
Jagat maya dihebohkan dengan beredarnya foto-foto Mona yang sedang berada ditengah-tengah ladang mariyuana sedang mencium daun yang seperti daun singkong itu namun bisa membuat orang mabuk jika menghisapnya.
Bukan hanya itu saja, data-data kepemilikan ladang mariyuana seluas 25 hektar di pulau pribadi Keluarga Winata bocor ke publik. Tentu saja hal itu membuat semua penduduk negeri ini menghujat penguasanya yang ternyata bermuka dua.
Tidak sampai di situ, rekaman video tentang Adjie yang sedang bermain serong dengan para artis pendatang baru pun ikut mencuat ke publik. Tentu saja hal itu membuat Keluarga Winata menjadi kehilangan akal. Mereka merasa geram kenapa semua kebusukannya harus terbongkar secara bersamaan.
"Cepat kamu temukan, siapa orang yang telah mengunggah semua itu ke media sosial. Kalau kamu sudah mendapatkannya, langsung bawa ke pulau X. Kita eksekusi di sana," suruh Bambang pada ajudannya.
"Maaf, Pak! Akunnya tidak bisa dilacak. Alamat IP-nya pun tidak terdeteksi," ucap ajudan.
"Brengsekk!!! Siapa yang sudah berani bermain-main denganku? Apa dia tidak tahu kalau kita yang sedang berkuasa?" tanya Bambang geram.
"Maaf Pak, Mahasiswa berdemo di depan istana. Mereka menuntut agar Bapak turun dari jabatan." lapor ajudan.
"Apa katamu??? Sial sial!!! Apa semua ini ada hubungannya dengan penembakan Mona pada putri dari keluarga Putra?"
Saat Bambang sedang uring-uringan di ruang kerjanya, terdengar suara pintu ada yang mengetuk. Nampak pembantunya membuka pintu saat sudah dipersilakan masuk.
"Permisi, Pak! Di depan ada tamu, katanya mau bertemu dengan Bapak," ucap pembantu.
"Siapa?" tanya Bambang.
"Saya kurang tahu, mereka memakai baju yang ada tulisannya BN," ucap pembantu itu seraya mengingat apa yang dilihatnya.
Apa mungkin mereka BNN dan polisi yang meminta penjelasan dariku terkait foto-foto Mona? Sepertinya aku harus pura-pura sakit. Walau bagaimana pun aku masih atasan mereka, batin Bambang.
"Katakan pada mereka kalau Bapak demam!" suruh Bambang.
"Oh Bapak mendadak demam karena kedatangan kami. Sebaiknya Bapak ikut dengan kami agar nama baik Bapak tidak semakin tercemar," celetuk Barra yang berdiri di belakang pembantu itu.
"Kamu!!! Berani sekali kamu masuk ke sini!!!" bentak Bambang.
"Bukan hanya saya, Pak. Tapi atasan saya pun ikut ke sini. Mohon Bapak bekerja sama agar tidak menyulitkan Bapak sendiri," ucap Barra dengan nada sinis.
Dia sangat geram memiliki penguasa seperti Bambang yang selalu semaunya. Ditambah lagi, ternyata dia pemilik dari ladang mariyuana yang sangat luas. Pantas saja, dia seperti tidak kekurangan uang karena dia mendapatkan kekayaannya dari hasil yang tidak halal.
Dua hari setelah penggerebekan di kediaman keluarga Winata, Bambang pun diturunkan dari jabatannya. Sementara ladangnya dibumihanguskan dan pulau pribadinya di sita oleh negara. Selain itu, Bambang, Adjie dan Mona sama-sama menjalani proses hukum karena kesalahan yang telah diperbuatnya.
Sangat berbeda sekali kondisinya dengan dua pria tampan yang sedang menonton televisi seraya meminum minuman bersoda dan ditemani oleh beberapa cemilan
Ya, Dave dan Harry sedang merayakan kehancuran Keluarga Winata yang arogan. Mereka teringat saat dulu masih satu sekolah dengan Mona. Setiap orang yang menyinggung Mona pasti akan kena hukuman dan bullyan dari orang suruhannya.
__ADS_1
"Roda memang terus berputar ya Dave, dulu mereka begitu berkuasa. Selalu menggunakan kekuasaannya untuk menghabisi orang yang menyinggungnya. Sekarang, mereka harus mendekam di balik jeruji besi."
"Kamu benar Harry, sepertinya tugas aku untuk menjaga Zee sudah aku tepati. Sedikit demi sedikit aku membayar semua kebaikan Om Al dan keluarganya," ucap Dave.
"Dave jangan terlalu dijadikan beban. Aku yakin Om Al dan Tante Icha tulus sayang sama kamu dan dia tidak mengharapkan budi baiknya kamu balas. Dia hanya ingin melihat kamu hidup dengan baik agar apa yang sudah mereka perjuangkan tidak terasa sia-sia," ungkap Harry.
"Oh iya, kenapa Sevia dan Rani begitu lama ke minimarket? Memangnya mereka mau beli apa?" tanya Dave yang baru menyadari kalau istrinya sudah lama kuar dari ruang rawat inapnya.
"Ya, sudah aku susul. Kali saja mereka kecantol brondong. Sekarang kan para bujangan lebih suka sama istri orang ketimbang sama gadis atau pun janda," ucap Harry.
