun, asalkan aku bisa melihat senyum di bibirmu. Meskipun sebenarnya, aku sangat merindukan kebersamaan kita, batin Orion.

__ADS_1


"Nanti malam kita main ke klub yuk, Bang! Kayaknya seru kalau kita karaoke bareng. Apalagi, ada dua cowok jadi-jadian sekarang," cetus Davin.


"Boleh tuh, Bro. Kita ajib ajib bareng," ucap Devan.


"Kalian aja yang berangkat. Abang di rumah saja sama Deva," ucap Keano.


"Yah, gak asyik Bang! Kali-kali napa kita pergi ke klub bareng," desak Orion.


"Abang bilang enggak ya enggak. Sudah menjadi prinsip Abang untuk tidak pernah ke sana. Apa kamu lupa, setiap klien yang ingin bertemu di klub selalu Abang tolak?"


Tante Allana memang punya aturan yang ketat untuk anak-anaknya. Anehnya lagi, anak-anaknya nurut sama aturan itu. Sangat berbeda dengan mommy dan papi aku yang memberikan kebebasan padaku, batin Orion.


"Woy, malah bengong! Ayo pulang, lihat mereka sudah ninggalin kita," ajak Devan saat melihat Orion maalh asyik dengan lamunannya.


"Ayo!' sahut Orion.


Kedua sahabat itu saling merangkul pundak. Mereka berjalan beriringan mengikuti Keano dan yang lainnya seraya berbincang-bincang.


"Thanks, Ion. Kamu udah bantu aku buat Kak Vanya tertawa. Thanks juga sudah ikhlasin dia bersama dengan Bang Ano," ucap Devan tulus.


"Gak usah bilang gitu! Aku melakukan semua itu bukan untuk siapa pun tapi untuk aku sendiri. Kamu tahu, Van, rasanya sangat sakit saat melihat orang yang kita cintai terluka. Nanti kamu juga akan mengerti saat kamu jatuh cinta pada seorang gadis," ucap Orion.


...***...


Malam terakhir di pulau yang menawarkan keindahan, mereka lewati dengan mengadakan pesta dadakan di villa. Meskipun serba mendadak, tak urung pestanya berjalan denagn meriah.


Devanya yang merasa risih dengan tatapan memuja para artis pada Keano, membuat gadis bermata biru itu hanya diam tidak menikmati pestanya. Tentu saja hal itu membuat Keano merasa aneh dengan sikap istrinya.


"Ay, kenapa? Kho diam saja, bukannya ingin bertemu dengan idola kamu?" tanya Keano.


"Aku ngantuk, aku gak suka suasananya berisik seperti ini," lirih Devanya.


"Ya sudah, kita ke kamar saja yuk!" ajak Keano.


"Boleh, Dian aku duluan ya!" pamit Devanya.


"Iya, Deva." Diandra begitu asyik menikmati suara merdu artis yang sedang bernyanyi. Apalagi, Davin memeluknya dari belakang. Membuat Diandra serasa sedang nonton konser dengan lautan manusia.


Keano pun langsung mengantar Devanya ke kamar yang ada di lantai atas. Namun, suara musik DJ masih terdengar kencang hingga ke kamarnya. Sampai akhirnya Keano kembali turun ke lantai bawah.


"Baiklah, pestanya kita akhiri sampai di sini saja. Devan, bubarkan pestanya! Deva mau istirahat," suruh Keano.


Seketika suasana pesta yang meriah berubah menjadi hening. Mereka tidak berani menolak perintah tuan rumah. Sehingga hanya bisa menggerutu di belakang.


"Padahal lagi seru-serunya, tapi malah dihentikan."


"Iya, kenapa sih Tuan Keano itu? Sedari tadi hanya menempel pada gadis itu. Apa karena dia memiliki bola mata yang berwarna biru, sehingga Tuan Keano menyukainya."

__ADS_1


"Sepertinya begitu, lebih baik kita mulai memakai softlens yang warnanya sama dengan gadis itu."


"Kamu benar. Sepulang daari sini aku akan memesan warna softlens yang sama dengan milik gadis itu."


"Tidak perlu begitu, lebih baik kita jerat saja pakai cara instan."


"Maksud kamu? Kita bermain kotor? Aku tidak mau."


"Ya sudah, aku yang akan mencobanya. Kalau aku berhasil, kamu jangan sampai iri, oke!"


Mereka terus saja berbicara satu sama lain seraya berjalan pulang. Tanpa tahu kalau Orion mendengarkan pembicaraan artis itu. Hingga akhirnya dia angkat bicara.


"Percuma kalian meniru seperti apapun, karena Vanya tidak akan pernah tergantikan di hati Tuan Keano. Lebih baik kalian pulang dan kembali pada aktivitas kalian. Tidak perlu berpikir untuk naik ranjang bos kalian," sinis Orion.


Artis yang tadi sedang berbincang langsung terkejut mendengar suara Orion. Mereka kaget, percakapannya di dengar oleh saudara bosnya. Sehingga mereka pun mempercepat langkah kakinya.


"Hahaha ... Takut dia!" tunjuk Orion tertawa terbahak-bahak.


"Ion. Kamu kenapa?" tanya Devan heran.


"Mereka takut aku lapor sama Bang Ano. Padahal aku gak akan bilang apa-apa," ucap Orion.


"Bilang apa, Ion?" tanya Keano yang baru saja datang dari arah dapur.


"Gak ada, Bang. Mereka cantik-cantik ya, Bang. Kira-kira Abang suka yang mana?" todong Orion.


"Gak ada!" sahut Keano datar.


"Oh!" Orion hanya mengangguk-anggukkan kepalanya


Tak ingin berbincang lagi, Keano pun langsung pergi ke kamarnya. Dilihatnya Devanya yang masih terjaga seraya memainkan ponselnya. Keano pun langsung menghampiri istrinya dan mengintip apa yang sedang dilihat Devanya dengan serius. Rupanya Devanya sedang mengintip akun sosmed Rani yang menampilkan acara liburan serta kehamilannya.


"Ay, Om Harry liburan ke mana?" tanya Keano.


"Kata Dian, mereka liburan ke Maldives. Sudah mau sebulan tapi belum pulang ke rumah"


"Pantas saja Om Harry mengundurkan diri dari perusahaan. Sepertinya dia ingin mempunyai banyak waktu dengan Tante Rani."


"Apa? Mengundurkan diri?" tanya Devanya kaget.


"Iya, katanya ingin wirausaha saja. Posisinya sekarang dipegang oleh Gavin," jelas Keano.


Berarti memang benar, Om Harry ingin memperbaiki kesalahannya pada Tante Rani. Dia sampai mengundurkan diri agar lebih banyak waktu dengan keluarga. Memang berat menjadi orang kepercayaan bos, harus selalu siap sedia sampai keluarga kadang tidak terurus, batin Devanya.


...~Bersambung~...


...Jangn lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2