Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 58 Aku pasti kembali!


__ADS_3

Keheningan menyelimuti perjalanan menuju ke rumah Sevia. Setelah tadi dia sedikit memaksa, akhirnya Sevia bersedia diantar pulang ke rumah. Dave sebenarnya ingin sekali duduk di samping Sevia. Akan tetapi, Rani sudah duduk terlebih dahulu bersama dengan Sevia di kursi belakang sehingga mau tidak mau, Dave duduk di samping Harry.


"Harry, kamu sudah hubungi assisten Mr. Anderson kalau kita datang sedikit terlambat?" tanya Dave.


"Sudah, aku memundurkan waktu satu jam dari waktu yang sudah disepakati," jawab Harry. "Via, dari pertigaan depan belok ke mana?" lanjutnya.


"Lurus saja, nanti ada perumahan Putra Residence. Turunkan saja di sana!" sahut Sevia.


"Tidak bisa! Harry antar sampai ke rumahnya," suruh Dave.


Sevia hanya memejamkan matanya sesaat, hatinya terasa perih dengan kenyataan yang harus dihadapinya. Dia pun memutuskan untuk diam tidak bicara lagi, sehingga Rani yang terus menjawab setiap kali Harry bertanya arah rumahnya.


Tidak berapa lama kemudian, mobil pun berhenti di depan rumah yang sederhana tanpa pagar ataupun kanopi karena memang itu rumah kontrakan Sevia tanpa renovasi sehingga sesuai dengan model awal perumahan tersebut. Berbeda dengan rumah Rani yang memang sudah direnovasi sana- sini sehingga terlihat lebih enak dipandang.


Sevia pun segera turun dari mobil Dave, begitupun dengan Rani. Dave tidak ketinggalan mengikuti Sevia sampai masuk ke dalam rumah, sehingga Rani memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.


"Via, nanti aku kembali. Banyak hal yang harus kita bicarakan," ucap Dave saat keduanya sudah berada di dalam rumah Sevia.


Sevia hanya mengangguk dengan tersenyum getir. Dia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ingin rasanya dia menangis sekaligus tertawa dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Namun, suaranya seperti tercekat di tenggorokan sehingga dia hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Boleh aku menggendongnya?" tanya Dave.


Lagi-lagi Sevia hanya mengangguk seraya memberikan Devanya pada Dave. Hatinya semakin menangis mengingat nasib putrinya, yang memiliki seorang ayah tapi seakan tidak memilikinya karena terlahir dari seorang istri simpanan.


"Sayang, jaga mama buat Papa ya! Papa pasti kembali untuk kalian, karena Papa sayang sama kalian," ucap Dave dengan menitikkan air matanya. Dia terus menciumi pipi putri kecilnya yang menggemaskan.


Merasa sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya, Dave langsung menyimpan putrinya di stroller bayi. Setelah memastikan putrinya aman berada di sana, tanpa bicara lagi, Dave langsung memeluk Sevia dengan erat.


"Via, maafkan aku! Aku tidak bisa menepati janji," lirih Dave. "Terima kasih sudah menjaga putriku dengan baik."

__ADS_1


Sevia hanya diam berada dalam pelukan orang yang sangat dirindukannya. Dia ingin waktu berhenti sesaat dan membiarkannya melepas semua kerinduan yang selama ini tersimpan di hati. Sampai akhirnya suara ketukan pintu mengurai pelukan dua orang yang saling melepaskan kerinduan.


"Sorry, Dave! Mr. Anderson sudah menunggu kita," ucap Harry di ambang pintu.


"Maaf membuatmu terlambat!" ucap Sevia.


"Tidak, Via! Tunggu aku, aku pasti kembali," suruh Dave sebelum dia beranjak pergi dari rumah Sevia.


Sevia hanya menatap nanar kepergian brondong yang mampu mengacaukan hatinya. Dia hanya berharap semoga semuanya menjadi lebih baik.


Dave, mungkinkah kita akan bersama lagi? Apa aku egois jika menginginkan kamu hanya menjadi milikku? Tapi rasanya tidak mungkin karena sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Zee, batin Sevia


...***...


Sore harinya, seperti apa yang telah Dave janjikan, dia kembali ke rumah Sevia seorang diri. Dave sengaja hanya membawa motor sportnya karena dia berniat untuk menginap di rumah istrinya. Sesampainya di sana, Dave sedikit merengut saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Sevia. Tanpa membuka helm full face-nya, Dave sedikit menguping pembicaraan Sevia dengan tamunya.


