
Pesta resepsi pernikahan yang meriah dengan tema wedding on the sky membawa kebahagiaan pada semua orang yang hadir di pesta. Terutama pasangan pengantin baru yang sedang duduk di pelaminan. Keano dan Devanya tak hentinya menyambut kedatangan tamu undangan.
Senyum cerah terus tersungging di kedua sudut bibirnya. Apalagi, resepsi pernikahannya ditayangkan secara live di dua negara. Banyak artis ternama dari dalam dan negeri ginseng, dengan sengaja menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahan presiden direktur JS Group yang menaungi JS Entertainment.
Begitupun dengan Nadine yang diam-diam datang bersama suami barunya. Dia yang sudah merubah total wajah dan penampilannya, membuat semua orang tidak ada yang mengenalinya. Namun satu orang yang tidak bisa dia bohongi, Gavin. Pemuda yang memiliki darah yang sama dengan Nadine, bisa mengenali kalau wanita cantik yang sedang bergelayut manja pada pengusaha asal Rusia itu adalah ibu kandungnya.
Gavin terus saja memperhatikan gerak-gerik ibunya. Dia tidak ingin ibunya membuat kekacauan di pesta pernikahan gadis yang dicintainya. Apalagi, sampai harus kecolongan untuk yang kedua kalinya.
"Vin, kamu lihat apa sampai segitunya," tegur Devan dengan menepuk bahu sahabatnya.
"Mama," jawab Gavin singkat.
"Mana Tante Rani? Bukannya dia belum datang? Kata Mama, Tante Rani juga mau menghadiri resepsi pernikahan Kak Vanya."
Gavin melirik sekilas pada sahabatnya. Hatinya bertambah was-was saat tahu ibu sambungnya akan datang. "Memang mama sudah bisa jalan? Bukannya masih belum lancar?" tanya Gavin.
"Yang aku lihat sih udah bisa. Tapi kalau lari kayaknya masih belum," ucap Devan.
Gavin tidak memperdulikan apa yang Devan katakan. Matanya fokus pada Nadine yang sedang berbincang dengan seorang pelayan. Tanpa bicara lagi, dia langsung mengikuti pelayan itu.
"Mas sebentar!" panggil Gavin.
"Iya, Tuan. Anda perlu apa?" tanya Pelayan.
"Dengar, Mas! Jangan pernah mau disuruh oleh orang yang tidak kamu kenal untuk melakukan sebuah kejahatan. Karena Tuan Andrea terkadang sadis pada orang yang bermain-main dengannya. Mas tahu, pernah ada orang yang korupsi, dia menghukum dengan menyetrum orang itu atau memberikannya pada binatang buas peliharaan beliau," ucap Gavin menakut-nakuti pelayan itu.
__ADS_1
"Kamu kerja di sini untuk mencari uang apa mencari masalah. Kalau demi selembar cek kamu kehilangan nyawa, aku rasa itu tidak sebanding. Kamu paham kan maksud aku?" lanjut Gavin.
"Tu-tuan, saya di sini murni untuk kerja bukan mencari masalah," bela pelayan itu.
"Oh ya, lalu apa yang Nyonya blonde tadi suruh?" tanya Gavin dengan mata terus menyelidik.
Berbohong pun rasanya percuma, dia sudah menangkap basah apa yang Nyonya itu suruh, batin pelayan.
"Anu Tuan, Nyonya Blonde itu menyuruh saya untuk mencampurkan ini pada minuman pengantin wanita," tunjuk Pelayan itu pada kantong plastik kecil yang di dalamnya terdapat bungkusan serbuk putih.
"Kalau kamu ingin selamat, campurkan minuman dengan serbuk itu lalu berikan pada Nyonya Blonde itu," suruh Gavin.
Aku tidak tahu serbuk apa yang akan dipakai untuk mencelakai Devanya. Biarlah mama merasakan hasil ulahnya sendiri. Maafkan aku, Mah! Aku tidak akan membiarkan mama mencelakai orang-orang yang aku sayang. Sudah cukup Mama Rani yang jadi korbannya. Aku tidak akan membiarkan Devanya yang menjadi target berikutnya, karena gadis itu tidak bersalah, batin Gavin.
Sesuai apa yang Gavin perintahkan, pelayan itu pun kembali menemui Nadine dan memberikan minuman pesanan wanita cantik itu. Sedikit pun Nadine tidak curiga kalau minuman yang dia minum sudah tercampur dengan serbuk yang tadi dia berikan pada pelayan itu.
Gavin yang melihat semua itu langsung menghampiri suami baru mamanya. "Permisi, Tuan! Apa Anda tahu istri Anda sudah meminum sesuatu yang membuatnya seperti itu?"
"Maksud Anda?" tanya Hansen heran.
"Anda pasti mengerti, obat apa yang harus Anda berikan padanya. Bukankah perusahaan Anda memproduksi berbagai macam jenis obat-obatan dan didistribusikan ke seluruh negeri?" tanya Gavin.
"Sial! Pasti Diane membawa racun yang baru saja aku uji coba," gumam Hansen.
Pria itu langsung beranjak pergi untuk menyusul istrinya. Namun sayang, Nadine sudah tergeletak di tengah jalan dengan darah yang bercucuran di kepalanya. Menurut kesaksian para saksi, Nadine sengaja menabrakkan diri pada mobil yang sedang melaju. Hansen pun segera membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Sementara di gedung dengan ketinggian 121 lantai. Pesta semakin meriah dengan hiburan yang disuguhkan. Apalagi, pengantin pria kembali mempersembahkan sebuah lagi untuk istri tercintanya. Sebuah lagu milik Ed Shareen, 'Perfect'.
When I saw you in that dress, looking so beautiful. I don't deserve this, darling, you look perfect tonight. Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms.
Barefoot on the grass, listening to our favorite song. I have faith in what I see. Now I know I have met an angel in person and she looks perfect. I don't deserve this, you look perfect tonight .
Pipi Devanya terlihat merona dengan lagu yang Keano bawakan. Apalagi, suaminya itu terus menatap lekat ke arahnya. Gadis bermata biru benar-benar merasa melayang di atas awan.
Saat lagu akan berakhir, Keano menghampiri istrinya yang masih duduk di pelaminan. Pengantin baru itu mengambil tangan Devanya lalu menciumnya dengan lembut. Sungguh hati keduanya merasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang terbang kian kemari.
"Ay, berjanjilah untuk selalu ada disisi ku apapun yang terjadi. Hiduplah bersamaku hingga kita menua nanti," ucap Keano dengan menatap lekat istri cantiknya.
"Aku berjanji akan setia selalu dan menjadi teman hidup Bang Ano hingga kita menua nanti," ucap Devanya dengan tersenyum.
Prok prok orok
Semua hadirin bertepuk tangan saat musik sudah berhenti. Kini alunan musik telah berganti dengan paduan suara para tamu undangan. Mereka terus meneriakkan sebelum pengantin baru itu mengikuti keinginan hadirin yang hadir.
"Cium ... Cium ... Cium ...." Kompak hadirin yang hadir.
Dengan malu-malu Keano mendekat ke arah Devanya. Jantung keduanya berpacu begitu cepat. Keano pun mendekatkan wajahnya pada wajah Devanya. Namun, pemuda tampan itu hanya mencium kening istrinya lama. Dia tidak memiliki keberanian untuk mengumbar kemesraan di depan orang banyak. Apalagi banyak anak buah dan rekan bisnisnya yang hadir sebagai tamu undangan.
"Sun bibirnya nanti saja saat kita hanya berdua," bisik Keano yang sukses membuat pipi Devanya merona.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....