Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 30 Cepat borgol dia!


__ADS_3

Setelah Dave berbicara dengan Nadine di telepon, di langsung meminta Harry untuk menemuinya di ruang kerja. Dua orang dewasa itu kini hanya saling memandang dengan dengan perasaan yang berbeda. Harry yang merasa heran karena tiba-tiba disuruh datang menemui sahabatnya. Dave yang merasa geram pada Nadine dan juga kecerobohan Harry.


"Dave, ada apa kamu memanggil aku?" tanya Harry untuk memecah keheningan.


Bruk!


Dave langsung melempar sebuah berkas di depan Harry. Lalu dia pun memutar rekaman percakapannya tadi dengan Nadine. Harry yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nadine, darahnya langsung mendidih. Dia tidak menyangka semua kekacauan ini karena ulah mantan istrinya.


"Jadi, semua ini karena Nadine? Darimana dia bisa tahu kalau aku pernah memberikan obat yang bisa membuat dia tidak bisa hamil?" tanya Harry.


"Jadi benar, kamu memberikannya?" tanya Dave.


"Iya, waktu aku menceraikannya," jawab Harry.


"Kamu baca isi berkas itu. Di sana sudah dituliskan komposisi zat yang digunakan oleh Nadine agar kondisi Rani semakin memburuk. Kita bisa menggunakan ini untuk menjerat Anne dan Nadine ke meja hijau," tutur Dave. "Apa kamu keberatan?"


"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku berterima kasih padamu karena kamu bisa berpikir dengan cepat. Biar aku yang ke kantor polisi untuk melaporkan kasus ini," ucap Harry.


"Biar aku temani. Aku tidak mau kamu berjuang sendiri. Karena sebenarnya, masih ada hal yang lebih penting yang harus kamu perjuangkan. Merebut hati Rani kembali." Dave langsung berdiri dari duduknya lalu beranjak pergi yang kemudian diikuti oleh Harry dari belakang.


Tidak sulit bagi Dave dan Harry untuk mengusut kasus Anne dan Nadine yang mencelakai Rani. Apalagi, dia memegang bukti kuat di tangannya. Sehingga selepas magrib, polisi datang ke rumah Harry.


Anne yang masih berada di sana meskipun sudah diusir oleh Gavin. Merasa kaget dengan kedatangan polisi yang mencarinya. Dia segera membereskan barang-barang miliknya dan berniat untuk kabur lewat pintu samping.


Sial, kenapa polisi itu mencari aku? Apa ini ada hubungannya dengan ponsel aku yang hilang? Aku sudah menuduh Mimin yang mencurinya sampai dia menangis karena aku marahi, batin Anne.


Anne berjalan mengendap-endap agar polisi yang sedang berbicara dengan Mimin di depan tidak menyadari kepergiannya. Namun, saat dia akan masuk ke arah pintu dapur. Mimin dan polisi itu sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


"Mau ke mana kamu? Mau mencoba kabur? Cepat tangkap perempuan itu!" suruh salah satu polisi.


Mendengar suara polisi yang ingin menangkapnya, Anne segera berlari dari sana. Namun sial, kakinya tersandung dan dia terjatuh menabrak tong sampah yang ada di luar rumah sehingga isinya berhamburan ke luar. Polisi yang mengejar langsung Anne langsung menutup hidung saat mencium bau tidak sedap.


"Mau lari ke mana kamu? Sudah salah melarikan diri. Tidak takut hukumannya bertambah?" bentak polisi.


"Aku salah apa, Pak? Kenapa mau menangkap aku?"


"Sudah jangan banyak bicara! Nanti kamu jelaskan semuanya di kantor. Sersan cepat borgol dia!" Komandan polisi yang sudah di dekat Anne enggan mendekat karena bau busuk sampah sangat menyengat.


Ih jijik banget! Aku kan habis buang telur busuk sama sayur yang basi karena gak ada yang makan. Rasain kamu Anne, kebusukan kamu sama busuknya dengan sampah itu, batin Mimin.


...***...


Hari-hari pun terus berlalu, Anne sudah mendekam di balik jeruji besi. Namun, Nadine tidak bisa ditangkap karena dia bersembunyi di luar negeri dlaam perlindungan orang yang memiliki kekuasaan. Rupanya, setelah Nadine ke luar dari rumah tahanan dulu, dia menjalin hubungan dengan seseorang yang berkuasa.


