
Sore harinya, tetangga dekat dan saudara Sevia banyak yang berkunjung ke rumah Nenek Salamah. Mereka hanya sekedar bertanya kabar Sevia yang sudah lama tidak pulang. Sekaligus merasa penasaran dengan cowok tampan yang membawa mobil sport ke kampungnya. Banyak yang memuji Sevia karena mereka menganggap Sevia berhasil bisa menikah dengan lelaki kaya dari kota. Ada juga yang merasa iri karena bukan dia yang mendapatkan suami tampan dan ganteng seperti suaminya Sevia. Padahal mereka merasa lebih cantik dari Sevia.
"Via bagi resep dong, kamu bisa mendapatkan suami tajir seperti dia?" tanya Lusi salah satu teman Sevia di kampung.
"Aku gak punya resep apa-apa, ini sudah takdir." Sevia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan temannya.
Sementara Dave yang merasa bosan dengan tatapan dan ucapan tetangga dan teman istrinya, memilih untuk masuk ke dalam kamar yang berukuran 3x3 meter. Tempat di mana Sevia menghabiskan waktu istirahatnya di sana. Dave langsung menghubungi Farish yang memegang pembangunan perumahan milik Putra Group di wilayah Jawa barat. Dia meminta nomor kontak kontraktor yang ada di daerah wilayah tiga Cirebon. Setelah mendapatkannya, Dave pun langsung menghubunginya untuk membicarakan tentang pembangunan rumah Neneknya Sevia.
Saat menjelang magrib, semua tetangga dan teman Sevia yang berkunjung pun berpamitan setelah Sevia membagikan oleh-oleh yang dibawanya. Tinggallah kini Sevia dan neneknya yang sedang duduk di depan televisi setelah mereka selesai sholat.
"Nek, apa bapak juga selalu meminta uang bulanan yang selalu aku kirim buat Nenek?" tanya Sevia.
Nenek Salamah hanya menghela napas dalam, bagaimanapun Rudi putranya yang dia lahirkan sedangkan gadis yang ada di depannya cucunya. Mana mungkin dia ingin anak dan bapak itu menjadi tidak akur hanya karena uang.
"Via, kamu ikhlas kan memberi uang setiap bulan pada Nenek?" tanya Nenek Salamah.
"Tentu saja Via ikhlas, Nek! Kenapa Nenek bicara seperti itu?" tanya Sevia heran.
"Via, kamu cucu Nenek dan bapakmu juga anak Nenek. Nenek berharap, kamu tidak membenci bapakmu karena dia selalu meminta uang yang kamu kirimkan. Nenek ikhlas membagi uang kiriman darimu untuk putra Nenek karena dia tidak memiliki penghasilan tetap. Nenek dengar, setelah bapakmu menikah lagi, dia sudah jarang main ke warung remang-remang. Bertaruh pun sudah dia kurangi. Apa dia masih suka mencarimu ke kota untuk meminta uang?" Ada setetes air mata keluar dari sudut mata Nenek Salamah.
Hatinya sakit dengan apa yang putranya lakukan. Padahal sedari kecil, dia sudah mendidik Rudi dengan baik dan menjauhkannya dari hal yang berbau taruhan. Namun, ternyata pergaulan putranya yang membawa dia semakin jauh dengan Tuhan. Meskipun dia sudah sering menasehati Rudi, tetapi hidayah belum juga hinggap ke hati putranya.
"Sebenarnya, Via gak marah kalau Nenek membagi uang pada bapak. Via hanya kesal kalau apa yang bapak lakukan menyakiti Nenek ataupun membuat Nenek kekurangan uang. Via ingin membahagiakan Nenek dan tidak ingin melihat Nenek yang kelelahan karena seharian berjualan keliling," ucap Via sendu.
"Tidak apa, Via! Selama manusia masih bisa bernapas, selama itu pula manusia harus mau berusaha. Nenek senang berjualan," ucap Nenek Salamah.
__ADS_1
"Nenek memang benar, tapi sekarang Nenek sudah tidak semuda dulu lagi saat Via masih suka ikut berjualan. Pasti sekarang tenaga Nenek juga sudah berkurang." Sevia menundukkan kepalanya, bayangan saat dulu da hidup susah bersama dengan neneknya menari-nari di benaknya.