"Maaf, Adam! Sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu. Aku tidak bisa meninggalkan putriku. Lebih baik kamu mencari pasangan yang lain," tolak Sevia.


"Bukankah kamu ingin membuktikan apa yang aku katakan? Aku tidak berbohong tentang pertunangan itu." Adam terus saja berusaha untuk meyakinkan Sevia agar bisa ikut bersamanya ke acara pertunangan Dave dan Zee.


"Tanpa pergi ke sana, aku sudah tahu kebenarannya, sehingga aku tidak perlu membuktikan apapun lagi. Sebaiknya kamu pulang, sebentar lagi magrib!" suruh Sevia.


"Baiklah! Aku pulang dulu, tapi aku harap kamu mau mempertimbangkan permintaanku." Adam langsung beranjak pergi.


Hatinya merasa kesal, karena usahanya mendekati Sevia selalu tidak mendapatkan lampu hijau. Padahal dia sudah bersabar selama berbulan-bulan. Namun, sepertinya hati Sevia seakan terkunci rapat untuk dia singgahi.


Menyadari Adam akan keluar dari rumah Sevia, Dave pun berpura-pura baru tiba di sana. Adam hanya melirik sekilas pada Dave karena dia mengira kalau orang yang berada di depannya itu abang tukang paket karena Dave membawa sebuah bingkisan untuk putrinya.


Setelah kepergian Adam, barulah Dave membuka helm full face-nya. Dia tersenyum lebar saat melihat Sevia yang berada di ambang pintu. Tanpa bicara lagi, dia langsung menggiring Sevia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.

__ADS_1


"Via, apa dia sering datang ke mari?" tanya Dave.


"Sering! Apa tadi kamu menguping?" selidik Sevia.


"Sedikit! Makasih ya, kamu tidak tergoda olehnya." Ada rasa senang menyeruak di hati Dave karena wanitanya setia pada pernikahan mereka.


"Aku bukannya tidak tergoda, aku hanya tidak ingin menjadi istri yang durhaka karena sudah mengkhianati suami yang pergi tanpa kabar beritanya," sarkas Sevia.


"Via, aku minta maaf untuk hal itu! Waktu itu, aku akan menemui kamu tapi tanpa sengaja Edelweiss berada di mobilku saat dia sembunyi dari Zio sehingga aku terpaksa mengantarnya pulang. Namun, saat aku akan putar balik kembali masuk ke dalam tol, aku tidak melihat bis yang sedang melaju cepat karena memburu antrian, sehingga kecelakan itu terjadi," jelas Dave.


"Maafkan aku Dave! Aku telah salah paham padamu," Sevia pun menundukkan kepalanya.


"Via, kamu sudah tahu tentang pertunanganku dengan Zee?" tanya Dave hati-hati.


"Iya, aku tahu! Selamat ya Dave, kamu akhirnya bisa bersama dan gadis yang kamu cintai." Sevia bicara dengan suara yang bergetar. Meskipun mulutnya berkata 'selamat' tapi hatinya menangis merasa tidak rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain.


"Kamu salah Via! Bukan dia gadis yang aku cintai, tapi ibu dari anakku. Kamu yang aku cintai bukan gadis lain," ucap Dave dengan menggenggam tangan Sevia.


"Dave, jangan membuat aku terbang melayang kalau akhirnya nanti kamu hempaskan juga ke dasar jurang. Pertunangan kamu tinggal beberapa hari lagi, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu padaku. Jangan membuat aku terus berharap padamu, seandainya kamu tidak bisa berada di sisiku." Setetes air mata tanpa terasa jatuh dari pelupuk matanya. Sekuat apapun menahan perasaannya, akhirnya dinding ketegarannya runtuh juga.


"Via, kumohon percaya padaku! Mungkin memang pertunangan itu terjadi tapi aku tidak bisa menikahinya. Aku akan berusaha untuk terus mencari keberadaan lelaki yang seharusnya menikah dengan Zee," tutur Dave.


"Maksud kamu?"


"Sebenarnya Zee hamil oleh Malvin tapi sekarang dia menghilang seperti ditelan bumi. Om Al tidak ingin anak yang dikandung Zee mendapat gunjingan dari orang karena lahir di luar nikah, makanya dia meminta tolong padaku untuk menyelamatkan nama baik keluarganya. Aku berhutang banyak pada mereka, sehingga aku menyetujui permintaan Om Al."


...~Bersambung~...


Sawerannya dong kakak! Biar othor tambah semangat update

__ADS_1


__ADS_2