Rani sedikit demi sedikit sudah bisa menggerakkan kakinya. Dia dan Diandra masih tinggal di rumah Dave karena dia menolak saat Harry mengajaknya untuk kembali ke rumah mereka. Meskipun Harry sebenarnya tidak suka, tapi akhirnya dia mengalah. Karena dia sadar Rani pasti sangat terluka dengan apa yang dilakukannya.


"Dian, kenapa kamu tidak bisa menerima Davin? Apa kamu suka dengan Bang Hayden? Aku lihat hubungan kalian semakin dekat," tanya Devanya saat keduanya sedang berada di kamar yang Diandra tempati.


"Gimana ya, Bang Hayden kan dewasa. Aku suka dengan sosok yang dewasa. Apalagi seperti Bang Ano. Tapi dia tidak pernah melirik ke arahku. Pasti kamu yang jadi fokusnya," keluh Diandra.


"Kamu masih suka sama Bang Ano? Dia kan memang pangeran berkuda putih kita. Tapi kan kamu tahu sendiri, bagi Bang Ano hanya mamanya yang paling cantik. Kita mah hanya remahan rengginang," ucap Devanya dengan cekikikan.


"Aku yang remahan rengginang. Aku dan mama hanya jadi beban buat keluarga kamu. Aku selalu ingin cepat-cepat selesai kuliah agar bisa cepat kerja dan punya uang sendiri," ucap Diandra sendu.


"Dian, aku gak suka ya kamu ngomong kayak gitu. Gak ada yang jadi beban di sini. Apa selama ini, kamu tidak pernah menganggap aku sahabat?" tanya Devanya dengan menatap lekat Diandra.

__ADS_1


"Apa kamu tidak pernah menganggap mama papaku sebagai saudara kamu? Padahal buat keluarga aku, kamu dan Tante Rani sudah dianggap saudara sendiri. Meskipun memang benar tidak ada hubungan darah di antara kita," lanjut Devanya.


"Bukan begitu maksud aku, aku hanya merasa malu dengan apa yang terjadi pada keluarga aku. Kenapa mamanya Gavin begitu jahat? Padahal, kalau Daddy mau melepaskan mama, aku akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan kami asalkan tidak ada lagi yang ingin menyakiti mama."


Diandra tertunduk sedih. Hatinya sangat sakit saat tahu kalau kecelakaan dan kelumpuhan mamanya karena kesengajaan orang yang ingin menghancurkan keluarganya. Yang lebih membuatnya sedih, ayah sambungnya malah masuk perangkap dalam jebakan mantan istrinya.


"Sabar, Dian. Polisi pasti akan menemukan Tante Nadine. Aku juga gak ngerti, kenapa malah mama kamu yang jadi target? Seharusnya kan Om Harry," tanya Devanya heran


"Karena Nadine tidak pernah suka sama Mama ataupun Tante Rani. Apalagi saat tahu kalau Harry ternyata dengan Tante Rani menikah. Pasti dia mendendam selama bertahun-tahun," timpal Sevia yang baru saja masuk ke kamar Diandra


"Mama menguping ya?" tebak Diandra.


"Bukan menguping, mama gak sengaja dengar. Habis kalian asyik ngobrol sambil tiduran tapi pintunya gak ditutup rapat," elak Sevia.


"Sama saja, Mah."


"Sudah, itu ada Ion sedang menunggu di bawah. Tumben dia kelihatan rapi hari ini. Memang kalian mau pergi ke mana?" tanya Sevia.


"Tante kayak gak pernah muda saja, sekarang kan malam Minggu. Mereka pasti pergi kencan," seloroh Diandra yang langsung mendapatkan pelototan dari Devanya.


"Sotoy kamu! Deva mau nyari buku, Mah. Sekarang kan lagi ada bazar buku di JCC," sangkal Devanya. "Ya udah, Deva berangkat dulu biar gak kemalaman."


"Hati-hati di jalannya!" pesan Sevia.


Apa benar yang dikatakan oleh Dian, mereka diam-diam menjalin hubungan. Karena yang aku perhatikan, sekarang Ion sepertinya perhatian sekali pada Deva.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2