"Tidak apa, Via. Terima kasih kamu sudah jadi anak yang baik, semoga kebahagian selalu menyertaimu. Nenek sudah ngantuk, mau ke kamar duluan," pamit Nenek Salamah.
Setelah Nenek Salamah masuk ke kamarnya, Sevia pun masuk ke dalam kamarnya. Nampak Dave yang sedang bermain ponsel dengan tubuh yang berbalut selimut. Sepertinya, bule itu merasa kedinginan dengan hawa gunung yang menusuk kulit.
"Via, ada selimut yang lebih tebal tidak?" tanya Dave.
"Gak ada, Dave! Kamu kedinginan?" tanya Sevia.
"Tidak! Aku hanya sedang ingin dimanja, dipeluk oleh kamu." terlihat seringai nakal dari bibir Dave.
"Malu ikh sama Nenek!" tolak Sevia.
"Ini masih sore, Dave. Sholat Isya saja belum." Sevia pun memberikan alasan.
"Ya sudah, selesai sholat isya kita langsung tempur. Di sini dingin banget, Via." Dave menggosok-gosokkan tangan ke bajunya.
Seperti yang sudah disepakati oleh sepasang suami istri, setelah Sevia melaksanakan kewajibannya, mereka tidak menunggu waktu lama untuk saling menyatukan gelora hasrat yang membuncah di dada. Sampai terdengar suara yang tidak biasa mereka dengar, mengehentikan sejenak aktivitas dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta.
"Dave, jangan terlalu kencang! Dengar suara dipannya," suruh Sevia ditengah-tengah dia menikmati apa yang suaminya lakukan.
Kriet kriet
Terdengar suara dipan yang berderit karena goyangan dahsyat yang Dave lakukan. Namun, bule tampan itu seakan tidak perduli dengan apa yang di dengarnya. Sampai akhirnya, saat Dave mempercepat ritme pompaannya, hal tidak mereka duga sebelumnya pun terjadi.
__ADS_1
Gudubrak!
Dipan kayu yang sudah dimakan rayap itu tidak kuat menahan hentakan dasyat Dave, sehingga patah di saat Dave sedang bersemangat karena sebentar lagi mencapai puncak. Dave yang sudah tanggung karena sedang menyemburkan benihnya membiarkan saja posisi mereka yang jatuh ke bawah. Sampai suara ketukan pintu membuat keduanya untuk cepat-cepat bangun dan membereskan kekacauan. Sevia begitu panik sehingga dia secepatnya memakai baju sekenanya.
"Via, ada apa? Suara apa yang tadi terdengar begitu keras?" tanya Nenek Salamah di depan pintu kamar cucunya.
"Tidak apa, Nek! Tadi Via jatuh," teriak Sevia di dalam pintu.
Saat sudah tidak ada suara neneknya lagi, barulah Sevia bicara pada Dave. "Bagaimana ini, Dave? Kita tidur di mana?" tanya Sevia panik.
"Kita turunin saja kasurnya. Sepertinya muat buat kita tidur berdua di bawah meski kasurnya hanya seukuran sofa," usul Dave.
"Ya, sudah! Yang penting kita bisa tidur. Aku cape, Dave." Sevia terus saja menguap karena sudah lelah dan mengantuk.
Dave langsung menurunkan satu kasur kapuk yang seukuran sofa itu sedangkan yang satunya dia tinggal di atas tempat tidur yang dipannya patah. Kini pasangan suami istri itu tidur berhimpitan di bawah. Dave justru merasa senang karena dia bisa terus berpelukan dengan Sevia sampai pagi.
Ternyata bahagia itu sederhana, aku sangat senang bisa tidur seperti ini dengan Sevia. Meskipun tidur hanya di atas kasur yang keras dan kecil, tapi entah kenapa aku tidak ingin saat-saat seperti ini cepat berlalu. Aku ingin selamanya bersama dia. Setiap hari bisa tidur bersamanya dan memeluk tubuh mungilnya. Sevia, kamu benar-benar menjerat aku dengan pesonamu.
...~Bersambung~...
...Marhaban ya Ramadhan...
...Mohon maaf lahir dan batin...
Sambil nunggu brondong update, yuk kepoin karya Author yang lain. Tinggal klik profil Author dan pilih cerita yang disuka.
__ADS_1