Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 128 Diandra Menyusul Devanya


__ADS_3

Dering suara ponsel terdengar terus menerus. Membuat Dave yang baru saja ia terlelap kembali terjaga. Dicarinya ponsel miliknya yang terus berdering. Saat sudah menemukannya, Dave sedikit mengerutkan keningnya saat terlihat di layar ponsel nama Allana yang sedang melakukan panggilan telepon.


"Hallo, Dave! Kamu di mana?" tanya Allana terdengar panik.


"Aku, aku masih di hotel. Memangnya kenapa?" tanya Dave semakin bertanya-tanya.


"Deva, Dave. Dia mau melahirkan. Keano sudah membawanya ke rumah sakit."


"Apa? Deva melahirkan? Aku akan segera ke sana," ucap Dave panik.


Dia langsung menutup ponselnya dan bersiap untuk berlari menuju ke rumah sakit. Untung saja Dave masih ingat kalau sekarang dia tidak berpakaian. Pria tampan itu memungut pakaiannya yang berceceran lalu segera ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaannya.


Selesai membersihkan diri, Dave segera berlalu pergi meninggalkan Sevia yang masih terlelap. Mau dibangunkan juga rasanya percuma, khawatir pengaruh dari obatnya belum hilang.


"Papa mau ke mana? Buru-buru sekali," tanya Davin yang berpapasan di lobby.


"Papa mau ke rumah sakit, kakak kamu mau melahirkan."


"Apa? Deva mau melahirkan, Pah?" tanya Diandra kaget.


"Iya, Papa berangkat dulu ya!" Dave pun langsung pergi begitu saja meninggalkan anak dan menantunya. Pikirannya benar-benar tidak karuan saat mendengar Deva akan melahirkan.


Sementara Davin yang merasa khawatir melihat papanya panik. Dia pun langsung mengejar Dave meninggalkan Diandra sendiri. Mau tidak mau, Diandra yang sedang hamil besar ikut berlari kecil mengejar suaminya.


"Davin tunggu! Aku ikut," teriak Diandra.


"Astaga, Sayang! Jangan lari-lari! Ingat kamu sudah hamil besar," seru Davin.


"Kamu yang malah ninggalin aku," ucap Diandra dengan cemberut.


"Aku mau ngejar Papa, tapi nanti mau balik jemput kamu lagi," elak Davin. " Sudah ayo! Papa udah berangkat duluan."


Diandra dan Davin pun menyusul Dave menuju ke rumah sakit. Saat tiba di sana, terlihat Dave, Allana dan Kendra sedang menunggu di depan ruang bersalin. Davin mengerutkan keningnya heran, kenapa mamanya tidak ada di sana?


"Papa, mama ke mana?" tanya Davin saat tiba di sana.


"Kamu nyusul?" Bukannya menjawab, Dave malah balik bertanya.

__ADS_1


"Iya, aku khawatir sama Papa saat tadi panik," jawab Davin.


"Iya, Dave. Sevia mana?" tanya Allana yang baru sadar kalau besannya tidak ada di sana.


"Via, salah minum kak. Sepertinya dia meminum minuman yang orang buat untuk mengerjai seseorang tapi malah Sevia yang kena," jelas Dave.


"Semoga, baik-baik saja ya! Deva juga semoga lahirannya lancar dan selamat ibu dan bayinya."


"Aamiin." Kompak semua orang.


Suasana kembali hening sampai akhirnya terdengar suara bayi menangis yang bersahutan dari dalam ruang bersalin. Mereka semua mengucapkan syukur dengan kelahiran bayi kembar Keano dan Devanya.


Namun, sepertinya kebahagiaan itu membuat perut Diandra menjadi kontraksi. Dia terus mengelus lembut perutnya saat rasa mulas menyerang. Allana yang menyadari semua itu, langsung menghampirinya.


"Dian, apa mulasnya sudah terasa sering?" tanya Allana.


"Iya Tante. Tadi masih jarang-jarang. Sekarang semakin sering," keluh Diandra.


"Astaga, DIan! Pasti karena tadi kamu lari-lari. Dokter-dokter tolong, istri saya mau melahirkan," teriak Davin.


"Davin, tidak perlu teriak. Apa kamu lupa kalau Tante seorang dokter?" tanya Allana jengah. "Sebentar Tante minta siapkan ruangannya untuk Dian melahirkan."


Selesai Davin bicara, terdengar suara pintu ada yang membuka dari dalam. Terlihat seorang wanita cantik dengan seragam keluar dari sana. Allana dan yang lainnya segera memburu Dokter Daniela.


