Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 85 Beruang Kutub Posesif


__ADS_3

"Ini Kak, katanya Ion kalau liat Kakak suka menegang. Padahal aku biasa aja," ucap Devan cuek.


"Abang gak ijinkan kamu atau kamu melihat istri Abang dengan tatapan memuja. Apalagi, sampai menegang seperti yang kalian bicarakan," tunjuk Keano dengan merangkul pundak istrinya posesif.


"Ck! Dasar beruang kutub posesif. Padahal aku yang lebih dulu pacaran dengan Vanya," gerutu Orion.


Saat Devan akan berbicara lagi, terdengar suara helikopter yang mengudara di atas yacht. Keempat orang itu langsung mendongak melihat heli jemputan mereka. Orion dan Devan langsung naik duluan saat Hayden menjulurkan tangga ke bawah. Sementara Keano dan Devanya saling berpelukan saat ditarik ke atas.


"Kita berdua merangkak naik ke atas, sedangkan kang Sultan mah enak ditarik sambil meluk cewek cantik pula," sungut Orion saat mereka sudah sama-sama duduk.


"Ion, kamu juga bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Tidak usah iri pada Bang Ano," ucap Devan yang kebetulan otaknya


sedang dalam keadaan baik-baik saja.


"Mimpi! Opa Andrea bahkan tidak segan mencaplok perusahaan Pratama Group kalau menyinggung dia. Padahal, Oma Mitha kan masih memiliki darah Pratama juga."


"Itu karena Opa kamu tidak bisa berdamai dengan keadaan. Dari jaman dulu sampai sekarang keluarga Pratama dan Wiratama selalu berebut perempuan."


"Sok tahu kamu Devan!"


"Aku tahu semua silsilah keluarga kalian dari Opa Andrea."


Keano hanya diam mendengarkan apa yang sepupu dan adik iparnya bicarakan. Karena memang benar adanya Keluarga Pratama dan Wiratama selalu mencintai gadis yang sama dimulai dari kakek buyutnya, Opa Andrea dan sekarang dia sendiri dengan Orion.


Setelah perjalanan kurang lebih empat puluh menit, Helikopter yang mereka tumpangi mendarat di sebuah lapangan bola yang ada di desa mendiang neneknya Sevia. Mereka pun langsung turun dan berpamitan pada Hayden yang akan kembali ke ibu kota.


Nampak mobil penjemputan sudah terparkir rapi di pinggir jalan. Rupanya, Hayden sudah menyiapkan segala sesuatunya, agar bosnya nyaman berada di kampung mertuanya.


Keano dan Devanya langsung naik ke mobil yang berwarna hitam metalik, sedangkan Devan dan Orion naik ke mobil silver yang ada di belakang mobil yang Keano tumpangi. Mereka pun menuju ke rumah mendiang eyang Devanya.


Setibanya di sana, nampak Sevia dan Dave sudah menunggu di depan rumah dengan secangkir kopi dan gorengan yang menemani. Tidak jauh dari mereka, nampak seorang kakek gaul yang kini rambutnya sudah berubah menjadi putih semua.


"Assalamu'alaikum," ucap Devan kencang.


"Wa'alaikumsalam," ucap Sevia, Dave dan ayahnya kompak.


"Wah cucu Kakek semakin tampan saja," puji Rudi. "Pasti sekarang sudah punya banyak duit karena sudah jadi bos, bagi sama Kakek buat beli rokok."

__ADS_1


"Kakek tenang saja! Jangankan hanya satu bungkus rokok, perusahaannya pun masih sanggup untuk dibeli. Benar begitu, Bang Ano?"


"Hm ...." Keano hanya berdehem menanggapi ucapan Devan.


Devan mengedipkan mata pada kakeknya. Dia memberi kode agar sang kakek gaul itu meminta uangnya pada Keano saja. Karena dia tahu, kakeknya itu sering sekali memasang muka melas saat meminta uang pada mamanya.


Devan dan yang lainnya pun langsung menyalami para orang tua yang sedang menunggu kedatangannya. Sevia langsung memeluk putrinya lama. Dia merasa kangen dengan Devanya yang tidak pernah jauh darinya.


"Sayang, bagaimana bulan madunya? Maaf kalau mama mengganggu acara bulan madu kalian," ucap Sevia.


