Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 138 Salah Paham


__ADS_3

Saat dua wanita cantik beda generasi itu asyik bercengkrama seraya menikmati udara pagi yang menyegarkan. Nampak Dave yang sedang kelimpungan mencari istrinya. Dia yang baru saja selesai mandi saat mendengar suara Devanya menangis, langsung saja beranjak pergi mencari Sevia dengan menggendong Devanya.


Terdengar suara bisik-bisik pekerja di rumah itu saat melihat penampilan Dave yang keluar dari kamar tanpa memakai baju dan hanya mengenakan celana pendek sepaha. Para wanita muda begitu terpesona melihat otot-otot yang terbentuk di dada dan perut Dave. Namun, Dave yang sedang panik tidak memperdulikan bisikan mereka.


"Sarapan pagi kita hari ini spesial sekali, bikin air liurku menetes."


"Kamu benar, aku tidak menyangka bisa melihat langsung perut kotak-kotak seperti iklan di televisi."


"Iya, aku juga sama. Aku ingin sekali memegangnya."


"Hush! Nanti kamu dipecat tau, itu kan majikan kita juga."


"Udah yuk kerja lagi, sebelum ketahuan kita sedang menikmati keindahan dunia."


Bu Lina yang tanpa sengaja mendengar bisik-bisik pekerja wanita di rumah itu, ditambah lagi mendengar suara tangis Devanya, dia pun langsung bergegas menuju ke arah asal suara. Namun saat sampai di sana, dia pun langsung geleng-geleng kepala melihat penampilan Dave.


"Astaga, Den! Cepat pakai baju dulu, biar Deva sama Bibi," suruh Bi Lina.


"Memang kenapa, Bi? Aku sedang mencari Sevia," tanya Dave bingung.


"Udah cepat balik ke kamar sebelum Neng Sevia melihat Aden berkeliaran tanpa memakai baju." Bi Lina langsung mengambil Devanya dan mendorong Dave agar kembali ke kamarnya.


Namun, sepertinya Sevia sudah melihat apa yang para pekerja itu lihat. Dia pun langsung menghampiri Dave yang sedang Di dorong oleh pengasuhnya.


"Biar aku saja, Bi. Deva sama Mama atau Bibi?" tanya Sevia.


"Mama," jawab Devanya dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Ayo Sayang," Sevia pun langsung mengambil alih Devanya dan menarik Dave untuk masuk ke kamar.


"Kamu kenapa marah, Via? Memang salah aku apa?" tanya Dave saat sudah berada di kamar.


"Aku tidak marah, aku hanya tidak suka kamu mengundang pelakor untuk mendekat." Sevia langsung memberikan sumber kehidupan putrinya karena sedari tadi Devanya terus memegang buah kesayangannya.


"Maksud kamu apa? Aku kan tidak menggoda cewek manapun. Aku hanya mencari kamu," bela Dave.


"Iya, kamu memang mencari aku. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang, membuat banyak wanita melotot tak berkedip," jelas Sevia.


"Maksud kamu, karena aku gak pake baju? Kenapa, aku seksih kan?" tanya Dave dengan senyum mengembang.


Astaga Brondong aku ini, narsisnya gak ketulungan.


"Sudah cepetan pakai baju, setelah sarapan kita langsung pulang. Tante juga akan kembali ke timur tengah bersama dengan ibu," jelas Sevia.

__ADS_1


"Via, memang kamu tidak tergoda melihat tubuh aku? Kenapa yang lain tergoda tapi kamu tidak? Apa otot perutku masih kurang? Atau otot dadaku kurang besar?" tanya Dave yang tidak suka karena Sevia tidak memujinya.


"Dave, bukan seperti itu. Aku suka semua yang ada di diri kamu." Sevia menjinjit dan mencium bibir Dave sekilas membuat brondong itu pipinya sedikit bersemu merah.


"Aku pakai baju dulu, setelah Devanya kamu mandikan, aku ingin melanjutkan sarapan yang tadi kamu kasih." Dave langsung menuju ke koper yang tersimpan di samping meja rias dan mengambil baju yang ingin dipakainya.


Sementara Sevia menuju ke kamar mandi setelah selesai menyusui putrinya. Dia dengan telaten memandikan Devanya. Sampai bocah satu tahun itu tertawa senang dimandikan oleh mamanya.


Setelah semuanya siap, keluarga kecil itu langsung menuju ke meja makan karena mereka sudah ditunggu oleh Kirana dan suaminya. Sementara Kinara masih makan di dalam kamar di temani oleh perawatnya.


"Neng, biar Neng cantik sama Bibi saja. Dia pasti senang melihat bunga-bunga yang cantik," ucap Bi Lina seraya mengambil Devanya.


"Titip ya, Bi!"


"Iya Neng!" Bi Lina pun segera beranjak pergi karena majikannya akan sarapan


Setelah Bu Lina pergi barulah Sevia dan Dave menuju ke meja makan. Nampak di sana Tuan Hamish dan Kirana yang sudah duduk dengan tenang menunggu mereka berdua.


"Pagi, Tuan, Tante!" sapa Dave.


