Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 96 Vitamin Penambah Stamina


__ADS_3

Suasana di meja makan nampak hening. Terlihat kecanggungan di wajah Diandra dengan adanya Harry yang bergabung sarapan pagi bersama dengan mereka. Hingga gadis itu hanya diam saja dan berbicara seperlunya.


"Dian, Daddy minta maaf jika kehadiran Daddy mengganggu kamu. Maaf juga, Daddy tidak bisa hadir di pesta pernikahan kamu dengan Davin." Harry muai membuka obrolan setelah dia menyelesaikan sarapannya.


"Iya, Dad. Tidak apa," sahut Diandra.


"Satu lagi, Daddy nitip mama kamu sampai minggu depan. Menunggu rumah baru Daddy siap untuk ditempati," ucap Harry.


"Apa? Rumah baru? Apa Daddy serius menjual rumah lama kita?" tanya Diandra kaget.


"Iya, sudah lama Daddy jual. Sesaat setelah kalian tinggal di rumah Sevia. Sebenarnya Daddy mau langsung mengajak kalian pindah ke rumah baru. tapi menurut Om Dave, semasa penyembuhan mama kamu, lebih baik kalian tinggal di rumahnya agar lebih terpantau," jelas Harry.


Aku selalu berpikir, kalau Daddy sudah tidak peduli sehingga meninggalkan kami begitu saja di rumah Tante Sevia. Ternyata Daddy memikirkan hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Bahkan dia rela menjual rumahnya untuk mencari suasana baru, batin Diandra.


"Tidak apa, kan? kalau mama seminggu lagi tinggal di sini. Soalnya Daddy harus ke pabrik Cikarang dulu. Ada projects yang harus Daddy selesaikan di sana. Mungkin juga, Daddy akan jarang pulang selama seminggu itu." tanya Harry lagi saat melihat Diandra hanya terdiam.


"Iya, tidak apa Dad! Dian malah senang kalau mama tinggal di sini," sahut Diandra.


Davin yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mertua dengan istrinya akhirnya angkat bicara. "Om, aku berangkat dulu ke kantor. Om istirahat saja dulu di rumah. Pasti lelah baru datang dini hari tadi."


"Makasih, Vin. Tapi nanti kamu harus panggil Om, Daddy. Karena sekarang kamu sudah menjadi menantu Om," ucap Harry.


"Ah iya lupa, Daddy." Davin tersenyum saat mengucapkan kata Daddy pada Harry. Lidahnya masih terasa kaku saat harus mengganti panggilan pada om-nya.


Syukurlah kehangatan kembali datang di rumahku. Ternyata saat kita bisa memaafkan, terasa ada beban yang hilang di hati. Semuanya terasa plong, terasa lega. Seakan mendung yang menggumpal berubah menjadi awan putih dan membuat langit terlihat cerah, batin Rani.


...***...


Sementara di sebuah rumah yang megah, dengan halaman yang lumayan luas serta air mancur yang menghiasi taman bunga. Terlihat sepasang suami istri, yang sedang menikmati sarapan paginya di teras samping rumahnya. Devanya terus saja menyuapi Keano yang mendadak manja padanya.


Laki-laki tampan itu seperti malas melakukan aktivitas seperti biasanya. Sedari dia bangun tidur, selalu saja menempel pada Devanya. Bahkan enggan pergi ke kantor jika istrinya tidak ikut bersamanya.


"Ini suapan terakhir ya, Bang. Habis ini berangkat ke kantor. Tuh Bang Hayden sudah menunggu di dekat mobil!" tunjuk Devanya.


"Abang gak mau berangkat kalau kamu gak ikut. Biar saja Hayden bawa kerjaan Abang ke rumah," ucap Keano lalu membersihkan mulutnya.


"Bang Hay, hari ini Bang Ano libur ya!" teriak Devanya.


"Jangan!!! Ada meeting penting dengan klien dari Jerman." teriak Hayden panik. Dia langsung mendekati bos dan istrinya yang baru selesai sarapan.

__ADS_1


"Bos, masa kamu lupa hari ini ada meeting penting? Kenapa mendadak libur? Sudah rapi begitu juga," tanya Hayden dengan menyelidik penampilan Keano yang memang terlihat sudah siap berangkat kerja.


"Aku berangkat kalau Ay juga ikut berangkat," jawab Keano datar.


"Istighfar Bos, kenapa kamu bisa seperti ini? Kemana Keano yang workholic?" Hayden mengusap wajahnya gusar.


Dia pusing jika tiba-tiba harus membatalkan meeting itu. Tidak mungkin dia memberikan alasan yang sebenarnya karena sudah pasti bosnya akan di cap tidak profesional sehingga akan membuat klien hilang kepercayaan pada perusahaannya.


"Astaghfirullah Al Adzim," ucap Devanya.


"Dev, ikut ya, please!" mohon Hayden dengan menempelkan kedua telapak tangannya memohon pada Devanya.


"Ya udah deh, tapi siapkan makanan yang banyak karena aku cepat lapar," ucap Devanya.


"Siap Bu Bos, laksanakan!" Hayden langsung menghormat pada Devanya seperti seorang prajurit yang menghormat pada komandannya.