"Gak apa, Mah! Memang ada apa kita semua disuruh pulang kampung?" tanya Devanya.


"Sebenarnya, kita ke sini untuk melamar Diandra. Mama khawatir melihat kedekatan Davin dengan Diandra. Sepertinya mereka bertindak sudah terlalu jauh," ucap Sevia


"Maksud, Mama?" Devanya langsung terperanjat kaget mendengar penuturan mamanya.


"Ke dalam dulu yuk! Mama cerita di dalam saja," ajak Sevia.


Sevia langsung mengajak putrinya untuk masuk ke dalam rumah. Dia membiarkan para pria mengobrol di teras seraya menghisap sebatang rokok yang Orion selalu bawa. Tetapi Keano hanya Diam melihat ketiga lelaki beda generasi itu sedang asyik dengan benda bernikotin itu.


"Iya, Mah. Deva cape banget," keluh Devanya seraya berlalu ke kamar mamanya.


Sevia hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Dia jadi teringat saat dulu awal-awal menikah dengan suaminya. Banyak cobaan yang harus dia hadapi. Apalagi, jika dia teringat akan perpisahannya waktu itu dengan Dave. Rasa sakitnya masih terasa jika mengingatnya.


Sevia langsung menuju ke dapur untuk membuat minuman. Bi Ijah yang sedang memasak langsung menengok melihat kedatangan Sevia. Wanita paruh baya itu lalu bertanya.


"Apa sudah pada datang, Bu?"


"Sudah, Bi. Deva sedang istirahat, sedangkan yang lainnya ada di teras." Sevia berbicara dengan tangan yang mengambil gelas dari dalam rak piring.


"Biar Bibi saja yang siapkan," ucap Bi Ijah.


"Sudah, bibi lanjut masak saja. Biar aku yang buat minuman untuk mereka," sanggah Sevia


Setelah membuat sirup karena cuaca yang panas, Sevia pun kembali ke teras. Dia menyimpan satu persatu gelas di atas meja. Namun, saat matanya melihat Devan yang sedang menghisap sebatang rokok, dengan refleks dia menjewer kuping putranya.


"Mah, lepas! Sakit, Mah." Devan meringis mendapat jeweran mendadak dari mamanya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu merokok? Umur kamu saja belum genap delapan belas tahun, sudah berani memegang benda seperti ini," geram Sevia.


"Via jangan galak-galak sama anak! Devan sudah besar. Bapak saja dari SMP sudah kenal rokok. Nenek kamu tidak pernah memarahi Bapak," bela Rudi.


"Aku bukan almarhumah nenek, Pak. Aku punya aturan sendiri untuk anak-anak aku," sewot Sevia. Dia tidak kesal jika melihat bapaknya selalu meminta uang padanya ataupun pada Dave bahkan pada anak-anaknya. Tapi dia kesal jika bapaknya malah membela ketika anaknya melakukan kesalahan..


"Devan, buang rokoknya!" suruh Dave.


"Kamu juga, kenapa membiarkan dia kenalan dengan benda yang begituan." Akhirnya Dave pun mendapatkan jatah kemarahan Sevia.


"Iya, sayang maaf! Sudah jangan marah-marah terus, malu dilihat menantu." Dave langsung menenangkan isterinya.


Aku baru kali ini melihat Tante Via marah. Tapi kenapa Om Dave seperti ketakutan saat melihat Tante Via marah? batin Keano.


"Maaf, Mah! Devan hanya mencicipi tadi," ucap Devan melas.


"Awalnya hanya mencicipi tapi ujungnya nanti ketagihan." Sevia pun melepaskan jeweran-nya. Bersamaan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik meskipun tanpa polesan .


"Assalamu'alaikum," ucap Yati, mamanya Andika


"Wa'alaikumsalam." Kompak semua orang yang ada di teras.


"Mama, apa kabar?" tanya Sevia dengan mencium tangan Yati.


"Alhamdulillah baik, Via. Kamu bagaimana kabarnya? Bisa Mama bicara sebentar dengan kamu dan suamimu?"


"Boleh, Mah. Ayo kita bicara di dalam!" ajak Sevia.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Brondong Tajir update. Yuk kepoin karya teman Author yang keren ini.


__ADS_1


__ADS_2