
"Bukankah ini fotoku?" tanya Devanya saat dia sudah mengambilnya dan melihat dari dekat.
Keano yang akan menyuapkan makanan ke mulut mengurungkan niatnya. Dia melihat ke arah Devanya yang berdiri di samping meja kerjanya, lalu menghela napas dan menghembuskan-nya.
"Bukan! Dia gadis kecil yang aku sayangi," jawab Keano.
"Oh! Ternyata Bang Ano sama saja sama Ion. Kalian dua saudara yang selalu membuat aku bingung dengan sikap kalian. Yang satu selalu ngeselin, yang satu kadang cuek. Kenapa aku harus terjebak di antara j kalian?" tanya Devanya.
"Kamu ingin aku seperti apa?" tanya Keano lalu memasukkan kembali makanannya sampai habis tak bersisa.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Keano, Devanya hanya melihat ke arah Keano dan menyimpan kembali foto dirinya ke tempat semula. Kemudian menghampiri Keano yang sudah selesai makannya.
"Biar aku simpan," ucap Devanya. "Nih, Bang obatnya!"
"Terima kasih!" sahut Keano.
Setelah memastikan Keano meminum obatnya, Devanya pun akan kembali menyimpan bekas sarapan. Namun, tangannya ditahan oleh Keano.
"Temani Abang dulu. Nanti pulangnya Abang antar," ucap Keano.
"Abang istirahat saja. Aku kan pulang sama si kembar," ucap Devanya.
"Please!!!" pinta Keano. Matanya menatap lekat ke dalam manik mata biru yang selalu terbayang di pelupuk matanya setiap kali dia akan terpejam.
"Baiklah, apa yang harus aku lakukan? Membacakan dongeng atau menyanyikan lagu Nina Bobo?"
"Menyanyikan lagu cinta."
"Hehehe ... Suara aku gak semerdu Abang." Devanya cengengesan menanggapi permintaan Keano.
"Duduk saja sini, pijat kepala Abang!"
Devanya pun menuruti apa yang Keano minta. Dia kembali duduk di kasur empuk yang berukuran king size itu. "Abang menunduk sedikit biar aku bisa sampai."
"Kamu yang naik!" suruh Keano.
Devanya hanya menuruti apa yang Keano katakan. Dia setengah berdiri dengan menumpu pada lututnya untuk memijat kepala Keano. Sementara Keano langsung memejamkan matanya, saat wangi tubuh Devanya menguar masuk ke dalam indera penciumannya.
Sungguh posisi yang terasa intim bagi Keano, membuat pemuda itu enggan membuka matanya. Dia ingin menyimpan dalam ingatan, setiap momment kebersamaannya dengan gadis bermata biru yang selalu mengusik pikirannya. Saat Devanya menghentikan pijatannya, barulah Keano membuka mata.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" tanya Keano.
"Pegel, Bang. Aku turun ya, gak enak kelamaan di sini. Nanti mereka berpikir yang tidak-tidak," pamit Devanya.
"Kita turun bareng, tapi Abang mandi dulu."
"Memang Abang belum mandi?"
"Belum, tadi subuh hanya cuci muka sama gosok gigi aja."
"Tapi kho gak bau," gumam Devanya pelan.
"Memang mau, punya suami yang badannya bau?" tanya Keano yang mendengar gumaman Devanya. Dia pun langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan Devanya sendiri.
"Mending aku melihat-lihat kamar Bang Ano. Luas banget, serba ada lagi."
Devanya berjalan ke arah drum dan gitar yang ada di salah satu sudut ruangan. Dia begitu terpesona melihat sebuah foto yang tergantung di dinding. Foto Keano dengan gaya anak band sedang bermain drum. Rambut yang acak-acakan dengan jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya.
"Mau gaya gimana pun, Bang Ano tetap cakep. Beruntung sekali yang jadi istrinya. Udah cakep, baik meski kadang terlihat cuek, udah gitu tajir pula. Gak bakal takut kelaparan kalau nikah sama dia. Pantas saja Diandra masih ngefans sampai sekarang," gumam Devanya dengan terus melihat foto-foto yang terpajang di sana.
