Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 49 Kamu kalah Harry


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, kini Dave dan Sevia kembali menuju kota industri di mana mereka bekerja. Setelah semua urusan tentang renovasi rumah neneknya Sevia selesai, pria bermata biru itu mengajak Sevia untuk cepat-cepat kembali ke Cikarang. Bukan apa-apa, Dave takut Sevia goyah dan menyetujui permintaan mamanya Andika. Dave bisa merasakan kegalauan Sevia, yang dia tahu tidak akan semudah itu melupakan seseorang yang menjadi cinta pertama. Meskipun orang itu sudah menyakiti. Walaupun mulut terus mengatakan membencinya tapi semua kenangan tentangnya akan tersimpan rapi di hati.


Sekilas Dave melirik Sevia yang sedari tadi termenung. Sampai akhirnya dia merasa bosan melihat Sevia yang terus memandang ke luar jendela. "Via, apa kamu berpikir untuk kembali dengan mantanmu?" tanya Dave.


Sevia menengok ke arah Dave, alisnya saling bertautan karena merasa heran dengan apa yang Dave tanyakan. Namun akhirnya Sevia mengerti kenapa Dave bisa bertanya seperti itu.


"Aku bukan sedang memikirkan ucapan mamanya Andika, tapi aku memikirkan nenek. Aku takut, bapak mengancamnya lagi." Sevia akhirnya mengatakan kegelisahan hatinya pada Dave.


Rasanya plong hati Dave, saat mendengar apa yang Sevia katakan. Dia merasa sangat lega karena ternyata Sevia tidak memikirkan permintaan mamanya Andika. Padahal tadi dia sangat cemas dengan sikap Sevia.


"Dave, bisa kita berhenti dulu di rest area? Aku ingin buang air kecil," tanya Sevia.


"Iya, nanti kia mampir," ucap Dave terus memandang lurus ke depan.


Tidak berapa lama kemudian, keduanya sudah berada di rest area. Dave sengaja menunggu Sevia di cafe seraya memesan secangkir kopi. Namun, dia sangat terkejut saat ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Sendirian, Dave?" tanya Abizar seraya duduk di samping Dave


"Om Ryza?!! Habis dari mana, Om? Om juga sendiri?" tanya Dave bertubi-tubi.


"Nggak, sama tantemu dan Edel juga. Om habis nengokin mertua yang sakit," jawab Oryza. "Kamu sendiri, habis dari mana?" lanjutnya.


"Habis main ke rumah teman, Om." Dave menjadi canggung pada Oryza.


Tidak lama kemudian Sevia datang untuk menemui Dave. Namun, langkah kakinya tertahan saat melihat Dave bersama orang lain, sehingga dia hanya memberi pesan kalau menunggu di mobil. Sevia langsung berbalik arah menuju ke mobil Dave.


Mendapat pesan dari istrinya, Dave pun langsung berpamitan pada Oryza. Setelah dengan membeli minuman pesanan Sevia, Dave pun langsung pergi dari cafe. Sampai saat dia akan membuka pintu, Dave berpapasan dengan Edelweiss, teman kecilnya.


"Dave mau ke mana? Ayo kita minum dulu!" Edelweiss langsung menarik Dave kembali agar masuk ke dalam cafe.

__ADS_1


"Sorry, Del! Aku harus pulang, temanku sudah menunggu," tolak Dave.


"Kamu kho sekarang gitu, Dave? Sering banget nol ajakan aku. Padahal dulu kamu pasti mau kalau aku ajak ke mana pun." Edelweiss cemberut mendapatkan penolakan dari Dave.


Aku selalu menuruti kemauan kamu dan yang lainnya, karena aku menghargai kalian dan orang tua kalian sebagai sahabat mamaku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah baik padaku dan menerima aku dengan tangan terbuka, batin Dave.


"Lain kali saja ya! Aku ada urusan penting, Del." Dave melepaskan tangan Edelweiss pelan yang sedang memegang tangannya.


"Oke! Ingat Dave, kamu harus jadi tamu istimewa di acara ulang tahun aku. Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus datang!" ujar Edelweiss.


"Iya, aku pergi dulu!" Dave pun langsung beranjak pergi menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari cafe.


