
Perjalanan yang biasanya hanya ditempuh dalam waktu sepuluh menit, entah kenapa terasa sangat lama. Dave begitu gelisah, sedari tadi dia terus melihat ke jam tangannya. Berharap jam masuk karyawan yang masih 40 menit itu tidak cepat berlalu.
"Harry, bisa sedikit lebih cepat tidak?" tanya Dave.
"Ya ampun, Dave! Lihat gedungnya sudah kelihatan! Gak sampai lima menit lagi kita sudah masuk ke dalam gerbang," ujar Harry dengan memutar bola matanya malas.
"Nanti kamu turunkan aku depan lobby!" suruh Dave.
"Memangnya ada apa Dave, kamu buru-buru sekali?" tanya Harry.
"Dari tadi kamu tidak mengerti kenapa aku panik? Semua gara-gara Kattie, pasti Sevia melihatku berpelukan dengannya padahal bukan aku yang memeluk, tapi Kattie yang langsung memelukku." Dave langsung menyemprot assisten dia yang tidak mengerti dengan kegelisahan hatinya.
Ya Ampun, Dave! Kamu segitu paniknya hanya karena takut Sevia salah paham. Sepertinya kamu sudah benar-benar jatuh cinta pada anak operator itu, batin Harry.
Tak berapa lama, mobil pun sudah memasuki gerbang perusahaan. Dave langsung turun dari mobil saat Harry berhenti tepat di depan lobby perusahaan. Dia sudah seperti orang yang takut ketinggalan pesawat. Saat sudah sampai di area kerja Sevia, pria bermata biru itu celingukan mencari keberadaan istrinya. Sampai salah seorang leader yang kebetulan melihat Dave yang seperti sedang mencari seseorang itu bertanya.
"Permisi, Mister! Apa yang anda cari?" tanya Marni.
"Kamu lihat anak yang mengerjakan trial produk baru? Tolong suruh dia ke ruangan aku secepatnya! Ada masalah dalam produk yang dia kerjakan."
"Baik, Mister! Saya permisi," pamit marni langsung bergegas untuk mencari Sevia.
Melihat kepergian Marni, Dave pun bergegas menuju ke ruangannya. Nampak Harry sudah sampai di sana dan sedang mengistirahatkan badannya di atas sofa empuk. Dave pun langsung bergegas menghampiri sahabatnya.
__ADS_1
"Harry, kita berangkat jam berapa ke sana? Apa Kattie juga akan ikut?" tanya Dave.
"Kita berangkat jam empat sore. Mungkin setelah jam makan siang kita segera pulang dan langsung ke Jakarta," ucap Harry.
"Apa Om Andrea akan ikut?" tanya Dave.
"Tidak! Katanya mau diwakilkan dengan bang Joen," jawab Harry.
"Ah, syukurlah! Biar nanti Bang Joen yang tanganin Kattie," ucap Dave bersamaan dengan pintu ruangannya ada yang mengetuk dari luar.
Tok tok tok
"Masuk!" suruh Dave.
"Harry pergilah!" usir Dave yang langsung disambung dengusan oleh sahabatnya itu.
"Via, jangan lama-lama marahnya. Kattie hanya mantan pacar Dave," bisik Harry saat berpapasan dengan Sevia di depan pintu.
Setelah Harry keluar dari ruangannya, Dave pun langsung beranjak bangun untuk menghampiri istrinya. Saat sudah ada di Sevia, Dave langsung memeluk erat istri simpanannya. Ada perasaan takut dalam hatinya. Sungguh, Dave tidak siap jika harus berpisah dengan Sevia.
"Via, aku tahu kamu marah sama aku. Tadi bukan aku yang memeluknya tapi dia yang langsung memelukku saat dia melihatku. Seperti sekarang, aku yang langsung memelukmu. Bahkan kamu diam saja tidak membalas pelukan aku. Aku pun tadi seperti kamu yang kaget atas kedatangan Kattie," tutur Dave dengan tidak melepaskan pelukannya.
"Aku tidak apa-apa, Dave! Itu hak kamu, bukankah dari awal juga kamu sudah mengatakan padaku kalau aku tidak boleh berharap banyak padamu. Apa dia gadis yang kamu cintai?" tanya Sevia dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Bukan! Aku memang pernah memiliki hubungan dengannya tapi aku tidak mencintainya," jawab Dave.
Apa itu kamu yang sebenarnya, Dave? Menjalani hubungan mesti tanpa cinta di dalamnya. Seperti pernikahan kita. Hubungan yang sakral tanpa dasar cinta, batin Sevia.
Dave pun mengurai pelukannya dan mengajak Sevia untuk duduk di sofa. Sevia hanya mengikuti apa yang Dave lakukan. Hatinya terlalu untuk terus memikirkan kisah cintanya yang tidak berjalan mulus.
"Via, kamu jangan khawatir, aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita. Kamu percaya kan padaku?" tanya Dave dengan menggenggam erat telapak tangan Sevia. Matanya lurus menatap iris coklat istrinya.
"Dave, apa kamu yakin tidak akan mengkhianati pernikahan kita? Aku hanya minta satu hal, jika kamu memang sudah bosan padaku. Tolong ceraikan aku! Aku tidak ingin merasakan dicampakkan untuk yang kedua kalinya. Sama seperti Andika meninggalkan aku setelah dia memiliki Ines," pinta Sevia.
"Aku bukan dia, dan aku tidak akan mencampakkan kamu seperti dia. Please, percaya padaku!" harap Dave.
Sevia hanya menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui keinginan Dave. Melihat hal itu, Dave langsung memeluk Sevia. Hatinya merasa lega, karena istrinya tidak marah padanya. Tanpa menunggu lama lagi, Dave langsung membenamkan bibirnya pada bibir Sevia. Pertautan lidah pun sudah tidak bisa dihindari lagi. Andai mereka sedang berada di apartemen, sudah pasti tangan Dave bergerilya mencari titik sensitif istrinya. Dia sangat senang saat melihat Sevia meracau keenakan karena perbuatannya. Namun, semua itu harus ditahannya karena sudah terdengar bel pertanda semua karyawan harus sudah siap di tempat kerjanya. Dengan sangat terpaksa kedua insan itu melepaskan pagutannya.
"Tunggu aku pulang dari Jogja! Kita akan bermain sepuasnya." Dave menghapus sisa saliva yang masih menempel di bibir Sevia dengan tissue yang diambilnya dari atas meja.
"Aku kerja dulu, Dave!" pamit Sevia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima Kasih!...
__ADS_1