"Apa??? Aku tidak terima, cukup aku yang jadi brondongnya Sevia. Bukan orang lain," pekik Dave.
Tapi bener juga ya, gimana kalau Rani juga malah kepincut sama bujangan. Aku harus segera menyusulnya, batin Harry.
Harry pun segera pergi menuju ke luar kamar inap Dave. Namun, saat dia akan membuka pintu, ternyata sudah ada orang yang akan membukanya dari luar. Sehingga tabrakan itu tidak dapat dihindari lagi.
"Aduh ...." Harry langsung mengelus jidatnya yang kepentok pintu.
Rani yang membuka pintu merasa kaget saat mendengar suara suaminya yang mengaduh kesakitan. Dia pun segera menghampiri Harry.
"Daddy gak apa-apa?" tanya Rani cemas.
"Gak apa, hanya benjol sedikit," sarkas Harry.
Pake tanya lagi, aku kan mau menyusulnya. Tapi gengsi akh kalau harus terus terang, batin Harry.
"Aku mau ke toilet," Bohong Harry.
"Toilet bukannya ada di dalam ya? Memang mampet sampai harus ke luar?" tanya Sevia heran.
"Iya. Untung saja kita mau pulang. Jadi biar saja mereka yang urus," sahut Dave yang sedari tadi memperhatikan dengan apa yang telah terjadi.
"Dave, kata dokter semalam lagi menginap di sini. Kamu sih, belum sehat banget sudah mau main-main sama aku jadinya merembes lagi kan bekas jahitannya," sungut Sevia.
"Astaga, Dave! Lagi sakit juga masih saja bandel. Pantes saja berdarah lagi," timpal Harry.
"Sudahlah gak papa. Aku senang di sini karena bisa berduaan terus sama kamu," Dave mengerlingkan matanya genit pada Sevia.
"Dasar kang bucin, gak tahu sikon kalau mau bermesraan." sungut Harry.
"Ga usah rewel! Kamu kan ada Rani," ketus Dave.
__ADS_1
"Kamu benar, Dave. Ayo Ran, temani aku tidur! Aku cape sekali sepulang kerja langsung ke sini," Harry sengaja provokasi Dave dengan menarik tangan Rani dan membawanya menuju ke bed rumah sakit.
"Sudah ikh, ayo kita siap-siap. Urusan administrasi sudah beres," ucap Rani langsung melerai Dave dan Harry. "Mau saja dibohongi sama Sevia."
"Via!!!" panggil Dave.
"Hehehe ... Ampun Bang Jago!" Sevia langsung menempelkan kedua telapak tangannya dia atas kepala untuk meminta maaf.
"Awas ya, bohong lagi! Siap-siap saja kamu, aku hukum," ancam Dave.
Akhirnya, Dave pun bisa kembali ke rumah setelah satu minggu berada di rumah sakit. Mereka akan pulang ke rumah om dan tantenya Dave karena Devanya dan anak-anaknya Harry berada di sana.
Sepanjang perjalanan, Dave selalu saja bermanja-manja pada Sevia. Membuat Harry dan Rani hanya bisa saling melirik satu sama lain.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Harry pun langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah Icha. Nampak Icha dan yang lainnya berhamburan ke luar menyambut kedatangan Dave. Mereka begitu antusias saat tahu Dave akan pulang hai ini.
"Selamat datang kembali, Dave." Zee langsung menghambur memeluk Dave.
Dia sangat bahagia saudara angkatnya akhirnya pulih kembali pasca kejadian waktu itu. Begitupun dengan Edelweiss dan Kejora yang ikutan apa yang Zee lakukan pada Dave.
Sementara Sevia hanya tersenyum samar saat satu persatu sahabat Dave memeluk suaminya. Karena bukan hanya Zee yang melakukan hal itu, tetapi Kejora dan Edelweiss pun ikut memeluk Dave.
Gak boleh cemburu, Via! Mereka hanya bersahabat. Mungkin mereka sudah terbiasa melakukan hal itu. Kehidupan orang kaya dan kamu kan berbeda. Kamu hanya gadis yang berasal dari kampung, tentu akan merasa aneh melihat mereka saling memeluk seperti itu.
Dave yang teringat dengan istrinya, dia pun langsung menghampiri Sevia yang diam mematung. Dave pun langsung mengajak Sevia untuk masuk ke dalam.
"Ayo, sayang! Kenapa bengong di pintu?" tanya Dave.
"Ayo Via, masuk! Maaf ya kalau kamu merasa kaget dengan apa yang dilakukan Zee dan yang lainnya. Saat berkumpul, mereka terkadang masih seperti anak kecil yang tidak mengenal gender. Biar nanti Tante bilang sama mereka untuk lebih menjaga sikap," ucap Icha seraya merangkul Sevia agar masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa, Tan. Deva di mana, Tan? Kho gak kelihatan?" tanya Sevia langsung mengalihkan pembicaraan. Dia malu saat ada orang yang menebak dengan tepat isi hatinya.
"Deva sedang tidur bersama Orion. Lebih baik kita makan siang saja, mumpung masih hangat!" ajak Icha.
Sevia ternyata masih cemburu sama, Zee. Padahal aku sudah benar-benar tidak mengharapkannya. Karena yang aku inginkan sekarang, bisa terus hidup bersama kamu dan anak-anak kita.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih...
__ADS_1
Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin karya Author keren yang satu ini