Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 86 Joged


__ADS_3

Malam semakin larut, pesta pun semakin meriah dengan kehadiran penyanyi dangdut ibu kota. Dave hanya menggelengkan kepalanya saat melihat semua om dan tantenya berjoged. Begitupun dengan beberapa tamu undangan yang sangat menikmati hiburan yang disuguhkan. Namun, kemeriahan pesta itu tidak dapat dirasakan oleh kakak beradik yang sama-sama kecewa karena keinginannya tidak dapat terpenuhi.


Sementara itu, Rani dan Devanya sudah tertidur di kamar hotel yang memang sudah dibooking oleh Dave, sedangkan Harry terus mencari keberadaan Nadine yang mendadak hilang saat dia sedang menyapa tamu undangan yang merupakan rekan bisnis Dave.


"Nadine ke mana? Aku kan sudah menyuruh dia untuk menunggu di sini. Ini juga kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi," gumam Harry dengan mata yang terus celingukan mencari keberadaan istrinya.


Saat Harry terus mencari Nadine, tanpa sengaja matanya melihat banyak desert yang menggiurkan. Dia jadi teringat dengan Rani sehingga memutuskan untuk membawa satu piring desert ke kamar di mana Rani dan Devanya tidur.


Harry tersenyum melihat Rani dan Devanya yang tertidur pulas. Perlahan, dia menepuk pipi Rani untuk membangunkannya. Merasa tidurnya terganggu, Rani pun langsung membukakan matanya.


"Rani, aku bawa desert. Pasti kamu suka, makanya aku bawa buat kamu." Harry menunjukkan piring yang berisi bermacam-macam desert.


"Makasih Harry, kamu sudah repot-repot membawakan untukku," ucap Rani segera bangun dari tidurnya.


"Makanlah! Aku mau mencari Nadine dulu. Dia pergi entah ke mana," pamit Harry.


Harry pun kembali mencari Nadine dan membiarkan Rani memakan kuenya. Merasa lelah karena pencariannya tidak membuahkan hasil, akhirnya Harry memutuskan untuk meretas CCTV hotel. Namun, ternyata usahanya sia-sia. Dia kesulitan meretas CCTV hotel karena menggunakan perlindungan yang berlapis.


"Sial! Susah sekali menembus sistem perlindungan Dave," gerutu Harry seraya menuju ke atas pelaminan.


Namun, saat kakinya baru menapaki satu anak tangga menuju ke atas pelaminan, Oryza dan Kevin langsung menyeretnya agar berjoged bersama lagu 'Despacito' milik Luis Fonci. Begitupun dengan Dave dan Sevia yang langsung ditarik oleh Al dan Icha. Akhirnya semua tamu pun ikut bergoyang menikmati irama lagu.


Ya Ampun! Kenapa aku harus terjebak di sini? Apa tante dan om-nya Dave sedang puber kedua? Dari tadi mereka terus bergoyang gak ada lelahnya, gerutu Harry dalam hati.


Untuk kali ini aku mau saja menuruti apa yang mereka inginkan karena ini pestaku, tapi tidak untuk lain kali, batin Dave.


Malu sekali joged di sini, tapi seru juga bisa joged bersama keluarga Dave. Aku sangat bersyukur karena mendapatkan suami yang baik dan keluarganya juga sangat baik, batin Sevia.


"Dave, aku mau minta tolong! Buka akses untukku melihat rekaman CCTV hotel. Aku malas jika harus ke ruang pengawas," bisik Harry disela-sela jogetnya.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Dave heran.


"Nadine hilang," jawab Harry.


Dave langsung menghentikan gerakannya dan mengajak Harry untuk menyingkir ke pinggir. Dia langsung mengambil ponsel yang ada di kantong depan celananya. Tanpa bicara lagi, Dave langsung memeriksa rekaman CCTV hotel.


"Harry, lihatlah istrimu dibawa oleh seorang pria ke kamar hotel!" tunjuk Dave.


"Dave coba mundurkan sampai saat aku menyuruhnya untuk menungguku," suruh Harry.


