Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 85 Pesta Pernikahan


__ADS_3

Pak Rudi menjadi kikuk saat menyadari ada Dave di belakangnya. Dia tidak ingin kejadian dulu saat Dave berada di kampung terulang lagi. Dengan kecepatan cahaya, dia segera menyimpan uang yang tadi Sevia berikan padanya.


Dave yang melihat apa yang dilakukan oleh mertuanya hanya tersenyum kecut. Dia pun segera mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada keluarga Sevia yang lain.


"Bagaimana kabar nenek?" tanya Dave seraya mencium punggung tangan Nenek Salamah bergantian dengan Wa Neneng, istri Pak Rudi dan yang terakhir mertua matrenya itu.


"Alhamdulillah baik, Nak!" sahut Nenek Salamah.


"Silakan dilanjut ngobrolnya, aku hanya mampir untuk mengambil berkas yang tertinggal." Dave langsung beranjak pergi menuju ke ruang kerjanya, disusul oleh Sevia di belakangnya.


Sementara Harry masuk ke dalam rumah untuk menemui Rani dan memberikan satu bungkus rujak kepadanya. Meskipun Rani tidak memintanya, tetapi Harry teringat kalau ibu hamil pasti suka yang asam-asam menyegarkan. Dia pun membelikannya saat tadi Nadine memintanya untuk membelikan dia rujak.


"Rani, ini untukmu!" ujar Harry saat sudah di depan Rani.


"Apaan?" tanya Rani.


"Rujak, biar kamu segar dan tidak mual," jawab Harry.


"Makasih ya, Harry." Rani langsung menerima pemberian Harry dengan mata yang berbinar. Dia memang sedang ingin memakan rujak sedari tadi. Namun dia menahannya karena merasa tidak enak dengan keluarga Sevia jika harus pergi ke luar.


"Sama-sama, aku senang jika kamu menerima dengan senang hati apa yang aku berikan. Nanti kamu ingin apapun, bilang saja padaku. Oh iya Rani, nanti kamu kirimkan nomor rekening kamu ya! Biar aku mudah memberimu uang bulanan untuk keperluan kamu dan bayimu." Harry menatap lekat Rani yang terlihat kikuk di depannya.


"Gak usah, Harry! Aku mendapatkan gaji dari menjaga Devanya dan aku rasa itu cukup untuk kebutuhanku," tolak Rani.


"Aku memaksa itu hal ini. Aku harap kamu tidak menolaknya," ucap Harry.


"Tapi aku tidak bisa menerima uang begitu saja. Aku harus kerja dulu," elak Rani.


"Ini uang tips karena kamu sudah menjaga Devanya. Sini ponsel kamu!" pinta Harry yang langsung mengambil ponsel Rani yang terselip di kantung bajunya.


Rani hanya bisa melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan lelaki muda di depannya. Dia menjadi canggung dengan sikap Harry yang seolah-olah mereka sudah sangat dekat. Setelah mencari nomor rekening yang Harry yakini kalau Rani simpan sebagai nomor kontak, dia pun mengembalikan ponsel Rani.

__ADS_1


"Ini kan nomor rekening kamu?" tunjuk Harry pada ponselnya.


"Iya," jawab Rani.


"Lain kali jangan menyimpan nomor rekening sekaligus nomor pin di daftar kontak. Akan mudah sekali diretasnya," ucap Harry dengan mengacak-acak rambut Devanya yang sedang berada dalam stroller.


"Dek, bilang sama Tante, jangan ceroboh!"


"Harry ayo kita berangkat!" ajak Dave memotong pembicaraan Harry dan Rani.


...***...


Suasana meriah terlihat di ballroom sebuah hotel bintang lima milik JS group. Sebuah perusahaan yang berasal dari Negeri Ginseng. Dave menggelar pesta resepsi malam harinya setelah tadi pagi melaksanakan akad nikah di sebuah mesjid terbesar yang ada di negeri ini.


Al sengaja mengundang semua rekan bisnisnya. Dia begitu senang, anak yang dia asuh kini sudah berkeluarga dan berada dalam koridor seperti yang diharapkan oleh Tuan Satya dan juga dirinya. Setetes air mata tanpa sengaja jatuh di pelupuk matanya.


"Sayang," Icha langsung menghapus air mata suaminya seraya berjinjit.


