Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 135 Ibu


__ADS_3

Matahari nampak bersinar cerah, secerah hati Sevia yang sedang berbunga-bunga karena akan bertemu dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Seseorang yang tak kan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Dave pun sengaja tidak masuk ke kantor karena ingin menemani istrinya.


Sevia sudah siap dengan dress warna peach, membuat ibu hamil terlihat lebih muda dari usianya. Sedangkan Dave memakai celana cargo dan T-shirt, membuat pria tampan itu terkesan lebih santai.


"Dave, kenapa lama ya?" Sevia nampak gelisah karena jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh, namun Kirana dan Hamish belum juga datang.


"Mungkin masih di jalan. Kamu sabar saja, nanti juga pasti ketemu." Dave mencoba menenangkan Sevia yang terlihat gelisah meski di hatinya ada sedikit rasa cemburu karena Sevia masih bisa bertemu dengan ibunya, sedangkan dia hanya bisa bertemu dalam mimpi.


"Dave, aku nervous. Pegang tanganku, sudah dingin begini." Sevia langsung memegang tangan Dave tanpa persetujuan si empunya.


"Via, kamu kaya mau ketemu dengan pacarmu saja saat diajak kencan."


"Bukan hanya sebatas pacar, Dave. Tapi ibu separuh hatiku," jawab Sevia


Beruntung sekali kamu, Via. Meskipun terpisah lama, tapi kalian masih punya kesempatan untuk bertemu di dunia ini. Sedangkan aku, rasanya mustahil. karena orang tuaku sudah tiada, batin Dave.


"Nyonya Kirana belum datang, Via?" tanya Rani yang ikut bergabung bersama dengan Sevia dan Dave.


"Belum, Rani. Katanya jam sepuluh tapi belum juga datang."


"Nanti juga pasti datang. Kamu sabar saja," ucap Rani dengan menepuk bahu sahabatnya pelan. "Aku ke atas dulu, Diandra sepertinya ingin mimi."

__ADS_1


Rani langsung pergi menuju ke kamar anak-anaknya, karena tadi terdengar samar-samar suara putrinya menangis. Dia yakin, pasti Diandra kehausan mencari sumber kehidupannya.


Tak berselang lama, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya. Dave dan Sevia pun langsung beranjak menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Nampak sebuah mobil berwarna hitam dengan logo kuda jengki sudah terparkir rapi di sana. Nampak Hamish dan Kirana keluar dari mobil dengan tersenyum manis pada Dave dan Sevia.


"Maaf ya, Tante telat!" ujar Kirana.


"Iya, Tan tidak apa-apa. Aku hanya khawatir Tante membatalkan rencananya," ucap Sevia.


"Mana mungkin Tante batalkan, Via. Hari ini sudah ditunggu bertahun-tahun lamanya," ucap Kirana. "Bagaimana kalau kita langsung berangkat saja?"


"Baik, Tan!" sahut Dave.


Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh dan melewati hutan serta perkebunan coklat, sampailah mereka pada sebuah rumah yang terlihat asri dengan model klasik. Di depan rumah ada sebuah kolam ikan dengan air mancur yang mempercantik pemandangan.


Sevia sempat tertegun melihat bangunan yang ada di depannya. sebuah bangunan seperti peninggalan pada saat jaman penjajahan kompeni ke tanah air. Namun, yang menjadi kebingungan untuk Sevia dan Dave bukan karena masalah model rumahnya, tetapi lokasi rumah yang berada di tengah-tengah perkebunan. Kirana yang sudah turun duluan, segera mengetuk kaca mobil Dave.


"Ayo turun!" ajak Kirana.


Sevia dan Dave pun bergegas turun dari mobil karena mereka sudah ditunggu oleh Kirana. Tanpa menunggu lama lagi, Kirana pun langsung mengajak Sevia menuju ke sebuah kamar yang lumayan luas. Nampak di sana ada seseorang wanita yang sedang duduk di kursi roda ditemani oleh seorang perawat.


Sevia langsung mematung melihat wanita itu. jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir hebat. Dia berjalan perlahan untuk memastikan kalau wanita yang sedang duduk itu adalah ibunya.

__ADS_1


"Ibu," panggil Sevia saat jarak antara keduanya sudah dekat.


Seperti sebuah magnet, Kinara yang biasanya tidak merespon panggilan dari orang lain selain Kirana, langsung menengokan kepalanya. Sevia yang sudah tidak bisa menahan perasaannya, langsung berlari menghambur ke pelukan ibunya. Dia menangis sesenggukan di atas pangkuan ibunya.


"Ibu, kenapa Ibu tidak pulang? Aku sangat merindukan Ibu," ucap Sevia di sela Isak tangisnya.


"Kakak, ini Sevia putri Kakak. Aku sudah menepati janjiku untuk membawanya ke sini. Sekarang Kakak harus mau menjalani pengobatan bersamaku?" Kirana menjeda ucapannya sejenak.


"Lihat Kak, sekarang Kakak sudah punya menantu dan juga cucu. Apa Kakak tidak ingin melihat tumbuh kembang anak keturunan Kakak?" tanya Kirana.


Mendengar ucapan adiknya, Kinara pun mengangkat wajah Sevia sedikit. Kemudian dia pun bertanya, "Apa kamu Sevia, putriku?"


"Iya, Ibu. Aku Sevia," jawab Sevia.


"Vi, ternyata kamu sudah besar."


"Ibu, apa yang terjadi pada Ibu? Kenapa bisa seperti ini?"


"Kakak mengalami kecelakaan, saat dia kabur dari rencana perjodohan yang Ayah siapkan untuknya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2