Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 155 Saling Menjaga


__ADS_3

Devanya nampak bahagia berkendara bersama dengan papanya, meski jarak dari rumahnya ke pengkolan ojeg depan perumahan tidak begitu jauh, namun kebersamaan dengan papanya sangat berarti dengan bocah kecil itu. Devanya terus saja berceloteh yang sebagian di mengerti Dave tapi sebagian lagi dia tidak memahami apa maksud dari ucapan putrinya.


"Wah, kita sudah sampai nih. Sarapan dulu yuk sama Papa! Nanti jalan-jalan lagi, Deva mau?" tanya Dave.


"Mau, Pah mau." Mata Devanya terlihat berbinar mendengar ajakan dari papanya.


"Oke, kita sarapan." Dave langsung menggendong Devanya seraya menenteng kantong plastik berisi makanan.


Dia sudah mulai terbiasa makan makanan dari penjual di pinggir jalan semenjak mengenal Sevia. Yang menurutnya tidak kalah enak dari makanan restoran bintang lima. Tinggal kita memilih saja mana penjual yang terlihat bersih lingkungannya dan tidak.


Saat Dave masuk ke dalam rumahnya, nampak Sevia yang seperti habis menelpon dengan wajah sedihnya. Dave segera menghampiri dan duduk di samping Sevia. Lalu menyimpan bawaannya di atas meja.


"Bi, tolong siapkan sarapan mangkuknya dan bawa ke sini aja," suruh Dave pada Bi Ijah pembantu di rumahnya.


"Iya, Den." Bi Ijah pun langsung menghentikan pekerjaannya yang sedang membersihkan lemari kaca dan bergegas menuju ke dapur.


Sementara Dave, dia langsung melihat wajah istrinya yang terlihat murung. "Mommy kenapa? Kho sedih gitu?"


"Dave, tadi aku nelpon Bapak nanyain warungnya yang kebakaran itu. Kata Bapak warungnya ludes," ucap Sevia.


"Apa pelaku sudah ditangkap?" tanya Dave.


"Sudah, katanya mantan suami istrinya yang ngelakuin itu. Karena dia kesal tidak bisa rujuk dengan mantan istrinya," terang Sevia.


"Sekarang orang-orang pada nekat. Bilang ke Bapak, jangan sedih! Nanti aku kasih modal asal dipakai usaha yang benar dan tidak terus memanfaatkan kamu," ucap Dave.


"Iya Dave, makasih!"

__ADS_1


...***...


Hari-hari pun terus berlalu. Waktu pun terus berputar. Kini usia Devanya sudah tujuh tahun dan sudah kelas dua sekolah dasar, sedangkan Davin dan Devan sudah sekolah taman kanak-kanak. Keduanya bersekolah di sekolah internasional di bawah naungan yayasan Mahardika.


Begitupun dengan anak-anaknya Harry dan semua cucu om dan tantenya Dave. Mereka semua bersekolah dia sekolah yang sama. Meskipun mereka semua sudah sering bersama-sama, tapi namanya anak-anak pasti saja selalu ada yang diributkan.


Seperti hari ini, nampak Devanya yang sedang rebutan mainan dengan Orion putranya Zee. Entah kenapa Orion selalu saja mencari masalah dengan Devanya. Apalagi, jika banyak anak lelaki yang memuji kecantikan Devanya, Orion pasti marah dan selalu bilang kalau Devanya jelek.


"Ion, kembalikan kotak musikku! Kenapa kamu mengambilnya?" tanya Devanya kesal.


"Kamu tuh gak cocok punya kotak musik kayak gini, jelek." Orion langsung saja melemparkan kotak musik itu ke sembarang tempat. Namun, Keano yang kebetulan lewat, langsung menangkapnya.


"Kenapa dibuang, Ion?" tanya Keano pada sepupunya.


"Buang saja, Bang! Jelek, semua milik Vanya jelek, wajah dia juga jelek. Aku tidak suka melihatnya," ujar Orion.


"Bang Ano, Ion ganggu aku terus, Bang. Dia coret-coret tempat makan dan botol minum aku," adu Devanya.


"Abang tidak suka kalian ribut, ayo baikan!" suruh Keano dengan nada dingin.


Devanya dan Orion yang memang usianya jauh lebih muda dari Keano langsung menurut apa yang dikatakan olehnya. Meskipun masih kecil tapi kharisma Keano sudah terlihat. Banyak orang yang merasa segan padanya dan tidak berani membantahnya.


Setelah kejadian itu, Devanya pun langsung mengadu pada papanya. Entah kenapa, dia lebih dekat dengan Dave ketimbang dengan Sevia. Devanya lebih sering bercerita tentang apa yang dirasakannya pada Dave.


"Papa, kenapa Ion nyebelin banget? Dia sering sekali ngerjain aku," keluh Devanya saat Sevia sedang mengajari si kembar


"Mungkin dia suka sama Deva," tebak Dave.

__ADS_1


"Mana mungkin, Pah. Dia sering bilang aku jelek, padahal yang lain bilang aku cantik." Devanya langsung memasang wajah cemberut di depan papanya.


"Putri Papa memang yang paling cantik. Kalau banyak orang yang bilang Deva cantik terus ada satu orang yang bilang jelek, itu berarti orang itu ingin terlihat beda di mata Deva. Dia hanya ingin mencari perhatian putri Papa yang cantik ini, jadi Deva gak usah marah dan gak usah ditanggapi ucapannya, oke girls!"


"Oke, Pah!" Devanya menautkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran.


"Pintar!" Dave pun mengelus rambut putri kesayangannya.


Bukan tidak tahu dengan sikap Orion pada Devanya. Namun, Dave berusaha untuk memakluminya karena mereka masih anak-anak. Selama itu belum kekerasan fisik dan bullyan. Dave tidak akan mempermasalahkannya.


Sevia yang mendengar pembicaraan suami dan putrinya, dia pun langsung bicara pada kedua putranya yang sedang belajar bersamanya.


"Davin, Devan, Mama punya tugas untuk kalian. Jagain Kak Deva ya, ada atau tidak ada Mama dan Papa. Mama harap anak-anak Mama saling menjaga satu sama lain, saling menyayangi dan saling berbagi kebahagiaan maupun kesulitan. Apa kalian mengerti?" tanya Sevia.


"Iya, Mah! Kita ngerti, aku akan jaga Kakak dari orang jahat," ucap Davin.


"Aku juga ngerti, Mah! Kalau aku dapat hukuman dari mama maka aku akan mengajak Kak Deva dan Kak Davin," ucap Devan dengan senyum yang mengembang.


"Kalau kesalahan gak boleh dibagi, Boy. Itu harus ditanggung sendiri," timpal Dave.


Akhirnya semua tertawa melihat tingkah Devan yang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang Devan punya sisi konyol yang menurun dari mamanya. Meskipun tetap gen Dave yang dominan menurun pada anak-anaknya.


...~End~...


Alhamdulillah Season 1 sudah end, yuk lanjut ke season 2! Eits ... tapi jangan lupa sawerannya ya Kakak say. Biar Othor lebih semangat updatenya.


Terima kasih sudah mengikuti cerita Dave dan Sevia. lope lope buat semua kakak readers tersayang ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2