Harry begitu syok saat melihat Nadine berbincang dengan seorang lelaki yang umurnya jauh lebih tua darinya. Mereka seperti membuat sebuah kesepakatan hingga akhirnya pergi dari ruangan tempat pesta berlangsung. Dia bertambah syok saat melihat ke mana Nadine pergi bersama pria itu.


"Dave aku ke sana dulu. Tolong kirim nomor berapa kamar yang mereka tempati." Harry langsung berlalu pergi menuju ke kamar yang tadi Nadine masuki bersama pria asing.


Brakk!


"Harry, kenapa tidak ketuk pintu dulu?" tanya Nadine kaget.


"Aku, aku mencari kamu ke mana-mana. Kenapa tidak bilang kalau mau bertemu seseorang?" tanya Harry.


"Maaf Harry tadi aku diminta tolong untuk menemani Mrs. Smith selama suaminya keluar untuk mencari makanan yang diinginkannya," terang Nadine.


Mungkin Harry berpikir yang tidak-tidak. Aku harus bisa mematahkan prasangka buruknya padaku, karena aku masih membutuhkan dia untuk saat ini, batin Nadine.


...***...


Pesta pun telah usai, kini Dave dan Sevia sudah berada di Bali untuk berbulan madu dengan memboyong Rani dan Harry untuk menjaga Devanya. Dave sengaja memilih villa milik Putra Group yang berada di tepi pantai dengan pemandangan laut lepas yang berwarna biru.


Villa mewah nan elok ini dibangun dengan nuansa etnik Bali untuk menciptakan suasana eksotik dan autentik, menawarkan beragam kegiatan bagi pasangan yang tengah berbulan madu, dari makan malam dan pijat pribadi di villa hingga sarapan pagi di ranjang. Jangan lupakan kolam renang pribadi yang langsung menghadap ke laut sehingga serasa kita berenang di laut lepas.

__ADS_1


"Harry, apa yang kamu katakan pada Nadine saat kamu tidak mengajaknya kemari?" tanya Dave saat mereka baru saja sampai di villa.


"Aku hanya bilang mau meeting penting bersama klien di sini sehingga tidak mungkin mengajaknya jalan-jalan," jawab Harry.


"Memang benar kita mau meeting. Om Andrea hanya memberi libur dua hari karena sedang banyak proyek yang harus dikerjakan." Dave menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya dari hidung dan mulut.


"Dave jangan terlalu sering merokok! Kamu punya bayi dan Rani juga sedang hamil," tegur Harry.


"Aku sedang pusing dengan pekerjaanku, makin banyak proyek, makin banyak yang harus aku kerjakan." Dave langsung menyimpan puntung rokok yang masih setengah.


"Sabarlah! Jangan semuanya dikerjakan sendiri! Daripada pusing memikirkan pekerjaan, lebih baik kita berenang. Ayo kita balapan!" ajak Harry dengan menarik tangan Dave menuju kolam renang.


Kedua sahabat itu langsung membuka bajunya bersamaan dan hanya menyisakan boxer yang melekat ditubuh atletisnya. Setelah menghitung mundur, keduanya pun mulai berlomba dengan berbagai gaya. Sevia yang baru saja menidurkan Devanya di kamar Rani, sayup-sayup mendengar suara Dave tertawa dari luar, sehingga dia pun langsung membuka pintu penghubung ruang tengah dengan kolam renang.


"Dave, boleh aku ikutan?" tanya Sevia saat melihat Dave sedang berenang bersama Harry.


"Nanti saja, Via! Kalau Harry dan Rani jalan-jalan. Sekarang kamu masuk dulu ke dalam! Harry tidak memakai baju," suruh Dave.


"Tapi aku juga ingin renang," rengek Sevia.


"Iya, nanti aku temani. Tapi sekarang kamu masuk dulu bawakan handuk untuk kami," suruh Dave lagi.


Sevia pun langsung berbalik ke dalam rumah dengan menggerutu, "Pelit amat sih Dave,mau ikutan aja gak boleh."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya Kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2