"Gadis yang beruntung itu Devanya Sky Putri," bisik Keano yang sudah berdiri di belakang Devanya.
Dia langsung membalikkan tubuhnya dan mendapati Keano yang hanya memakai handuk kimono. Terlihat jelas dada yang berotot menodai matanya. Devanya pun langsung menundukkan pandangannya.
"Mau main drum?" tawar Keano dengan tersenyum tipis.
"Kapan-kapan aja, Bang. Aku mau pulang aja," tolak Devanya.
...***...
Kini keduanya berada di gelanggang samudera. Keano yang katanya mau mengantar Devanya pulang, malah membelokkan mobilnya menuju ke kawasan rekreasi yang menyediakan aneka jenis permainan dan tontonan. Dia ingin melihat pertunjukan lumba-lumba dan melihat hewan laut lainnya. Meskipun kesal, tetapi gadis bermata biru itu akhirnya hanya mengikuti keinginan tunanganya.
"Katanya sakit, tapi semangat sekali mengajak aku ke sini," gumam Devanya saat Keano sudah memarkirkan mobilnya.
"Abang memang sakit tapi bukan sakit parah. Ayo turun!" ajak Keano
"Abang modus ya? Bilang aja mau ngajak aku jalan, pake pura-pura sakit segala," gerutu Devanya.
Keano hanya tersenyum mendengar gerutuan gadis itu. Karena memang ada benarnya juga. Dia hanya malas turun karena masih ngantuk dan kepalanya terasa berat. Akibat dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kelanjutan pertunangannya dengan Devanya.
__ADS_1
"Sedikit," ucap Keano.
Devanya akhirnya memilih diam. Dia hanya mengikuti langkah kaki Keano yang sedari tadi menggenggam tangannya. Namun, kekesalannya sedikit berkurang saat Keano membawanya ke kolam tempat lumba-lumba itu berada.
"Pagi, Tuan! Mau melihat Dedev?" sapa seorang pelatih lumba-lumba.
"Iya, apa dia sudah bangun?" tanya Keano.
"Sepertinya dia sedang makan pagi dengan pelatih Inge," jawab pelatih itu.
"Baiklah, saya akan ke sana." Keano pun langsung membawa Devanya ke tempat lumba-lumba kesayangannya.
Saat sampai di sana, benar saja, lumba-lumba jenis paus pembunuh kesayangan Keano sedang diberi makan ikan oleh pelatihnya. Lumba-lumba kesayangan Keano itu disebut sebagai Killer Whale atau Orca. Jenis lumba-lumba ini berukuran paling besar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 10 meter dengan berat mencapai 10 ton. Tubuh bagian atas berwarna hitam dengan bercak putih di dekat mata, dada dan sisi tubuh berwarna putih.
"Hallo Dedev!" sapa Keano dengan mengelus kepala lumba-lumba.
Dedev hanya menggesek-gesekkan kepalanya pada tangan Keano dengan mata yang berbinar. Lumba-lumba yang ditolong Keano saat ikan itu masih kecil, kini sudah berubah menjadi besar. Karena lumba-lumba itu pula, papanya Kendra menanam saham di sana.
"Dedev begitu suka saat melihat Anda, Tuan." Inge tersenyum manis melihat kedekatan Keano dan Dedev si lumba-lumba orca.
Keano hanya diam tidak menanggapi ucapan Inge. Dia masih asyik bermain dengan Dedev. Sampai akhirnya Devanya berusaha melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Keano, barulah dia tersadar dari kesenangannya.
"Ayo kenalan dengan Dedev!" ajak Keano dengan menarik tangan Devanya agar mengelus lumba-lumba yang berwarna hitam putih itu.
"Hallo Dedev!" Meski kikuk, Devanya pun melambaikan tangan yang bebasnya pada lumba-lumba besar itu.
"Dedev, ini calon istriku. Ayo berteman dengannya!" suruh Keano.
Sama lumba-lumba saja dia ramah sekali, tapi kenapa sama pelatih cantik itu dia cuek saja. Kasian kan Mbak pelatih sudah senyum manis tapi dikacangin, batin Devanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Deva dan Ano up, yuk kepoin karya teman Othor yang keren ini
__ADS_1