
"Astaga Dian! Kenapa jadi kekanakan seperti ini, Nak?" Rani menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Diandra.
"Memang ada yang salah ya, Mah?" Bukannya menjawab, Diandra malah balik bertanya.
"Gak ada, Sayang. Kita sebagai seorang istri memang harus bisa menjaga suami kita dari pelakor yang sedang marak-maraknya. Nanti kalau ada yang ingin peluk cium Davin lagi, kamu harus bisa jadi tamengnya. Jangan beri kesempatan pelakor mendekat pada suami kita," tutur Sevia dengan mengelus punggung Diandra.
"Davin juga, lain kali kamu harus lebih bisa menjaga perasaan istri kamu. Jangan sampai hal seperi tadi terulang lagi. Kamu mengerti?" lanjut Sevia.
"Iya, Mah. Davin salah."
Memang sudah menjadi hal biasa buat Rani dan Sevia. Saat anak-anak mereka berulah dan membuat kepala rasanya mau pecah, Sevia dan Rani selalu bergantian menegur ataupun membelanya. Ketika Rani yang menegur anaknya, maka Sevia yang menjadi penolongnya, begitupun sebaliknya.
"Sudah, daripada kalian ribut terus, mending kasih Mama cucu. Tuh Deva udah hamil lagi," tunjuk Rani.
"Apa??!! Sudah hamil lagi??!! Kenapa aku belum???" pekik Diandra.
"Alhamdulillah udah. Sabar ya Dian, nanti kamu pasti nyusul. Aku aja gak sadar kalau lagi hamil. Tahu-tahu sudah tujuh minggu," ucap Devanya dengan tersenyum.
Semakin lama Devanya bersama dengan Keano. Semakin membuat pikiran Devanya menjadi lebih dewasa. Berbanding terbalik dengan Diandra yang justru mengikuti suaminya yang lebih muda. Apalagi, Devan dan Orion sering mengunjungi rumah mereka. Membuat dia menjadi terkontaminasi dengan kekonyolan ipar dan sahabat suaminya.
"Selamat, Kak. Semoga lancar dan selamat sampai lahiran nanti," ucap Davin.
"Makasih, Vin. Kalian tidak usah terburu-buru karena melihat Kakak yang sudah hamil lagi. Lagipula kalian masih muda. Puas-puasin aja dulu pacaran setelah menikah. Nanti juga kalau sudah saatnya pasti memiliki bayi," ucap Devanya.
Saat Davin akan berbicara, terdengar suara pintu yang terbuka dari luar. Rupanya Gavin dan Harry datang untuk menjenguk wanita yang mereka sayangi. Keduanya langsung memburu Rani yang sedang menggendong putrinya.
"Putri Daddy rewel gak, Mah?" tanya Harry setelah mencium pipi putrinya sekilas.
"Nggak dong! Gwen kan anak sholehah," sahut Rani dengan tersenyum manis pada suaminya.
"Jadi makin cinta sama Mama," rayu Harry.
"Dad, gak salah ngomongnya?" tegur Gavin yang merasa jengah dengan apa yang daddy-nya katakan.
"Daddy kamu sedang puber kedua kali, Vin. Makanya jadi ...," Davin tidak melanjutkan ucapannya saat tangan Diandra mencubit perutnya.
Saat Gavin akan menimpali ucapan Davin, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, sehingga dia memilih untuk mengangkat panggilan telepon ke ponselnya. Gavin mengerutkan keningnya saat nama Dr. Louis terlihat di layar ponselnya. Dia pun sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon.
"Hallo, dokter!" ucap Gavin saat dia sudah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo, Tuan Gavin. Saya mau memberitahukan keadaan Nyonya Diane. Apa Tuan Gavin bisa datang ke sini? Ada hal yang perlu saya bicarakan."
"Bisa, Dok. Saya langsung ke sana. Kebetulan juga saya sedang berada di rumah sakit yang sama."
__ADS_1
"Baiklah, Tuan. Saya tunggu di ruangan."
"Baik, Dok. Kalau begitu saya tutup teleponnya."
Setelah Gavin mengakhiri panggilan teleponnya, dia pun menghampiri Rani kembali. Gavin langsung mencium pipi mama sambungnya sebelum dia pamit pergi.
"Mah, cepat pulih ya! Aku pergi dulu, soalnya ada urusan."
"Iya, hati-hati di jalan ya. Makasih sudah sempetin datang ke sini," ucap Rani dengan tersenyum manis.
Setelah Gavin berpamitan dengan semua orang yang ada di ruangan itu, Dia pun langsung pergi ke ruang ICU tempat Nadine di rawat. Namun, saat tiba di sana, dia melihat dokter Louis akan menutup kain putih ke wajah Nadine. Dengan napas yang terasa sesak, Gavin pun menghampiri dokter yang selama ini menangani Nadine.
"Dokter, apa yang terjadi?" tanya Gavin.
"Maaf, Tuan Gavin. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Nyonya Diane. Dia menghembuskan napas terakhir, sesaat setelah Anda mengakhiri panggilan telepon." Dokter Louis menundukkan kepalanya.
"Apa, Dok? Anda jangan bercanda! Tidak mungkin Mama pergi begitu saja, tidak mungkin dia pergi tanpa pernah memberikan pelukan pada putranya. TIDAK!!! Mama jahat, kenapa tidak bisa menyayangiku??"