Saat sampai mobilnya, terlihat Sevia sedang duduk di atas pembatas depan mobil. Setelah Dave membuka kunci mobil, dia pun langsung masuk ke dalam.


"Nih, minuman kamu!" Dave langsung memberikan minuman pesanan Sevia saat mereka sudah sama-sama duduk di dalam mobil.


Dave tersenyum mendengar pujian dari istrinya. Hatinya senang setiap kali mendengar Sevia berbicara manis padanya. Tangannya langsung terulur mengelus pucuk kepala istrinya.


"Via, mau tidak nanti aku kenalkan dengan om dan tanteku? Tapi aku akan mengenalkan kamu sebagai kekasihku dulu. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Dave.


"Dave, sebelum kamu yakin kalau aku perempuan yang akan kamu pilih untuk selalu ada di sisimu. Aku tidak mau bertemu dengan keluargamu. Dulu Andika juga begitu bersemangat membawaku untuk bertemu keluarganya, tetapi akhirnya dia meninggalkan aku juga." Sevia menunduk, rasa sakit itu masih terasa saat dia mengenang semua hal tentang Andika.


"Baiklah, kalau itu keputusan kamu! Ayo kita pulang, Harry sudah menunggu di apartemen." Sebenarnya Dave kecewa dengan penolakan Sevia, tetapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya.


Baiklah, Via! Kamu akan aku kenalkan pada om dan tanteku sebagai istriku. Tunggu saja kejutan dariku, batin Dave.


Satu jam kemudian, mobil sudah terparkir rapi di basemen apartemen. Dave dan Sevia langsung menurunkan barang bawaannya. Entah datang dari mana, terlihat Harry dan Bram datang untuk membantu sahabatnya membawa barang bawaan mereka.


"Asyik bener yang habis bertemu mertua, kenapa gak ngajak kita Dave?" tanya Bram seraya mengambil kantong yang berisi oleh-oleh dari kampung Sevia.

__ADS_1


"Kalau ngajak kalian, yang ada kalian hanya gangguin kita saja. Benar 'kan, Sayang?" Dave langsung merangkul pundak Sevia yang sedang mengeluarkan barang dari bagasi mobil.


Sevia hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum samar. Hatinya merasa senang saat Dave memanggil sayang di depan teman-temannya. Sepertinya hidung Sevia sudah mulai mengembang ingin terbang.


"Aku yang pengantin baru, Dave!" ujar Harry.


"Kamu kalah Harry! Dave sudah bisa mencetak gol makanya dia bersikap seperti itu, sedangkan kamu masih palang merah." Bram tertawa terbahak mengingat di malam pengantin Harry mereka berdua malah minum di bar.


"Maksud kamu Bram? Harry begitu bodoh menjebol gawang?" tanya Dave.


"Ya seperti itulah," Bram menggendikan kedua bahunya.


"Ck! Sepertinya kamu harus berguru padaku, Harry. Umurmu lebih tua tapi kamu kalah dariku. Aku bahkan sudah menanam banyak bibit unggul. Benar 'kan, Sayang?" Dave mengerlingkan matanya nakal pada Sevia yang sukses membuat sahabatnya merasa mual dengan apa yang dilakukan Dave.


"Dave, aku gak suka kamu bicara begitu," tegur Sevia yang langsung berlalu meninggalkan ketiga sahabat itu yang terus berbincang seraya berjalan menuju ke apartemen Dave.


Sevia yang sudah sampai duluan, langsung menuju ke kamar mandi setelah menyimpan barang yang dibawanya. Dia ingin secepatnya membersihkan diri dan beristirahat. Kepalanya terasa pusing dengan banyaknya hal yang dia pikirkan.


Sementara Dave masih asyik berbincang dengan kedua sahabatnya seraya menikmati oleh-oleh yang dibawa dari kampung Sevia. Mereka seolah lupa waktu kalau hari sudah malam. Sampai jam sudah menunjukkan angka sebelas, barulah ketiganya membubarkan diri.


"Dave aku tidur di sini saja ya! Aku gak enak mendengar suara-suara aneh saat Harry ingin membuka segel," ucap Bram meminta ijin.


"Boleh saja, tapi kamu gak boleh berkeliaran! Diam saja di kamarmu dan memakai headset." Peringatan Dave.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa tinggalkan jejak kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2