"Pagi, Dave. Duduklah!" suruh Tuan Hamish


Setelah saling berbasa-basi dan berdo'a bersama, keempatnya makan dengan tenang menikmati hidangan yang tersedia. Mereka pun menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing tanpa bersuara.


"Kita juga langsung pulang, Tan. Nanti sore aku mau ketemu klien," jawab Dave.


"Oh, begitu. Oh iya, Tante sudah menghubungi Om kamu. Dia kakak tertua Tante dan ibumu. Kalau kamu ada waktu, datanglah berkunjung ke rumahnya yang di daerah puncak," suruh Kirana.


"Iya, Tan. Aku masih menyesuaikan diri dengan keluarga ibu yang baru aku temukan," ucap Sevia.


"Kalau kamu butuh bantuan, hubungi saja dia. Dia pasti akan membantu. Meskipun dia terlihat kaku tapi sebenarnya baik," jelas Kirana.


"Iya, Tan."


Saudara ibu baik-baik, tapi kenapa kakek tega pada ibu. Apa begitu penting bebet bobot bibit dalam keluarga ibu? Sehingga orang biasa seperti bapak hanya dipandang sebelah mata dan dianggap tidak pantas menjadi bagian keluarganya. Kasian bapak dan ibu. Mereka mencintai.seseorang yang susah untuk dia gapai, batin Sevia.


Seperti apa yang dikatakan oleh Kirana, dia langsung berpamitan setelah selesai sarapan pagi. Kinara yang baru bertemu dengan putrinya merasa enggan untuk berpisah.


"Ibu cepat sehat lagi, nanti biar bisa bersama-sama dengan via dan cucu ibu." Sevia mengelus lembut tangan ibunya.


"Via, ibu sayang sama kamu. Maafkan ibu," Setetes air mata memaksa keluar dari pelupuk matanya. Kinara merasa sangat bersalah karena dulu dia pergi meninggalkan Sevia.


"Tidak, ibu tidak salah apa-apa. Via mengerti dengan keadaan ibu waktu itu. Mungkin kalau Via berada di posisi Ibu, Via akan melakukan hal yang tidak jauh beda dari ibu,"

__ADS_1


Mendengar apa yang istrinya katakan, Dave langsung melotot tidak percaya. Tega sekali istrinya berpikiran seperti itu. Tidak, Dave tidak terima dengan apa yang Sevia katakan.


Awas saja kamu Sevia!!! Berani meninggalkan aku dan Devanya, akan aku cari sampai ke ujung dunia. Aku tidak akan pasrah begitu saja seperti bapakmu, aku akan mencari kamu di manapun kamu berada, batin Dave.


Setelah mobil yang Kirana tumpangi pergi meninggalkan halaman rumah itu, Dave dan Sevia pun segera menyusul dari belakang. Mereka berjalan beriringan melewati perkebunan coklat yang luas. Setelah keluar dari perkebunan, barulah mobil mereka berbelok ke arah yang berbeda. Dave dan Sevia menuju ke kota industri, sedangkan Kirana dan ibunya menuju ke bandara.


Dave yang masih kesal dengan apa yang Sevia katakan, dia hanya diam membisu meskipun Sevia sesekali mengajaknya ngobrol. Tetapi Dave hanya menjawab dengan singkat.


Dave kenapa? Apa karena tadi pagi gak jadi mantap-mantap sehingga dia menjadi kesal padaku? Tidak biasanya dia bersikap seperti itu, batin Sevia.


"Dave, Aku ingin es kelapa muda. Katanya kelapa ijo bagus untuk ibu hamil," ucap Sevia saat mereka melewati pedagang es kelapa muda di pinggir jalan.


"Iya nanti," ucap Dave.


"Dave, nanti berhenti di warung yang pinggir sungai itu loh, yang berjejer menjual kelapa ijo," pinta Sevia.


"Iya!" sahut Dave singkat.


"Dave, kamu kenapa marah? Apa aku bikin salah?" tanya Sevia.


"Iya!" Dave yang sedang melamun hanya menjawab asal pertanyaan Sevia.


Aku salah apa sama dia? Perasaan aku tidak melakukan hal apapun. Pasti benar dugaan aku, dia marah karena keinginannya tadi pagi tidak aku penuhi. Harusnya Dave mengerti dengan posisi aku, bukannya marah seperti ini, keluh Sevia dalam hati.


Setelah menemukan warung es kelapa ijo yang Sevia inginkan, mobil Dave pun langsung berbelok dan terparkir rapi dibawah pohon yang rindang. Mereka pun segera turun dan memesan apa yang diinginkannya.


"Dave, jangan marah lagi dong! Yang tadi pagi, kita ganti saja saat sudah sampai di rumah ya," rayu Sevia.


"Maksud kamu?" tanya Dave.


"Kamu marah karena tadi pagi kita gak jadi mantap-mantap kan? Aku pasti akan menggantinya," ucap Sevia.


Padahal aku kesal bukan karena hal itu, tapi karena kamu yang menawarkan sendiri, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik Like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya teman Author yang keren ini.


__ADS_1


__ADS_2