
Dave langsung mengecek ponselnya melihat titik koordinat di mana Noni berada. Namun, alisnya langsung bertautan saat melihat kalau Noni sudah tidak ada di tempat semula. Dia pun langsung bergegas keluar menuju ke mobilnya.
"Via, telpon Harry kalau Noni menuju terminal. Aku akan ke sana." Setelah memberikan pesan pada istrinya, Dave langsung menancap gas menuju ke terminal. Berharap pengasuh Gavin masih ada di sana.
Sevia hanya melihat kepergian suaminya. Dia pun langsung menghubungi Rani untuk memberitahukan tentang keberadaan Noni. Setelah panggilan teleponnya tersambung, Sevia pun bicara tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Hallo Rani! Kata Dave Noni bawa Gavin ke terminal. Cepat kamu dan Harry susul ke sana!" seru Sevia bicara tanpa jeda.
"Apa??? Terminal???"
"Iya, cepetan ke sana!"
Rani langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas menghampiri Harry yang sedang bertanya tentang Noni pada pemilik kontrakan yang didatangi oleh Noni. "Harry kata Sevia, Noni ke terminal. Ayo kita ke sana!"
"Ayo kita ke sana! Makasih ya Mbak atas informasinya," ucap Harry kemudian dia bergegas pergi menuju terminal seperti apa yang dikatakan oleh Sevia dalam telepon.
Pasangan suami istri itu tak hentinya berdoa untuk keselamatan putranya. Sementara itu, Sevia terus mencoba menghubungi Noni untuk mengulur waktu. Saat panggilan teleponnya tersambung, Sevia pun langsung berbicara tanpa mengucapkan salam dulu.
"Noni, kamu di mana? Kenapa pergi gak pamit dulu. Apa kamu tidak ingin aku kasih bonus?" tanya Sevia tanpa jeda.
"Mbak Via, jangan bohong! Aku tahu kalau Mr. Dave mau memecat aku dan mengganti dengan pengasuh yang lain. Mbak Via tahu, aku sangat menyukai Mr. Harry dan menganggap Gavin sudah seperti anakku sendiri. Sekarang Mr. Harry sudah menikah lagi, aku tidak akan rela menyerahkan Gavin pada orang lain." Terdengar suara Noni yang sedikit bergetar menahan gejolak di hatinya.
"Noni, tenang dulu! Kita bisa bicarakan baik-baik. Kalau kamu ingin bekerja bersamaku, aku bisa bicara dengan suamiku untuk tidak memecat kamu," rayu Sevia.
"Aku sudah tidak percaya pada Mbak Via. Aku gak akan kembali kalau Mr. Harry tidak mau menikah denganku." Noni masih saja kekeh dengan keinginannya. Sampai Sevia menyerah, harus dengan cara apa dia membujuk Noni.
__ADS_1
Sementara itu, Dave sudah sampai ke terminal. Dia masih saja terus mencari keberadaan Noni. Dengan terus menerus melihat pergerakan pengasuh anak sahabatnya. Sampai akhirnya Dave melihat seorang gadis sedang duduk di bangku tunggu.
Perlahan Dave mendekat, terdengar suara gadis itu yang sedang terisak. Meratapi cintanya yang tak berbalas. Noni tidak mau jika harus kehilangan Gavin setelah dia tidak bisa mendapatkan Harry.
"Noni, kamu tahu apa yang bisa membuat hidup seseorang menjadi tenang? Melepaskan dengan ikhlas apa yang tidak mungkin kita miliki. Karena apa? Karena di tempat lain, ada seseorang yang begitu mengharapkan kita. Cobalah buka hatimu! Jangan terus terpaku pada sosok Harry yang tidak mungkin bisa kamu miliki. Aku yakin, di tempat lain ada seseorang yang mengharapkan cintamu." Dave terus saja bicara tanpa memberi kesempatan pada Noni untuk membantahnya.
"Mr. Dave," lirih Noni.
"Aku akan memaafkan kamu kalau kamu mau mengembalikan Gavin pada orang tuanya. Ingat Noni, sebesar apapun kasih sayang yang kamu berikan pada Gavin, tapi yang diharapkan oleh seorang anak adalah kasih sayang orang tuanya. Apa kamu tega membuat Gavin menjadi seorang anak yang haus kasih sayang orang tua?" Lagi-lagi Dave bicara tanpa memberi ruang pada Noni untuk bicara.