"Dokter, bagaimana keadaan menantu dan cucu saya?"


"Bagiamana keadaan Putri saya, Dok?"


"Ibu dan anak selamat, Nyonya. Saya ikut berbahagia atas kelahiran cucu kembar Anda. Laki-laki dan perempuan," ucap Dokter Daniela.


"Dokter, tolong istri saya mau melahirkan," potong Davin.


Perawat pun segera datang membawa brangkar untuk membawa Diandra ke ruang bersalin. Sementara Devanya yang sudah dibersihkan dipindah ke ruang perawatan bersama dengan kedua bayi kembarnya.


"Sayang, selamat ya, Nak. Papa ke sananya nanti. Dian juga mau melahirkan," ucap Dave panik. Dia bingung sendiri antara mengikuti Devanya ke ruang perawatan atau menemani Davin menunggu istrinya melahirkan.


"Iya, gak apa. Semoga persalinannya lancar. Ibu dan bayinya sehat dan selamat," ucap Devanya pelan. Dia masih lemas dan rasanya malas untuk berbicara. Namun, dia juga tidak mungkin mengacuhkan papanya.

__ADS_1


"Iya, Kak. Selamat ya Kak!" timpal Davin. "Aku masuk dulu, sepertinya bayiku akan segera ke luar," pamit Davin saat perawat memanggilnya.


Setelah kepergian Devanya, Dave pun segera menghubungi Harry dan memberitahukan tentang Diandra. Dengan segera Harry dan Rani menuju ke rumah sakit. Tak lupa Gavin dengan setia menjadi supir orang tuanya. Tidak mungkin dia membiarkan Harry yang pegang kemudi pagi-pagi buta begini.


Jalanan yang lengang membuat Gavin tidak butuh waktu lama agar sampai di rumah sakit. Mereka pun bergegas ke ruang bersalin yang ditunjukkan oleh Dave, sehingga ketiganya tidak perlu mencari terlalu lama ruang bersalin Diandra.


"Bagaimana, Dave? Apa bayinya sudah lahir?"


"Sepertinya belum. Sudah satu jam Davin di dalam tapi belum ada yang keluar," jawab Dave. "Tadi juga Deva lumayan lama di dalam, tapi Alhamdulillah putri dan cucuku sehat dan selamat."


"Apa, Deva sudah melahirkan?" tanya Rani kaget.


"Sudah, sekarang sudah dipindah ke ruang perawatan. Anaknya kembar sepasang," jawab Dave dengan wajah yang mendadak cerah.


"Syukurlah! Semoga Dian juga segera melahirkan," ucap Rani.


Baru saja wanita itu selesai berbicara, terdengar suara bayi laki-laki terdengar begitu kencang. Hingga semua porang yang sedang menunggu kelahiran bayi itu mengucapkan rasa syukur.


"Alhamdulillah, ayo kita ke dalam!" ajak Harry tidak sabar. Dia ingin cepat-cepat melihat cucunya.


"Nanti, Pah. Tunggu dokternya ke luar dulu. Papa kenapa panikan? Dulu saat Gwen lahir, ke rumah sakit gak pakai baju, sekarang main cepat-cepat masuk aja," ucap Gavin yang jengah dengan papanya.


"Kamu tuh bawel! Nanti kalau istri kamu melahirkan juga pasti panik."


"Masih lama, aku gak mau nikah muda. Kecuali kalau nikah dengan daun muda," sarkas Gavin.


Saat ayah dan anak itu terlibat perdebatan, Davin keluar dengan membawa bayinya. Dia sengaja ingin memperlihatkan putranya pada papa dan mamanya, karena Dian masih belum selesai dijahit jalan lahirnya.


"Subhanallah, ganteng sekali cucuku." Rani langsung mengambil alih cucu pertamanya. Namun, tidak lama kemudian seorang perawat datang menghampiri.


"Tuan, kenapa putranya dibawa ke luar? Dia harus masuk inkubator dulu. Tadi saya memberikan bayi itu pada Tuan agar di-adzani dulu sebelum masuk inkubator." Terlihat kepanikan dari wajah perawat itu.


"Kenapa suster gak bilang sama aku, aku pikir suruh kasih lihat sama keluarga," jawab Davin enteng.


Setelah Davin mengadzani di telinga kanannya dan iqamat di telinga kiri, bayi itu pun kembali diberikan pada perawat. Sementara dia kembali menemani Diandra yang belum selesai dijahit.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2