Setelah Devanya berganti baju, mereka pun langsung berangkat ke kantor. Hayden terus-terus menelan ludahnya kasar saat melihat kemesraan Keano dan Devanya lewat rear-vision mirror yang ada di dalam mobil. Bagaimana tidak, Keano terus memeluk istrinya dengan sesekali mencium pipi gadis itu.


Kemasukan apa Ano bisa seperti itu? Aku merasa sudah tidak mengenalnya lagi, batin Hayden.


Setibanya di perusahaan, tanpa sungkan Keano merangkul pinggang istrinya. Seakan dia ingin memamerkan pada semua orang kalau dia sangat beruntung karena bisa memiliki Devanya. Namun, tidak bagi gadis bermata biru itu. Dia menjadi was-was akan ada orang yang merasa tidak suka padanya.


"Siap, Bos!" sahut Hayden seraya berlalu pergi menuju ke ruangannya.


Keano langsung menghampiri Devanya yang sudah duduk manis di sofa. Gadis itu langsung menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa. Rasanya lelah berjalan dari lobby sampai ke ruangan Keano. Meskipun mereka menggunakan lift.


"Kenapa cape?" tanya Keano.


"Iya, sekarang aku jadi cepat lelah. Pengennya tiduran terus." Dia berpindah menjadi tiduran di paha Keano.


"Maaf, Ay. Entah kenapa, Abang rasanya ingin dekat kamu dan anak kita terus. Abang takut, saat kamu tidak dalam pengawasan Abang, terjadi hal yang tidak Abang inginkan."


"Abang, terkadang ketakutan yang berlebihan, akan membuat hal yang kita takutkan menjadi nyata. Jangan terlalu over, santai saja ya!"


"Abang usahakan! Jangan pergi ke mana pun selama Abang meeting. Paling hanya satu jam Abang di sana," ucap Keano seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jangan terburu-buru jika meetingnya belum mencapai mufakat. Aku pasti akan menunggu di sini. Kalaupun bosan, pasti tidur."


"Kalau mengantuk, tekan saja tombol nomor lima yang ada di kursi Abang. Nanti pintu ajaibnya akan terbuka," ucap Keano dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Siap suamiku sayang!" seloroh Devanya


"Apa, Ay? Ulangi lagi!"


"Enak saja ingin siaran ulang, sini bayar dulu." Devanya menengadahkan tangannya meminta bayaran pada Keano.


Namun, bukan bayaran uang yang dia dapatkan, tetapi pagutan bibir yang lembut dari Keano yang dia terima. Suaminya itu tidak mau melepaskan pagutannya meskipun dia harus menunduk. Sampai terdengar suara pintu yang terbuka, barulah Keano melepaskan pagutannya. Devanya pun secepatnya duduk denganbenar seraya mengelap bibirnya yang masih ada sisa saliva.


"Kalian kenapa? Seperti maling yang tertangkap basah?" tanya Hayden dengan menenteng kantong berisi makanan untuk Devanya.


"KEPO!!!" ketus Devanya.


"Hahaha ... Aku sudah bisa menebaknya. Kamu apakan sahabat Abang sampai bisa seperti itu, Deva?" tanya Hayden.


"Tentu saja aku kasih ...." Devanya tidak melanjutan ucapannya saat terdengar suara Keano menimpali.


"Vitamin penambah stamina," potong Keano.


"Kalian tuh benar-benar ya. Ayo, Bos! Klien-nya sudah datang," ajak Hayden.


"Sebantar ya Ay! Abang meeting dulu," pamit Keano pada istrinya seraya mencium kening dan perut Devanya.


Setelah kepergian Keano dan Hayden, Devanya pun memilih untuk berselancar di dunia maya. Tanpa sengaja dia melihat sebuah video atraksi lumba-lumba. Entah kenapa, tiba-tiba dia teringat dengan lumba-lumba peliharaan Keano yang waktu itu mereka lihat.


Apa kabar Devdev. Ada-ada saja Bang Ano, kenapa namanya mirip dengan namaku Devanya, Devdev. Jangan-jangan, dia ambil nama itu dari potongan namaku. Kalau benar, berarti Bang Ano diam-diam jadi pengagum rahasia aku. Kenapa gak bilang dari dulu ya? Mungkin kalau bilang, aku jadi ngerasain kisah kasih di sekolah. Bukan setiap hari dikerjain oleh Ion, batin Devanya.


Bosan bermain ponsel, gadis bermata biru memilih untuk menonton drama dari negeri ginseng dengan mulut yang tidak berhenti menikmati cemilan yang tadi dibawa oleh Hayden. Sampai akhirnya dia tertidur di sofa.


Dalam tidurnya, dia melihat begitu banyak darah di kolam penangkaran Devdev. Dengan wajah Keano yang terlihat sedih dan frustrasi. Serta seorang wanita cantik yang tersenyum sinis.


Devanya langsung terbangun saat wanita cantik itu tersenyum padanya dengan seringai yang menakutkan. Jantungnya terus berpacu dengan peluh yang membasahi wajahnya. Berulang kali dia mengucapkan istigfar dan terus meyakinkan diri kalau itu hanya mimpi sebagai bunga tidur.


"Jangan percaya mimpi Devanya! Itu semua karena tadi melihat video lumba-lumba. Dev-dev pasti baik-baik saja," gumam Devanya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2