"Aku ... aku ...."
"Aku memberi kamu waktu lima menit untuk berpikir. Kalau kamu masih tidak bisa memberikan Gavin padaku atau pada Harry, jangan salahkan aku jika tega padamu. Kamu lihat, laki-laki yang ada di depan pintu masuk dan di dekat loket yang memakai baju serba hitam? Mereka itu pengawal aku yang siap membekuk kamu jika kamu tidak mau menuruti apa yang aku katakan. Waktu kamu tinggal dua menit lagi untuk memikirkan keputusan apa yang akan kamu ambil." Dave melihat ke arah pergelangan tangannya yang terdapat jam tangan rolex yang melingkar di sana.
Bagaimana aku berpikir kalau dia terus bicara. Aku tidak nyangka Mr. Dave yang biasanya diam dan cuek bisa bicara banyak padaku. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa lari dengan menggendong Gavin. Apa aku berikan saja, tapi aku juga tidak mau kehilangan Gavin, batin Noni.
"Waktumu habis, cepat ambil keputusan kamu! Aku tidak punya banyak waktu, Bos besar mau datang ke perusahaan." Bohong Dave.
"Mister, tapi apa yang ada katakan benar kan? Anda akan membebaskan aku dan memberi aku bonus seperti apa yang Mbak Sevia katakan," tanya Noni.
"Bonus apa maksud kamu? Oh istriku bicara akan memberi bonus padamu? Itu sebelum kamu membuat ulah, tapi sekarang kamu sudah merugikan aku dengan membuang-buang waktu berharga aku." Dave membuat alibi yang sukses membuat Noni langsung membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Mister, Anda jangan berbohong padaku. Aku tidak mau memberikan anak ini kalau tidak diberi bonus," ucap Noni.
"Aku akan memberi kamu bonus, kalau kamu memberikan Gavin padaku." Harry langsung bicara setibanya dia di sana.
__ADS_1
Harry kenapa bodoh sekali. Aku tidak mau kasih bonus sama penculik, dia malah mau memberikannya, batin Dave.
"Beneran Mr. Harry? Anda tidak berbohong padaku kan?" tanya Noni dengan memeluk erat Gavin yang berada dalam gendongannya.
"Iya, sekarang cepat berikan Gavin padaku! Kasian dia terlalu lama di sini," pinta Harry.
"Baiklah, tapi aku minta bonus lima kali gaji aku." Noni pun memberikan Gavin saat Harry mendekat dan mengambil putranya.
"Iya, sekarang kamu ikut saja dulu ke rumah. Aku pasti memberikan apa yang kamu minta," suruh Harry langsung pergi meninggalkan Dave yang melongo dengan apa yang dilakukan sahabatnya.
Melihat Noni yang mengikuti kepergian Harry, Dave pun langsung pulang dengan menyuruh pengawal itu untuk mengikutinya. Dia curiga, Harry akan melakukan hal yang tidak bisa dia duga sebelumnya. Dave tahu, Harry tidak mungkin melepaskan begitu saja orang yang telah membahayakan keluarga atau sahabatnya.
Sesampainya di rumah, nampak Noni yang sedang duduk menunggu di ruang tamu. Sementara Harry masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil uang seperti yang diminta Noni. Namun, sepertinya bukan hanya uang yang dia ambil, tetapi ada hal lain juga.
"Rani, buatkan minuman untuk Noni!" suruh Harry. Meskipun merasa heran, Rani tetap mengikuti apa yang suaminya katakan
Setelah melihat Rani membawa minuman yang Harry minta, dia pun langsung mencampurnya dengan obat tidur sebelum diberikan pada Noni. "Minumlah! Aku yakin, kamu pasti haus. Ini bonus yang kamu minta."
"Terima kasih, Mister!" Noni nampak senang mendapat perhatian dari Harry. Namun kepalanya langsung terasa berputar-putar saat dia selesai meminum minuman yang diberikan oleh Harry.
"Bawa gadis itu pergi! Turunkan saja di tengah hutan!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...