"Aku sangat bahagia, Dave jauh berbeda dengan Om Raka. Aku sangat bahagia karena bisa mewujudkan impian Kakek Satya. Semoga Dave bisa membuat nama Pradipta kembali bersinar seperti dulu," lirih Al dengan merangkul pinggang istrinya agar semakin mendekat.


Saat kedua pasangan itu sedang mengharu biru dengan pernikahan putra angkatnya, terlihat dari pintu masuk seorang wanita paruh baya sedang bergandengan tangan seorang lelaki yang seusia Al. Ya, Elisa datang ke pernikahan cucunya bersama dengan suami brondongnya yang terpaut usia 25 tahun dengannya. Tanpa malu sedikitpun, dia terlihat begitu mesra dengan brondongnya.


"Siapa yang mengundang nenek kemari? Padahal aku tidak mengundangnya. Setelah kedatangannya waktu itu, aku tidak pernah bertemu lagi," gumam Dave.


"Kenapa Dave," tanya Sevia heran.


"Lihat ke arah pintu masuk! Nenek datang bersama dengan Tuan Dion. Aku tidak menyangka Nenek ternyata menjadi istri dari seorang cassanova. Apa dia tidak tahu, kalau suaminya sering bermain wanita? Setiap akan bekerjasama dengan perusahaannya, pasti Tuan Dion meminta untuk disediakan wanita malam," jelas Dave dengan mata yang tidak lepas dari neneknya.


"Mungkin nenekmu sangat mencintainya sehingga dia membiarkan saja," tebak Sevia.


"Apa kamu akan seperti itu tidak kalau aku berselingkuh?" goda Dave.

__ADS_1


"Aku akan sunat kamu lagi agar hilang burung kebanggaan kamu itu," ancam Sevia.


"Sadis sekali istriku! Aku jadi takut untuk sekedar melirik cewek lain." Dave langsung berpura-pura ketakutan di depan Sevia.


Saat keduanya sedang asyik bercanda karena jenuh dipajang di depan, Elisa pun sudah sampai di pelaminan untuk memberikan selamat pada cucunya. "Selamat ya, Dave! Nenek senang akhirnya kamu menikah."


"Makasih, Nek!" sahut Dave.


Dion sempat terkaget saat mendengar Dave memanggil nenek pada istrinya. Ada sedikit kekhawatiran kebiasaannya dibocorkan pada Elisa. Bisa ditendang jika sampai Elisa tahu kalau dia senang bermain wanita.


Sialan! Aku pikir, Dave bukan cucu Elisa. Tahu begini, tadi aku tidak ikut saat Elisa mengajakku, batin Dion.


Setelah pasangan beda generasi itu turun dari pelaminan, kini datang Reina dan kakaknya Adam. Gadis itu terlihat cantik dengan dress yang berwarna peach. Namun, senyum yang menghiasi bibirnya tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum tulus pada Sevia.


"Via, selamat ya atas pernikahanmu," ucap Reina seraya memeluk Sevia.


"Makasih Rei, aku senang kamu datang. Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Sevia.


"Iya, sekarang kamu sudah melupakan aku." Cebik Reina.


"Bagaimana bisa aku melupakan kamu, Rei. Kamu telah banyak berjasa padaku," sanggah Sevia.


"Selamat Mr. Dave," ucap Adam yang ada di belakang Reina karena tadi adiknya melewati begitu saja Dave tanpa memberi ucapan selamat pada pengantin pria.


"Terima kasih Pak Adam," ucap Dave.


"Selamat Via, semoga kamu bahagia selalu," ucap Adam dengan suara serak. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman denagn Sevia, Namun, Dave sudah lebih dulu mengambil tangan Adam.


Adam hanya tersenyum kecut, hatinya terasa sakit. Saat dia merasakan kembali getaran cinta pada seorang gadis, ternyata dia sudah bersuami. Seberapa besar pun usahanya untuk mendapatkan gadis itu, pada ujungnya dia hanya bisa mengelus dada.


"Terima kasih Adam, semoga kamu mendapatkan gadis yang tepat untukmu," ucap Sevia.

__ADS_1


Hanya kamu yang aku inginkan, Sevia. Kekasih gelapku. Kekasih yang hanya ada dalam mimpiku.


...~Bersambung~...


__ADS_2