Hati Gavin terasa hancur sehancur-hancurnya. Meskipun dia tahu kalau Nadine tidak pernah peduli padanya, tetap saja hati kecil Gavin mengharapkan kasih sayang dari seorang ibu yang telah melahirkannya.
Selama ini, dia selalu mengawasi Nadine dari jauh. Mengobati kerinduannya hanya dengan melihat fotonya. Meskipun Rani menyayanginya seperti layaknya ibu kandung, tetapi dia juga berharap Nadine akan memberikan kasih sayang seperti yang Rani berikan.
Berita tentang kematian Nadine, sampai juga di telinga Harry. Sehingga pria yang pandai bermain kick boxing itu membantu Gavin dalam proses pemakaman mantan istrinya. Tak lupa Harry pun memberitahu suami Nadine karena dia melihat putranya begitu terpukul atas kepergian ibu kandungnya.
Kini keduanya masih berada di pemakanan. Berjongkok di depan sebuah gudukan tanah merah yang masih basah. Harry merasa tidak tega melihat putranya yang terpuruk.
Merasa mentari sudah semakin condong ke barat, Harry mencoba berbicara pada putranya. Gavin yang sedang menundukkan kepalanya, dia pun menoleh ke arah asal suara.
"Gavin, ayo pulang, sebentar lagi gelap! Ikhlaskan mama kamu, Nak."
"Aku ikhlas, Pah. Aku hanya menyesal karena aku yang menjadi penyebab kecelakaan itu," ucap Gavin. Tanpa terasa setetes air mata menetes di kedua sudut matanya.
"Maksud kamu?" tanya Harry heran.
Gavin pun menceritakan apa yang telah terjadi saat pesta resepsi Devanya dan Keano. Harry yang mendengarkan begitu tercengang merasa tidak menyangka Gavin akan melakukan hal itu pada ibu kandungnya sendiri. Meskipun sebenarnya Gavin hanya ingin mengembalikan apa yang Nadine lakukan, tetap saja itu berakibat fatal.
"Sudahlah! Semuanya sudah terjadi. Untuk kedepannya, jangan bertindak tanpa berpikir panjang dulu, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari." Harry menepuk pundak putranya pelan.
Maafkan aku, Mah. Semoga Mama tenang di alam sana.
...***...
Seminggu sudah Rani di rawat di rumah sakit. Kini keadaannya sudah semakin membaik. Rencananya hari ini dia akan pulang ke rumah, sehingga Sevia dan Dave sengaja ikut menjemput ke rumah sakit.
__ADS_1
Sementara Diandra, Devanya dan anak-anak muda lainnya sengaja menunggu di rumah, untuk mempersiapkan pesta penyambutan anggota keluarga baru di Keluarga Pattinson. Mereka begitu bersemangat mendekorasi rumah baru Harry yang memang berada di sebelah rumah Sevia dan Dave.
"Ayo Devan tiup balonnya yang banyak. Semangat!" suruh Devanya.
"Pipiku kembung Kak. Masa iya cowok macho pipinya chuby," gerutu Devan.
"Lagian salah sendiri. Ada pompa balon juga, kenapa tiup sendiri." cibir Orion.
Saat kedua sahabat itu saling meledek, terdengar suara bel rumah Harry berbunyi. Dengan cepat Diandra pun membukakan pintu. Terlihat di sana dua laki-laki tampan dengan sejuta pesona berdiri di depan pintu. Diandra sempat terpesona melihat ketampanan makhluk Tuhan yang nyaris sempurna.
"Permisi, apa benar ini rumah Om Harry?" tanya salah satu laki-laki itu.
"Iya, benar. Anda siapa ya?"
Belum sempat tamu itu mennjawab pertanyaan, terdengar suara Davin yang berbicara di belakang Diandra. "Loh Bang Elgar, Bang Iger. Kapan kalian datang ke tanah air? Aku pikir kalian tidak akan mau kembali ke sini."
"Kemarin. Davin, ini rumah kamu atau rumah Om Harry?" tanya Elgar.
"Ini rumah Mertuaku. Om Harry sekarang jadi mertuaku dan ini istriku Diandra," ucap Davin bangga.
"Astaga, Davin! Kamu masih kecil sudah menikah?" tanya Elgar lagi.
"Boleh masuk?" tanya Aigner dingin.
Kenapa dia mirip Bang Ano? Memangnya Bang Ano punya adik? batin Diandra.
"Iya, masuk Bang! Sorry sorry, aku kaget melihat kalian ada di sini." Davin dan Diandra pun langsung memberi jalan pada tamunya.
Setelah kedua tamu itu berada di ruang tamu, Diandra langsung pergi ke dapur untuk membuat minuman. Hatinya terus bertanya-tanya siapa sebenarnya kedua mahluk tampan itu.
"Dian, siapa yang datang?" tanya Devanya yang sedang mengupas buah.
"Aku gak tahu. Tapi mereka tampan-tampan. Sebelas dua belas dengan Bang Ano," ucap Diandra.
"Apa? Mirip Bang Ano? Apa mungkin Bang Iger dan Bang Elgar? Wajah mereka kan ada mirip-miripnya, meskipun gak persis."
"Kamu kenal mereka? Kenapa aku gak kenal?"
"Sebelum mereka menetap di luar negeri bersama dengan Om Joen, Aku pernah bermain bersama mereka di mansion Keluarga Wiratama. Bukankah pernah bertemu saat acara ulang tahun Opa Andrea?"
"Aku lupa!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....