Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 104 Brangkas Rahasia


__ADS_3

Sepulang dari makan malam, Dave tidak langsung pulang ke rumah seperti Rani dan Harry. Tetapi mereka mampir dulu ke apartemen. Dave sengaja membawa Sevia ke apartemen dulu, karena ada sesuatu yang ingin dia berikan pada istrinya.


"Sayang, tutup matanya dulu sebelum aku bilang buka." Dave langsung menutup mata Sevia saat mereka sudah berada di dalam apartemen.


"Mau apa sih Dave?" tanya Sevia


"Ikut saja! Nanti juga tahu sendiri," ucap Dave


Sevia hanya mengikuti apa yang Dave katakan. Dia percaya suaminya pasti melakukan hal yang baik padanya. Perlahan Dave menuntun Sevia ke kamarnya dan menekan sebuah tombol yang ada di bagian dalam meja riasnya sehingga nampak dengan jelas sebuah brangkas besi ada di sana. Dave pun langsung membuka penutup Sevia saat brangkas besi itu sudah terbuka.


"Sayang, coba buka matanya!" bisik Dave.


Perlahan Sevia membuka matanya. Dia sangat terkejut melihat tumpukan emas batangan di depannya ditambah lagi tumpukan uang dolar dan rupiah ada di sana. Selain itu ada sebuah kotak perhiasan dan berkas-berkas yang tertumpuk rapi di sana.


"Dave, kamu mencuri di mana? Kenapa banyak sekali emas di apartemen?" tanya Sevia.


Pletak


Dave langsung menyentil kening Sevia yang mengira dia pencuri. "Masa iya cowok seganteng aku jadi pencuri, memang kamu ingin punya suami pencuri?" tanya Dave.


"Aku gak mau dikasih nafkah dari hasil yang gak halal. Aku lebih baik hidup sederhana dengan uang halal daripada bergelimang kemewahan tapi hasil mencuri, merampok atau menipu orang," tutur Sevia.


"Via aku memang hacker, tapi aku tidak memakai kemampuanku untuk merugikan orang lain. Lagipula, semua ini sebagian peninggalan dari eyang. Beliau pernah menyuruhku dalam surat yang ditinggalkannya untuk mengambil semua isi brangkas yang ada di rumah lamanya. Memang saat mengambilnya aku seperti seorang pencuri, tapi aku mengambil apa yang menjadi milik keluarga aku," jelas Dave.

__ADS_1


"Maaf, Dave! Aku baru pertama kali melihat tumpukan emas sungguhan dan uang yang sangat banyak," sesal Sevia. Dia merasa tidak enak karena sudah menuduh suaminya yang tidak-tidak.


"Aku mengerti. Yang kamu tahu kan hany lembur terus dapat uang lebih saat gajian," ledek Dave.


"Kamu memang benar, kita terlahir dari dunia yang berbeda." Sevia langsung menundukkan kepalanya. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan suaminya.


"Sayang, jangan marah! Aku ke sini untuk memberitahu kamu password dan tempat brangkas ini berada. Jika suatu hari nanti, aku tidak bisa bersama kamu lagi. Aku minta agar kamu tidak pergi jauh. Tetaplah di kota ini, agar aku mudah menemukan kamu kembali. Apartemen ini sudah aku alihkan atas nama kamu." Dave langsung memeluk Sevia dari belakang.


"Dave, memang kamu mau pergi ke mana?" tanya Sevia dengan suara yang bergetar.


"Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku hanya berjaga-jaga dengan kemungkinan terburuk. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Dave menciumi tengkuk Sevia membuat wanita itu bulu kuduknya. "Sini kita setting dulu sidik jari kamu!"


Dave pun menutup kembali brangkas setelah dia mengambil kotak perhiasan peninggalan mamanya. Dave kemudian mengatur sidik jadi Sevia sebagai salah satu password brangkas. Setelah semuanya beres, Dave langsung menggeser kembali meja rias agar menutupi brangkas.


"Dave, kenapa kamu percaya sekali sama aku? Bagaimana kalau aku mengambil semua emas dan uang yang ada di sana?" tanya Sevia saat keduanya sudah sama-sama duduk di tepi tempat tidur.


Tanpa ada komando, kini keduanya saling berpagutan melepaskan semua rasa yang membuncah data di dada. Sampai keduanya merasakan kehabisan napas, mereka pun melepaskan pagutannya.


"Via, jangan pakai penunda kehamilan lagi! Aku ingin memiliki banyak anak darimu," ucap Dave dengan napas yang masih memburu.


"Iya, Dave!" sahut Sevia.


Dave pun kembali mengulang pagutannya. Namun kali ini Keduanya sudah diselimuti oleh kabut gairah. Apalagi tangan Dave sudah berkelana ke tiap titik sensitif Sevia. Membuat wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tanpa sadar melenguh kenikmatan dengan apa yang dia lakukan.

__ADS_1


Dave tidak melepaskan pagutannya saat kedua tangannya mulai aktif membuka satu persatu baju yang melekat di tubuh istrinya. Sampai saat keduanya sudah sama-sama toples, kedua insan itu mulai bermain pada permainan inti yang membuat keduanya mencapai puncak secara bersamaan.


"Terima kasih sayang," ucap Dave dengan mencium kening Sevia saat season pertama percintaannya selesai.


Sevia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum puas karena dia pun begitu menikmati apa yang suaminya lakukan. Namun, sepertinya Sevia hanya mengangguk pasrah saat Dave meminta untuk mengulang lagi permainannya sampai laki-laki bermata biru itu merasa puas dan lelah setelah terus menerus memompa istrinya.


...***...


Keesokan harinya, terdengar suara ponsel yang berbunyi terus menerus. Dave dan Sevia yang masih terlelap akhirnya terpaksa bangun karena merasa terganggu dengan suara berisik dari ponsel milik keduanya. Saat mereka meraih ponsel masing-masing, terlihat di layar ponsel nama sahabatnya yang memanggil. Rupanya Harry dan Rani sedari tadi terus menghubunginya. Dave dan Sevia saling berpandangan dan memperlihatkan layar ponsel masing-masing. Namun, akhirnya Dave memutuskan untuk mengangkat telepon dari Harry dan menyuruh Sevia me-reject panggilan dari Rani.


"Hallo, Dave! Bisa pulang sekarang tidak? Gawat, pengasuh Langit bikin ulah." Harry terdengar panik di seberang sana saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Bikin ulah gimana?" tanya Dave.


"Dia membawa Gavin pergi pagi-pagi sekali. Kata Lusi, dia sakit hati karena mau diberhentikan. Aku tidak bisa melacak keberadaan dia, Dave." Suara Harry terdengar semakin parau. Sepertinya laki-laki itu sedang menahan tangisannya karena kehilangan anak bayinya.


"Kamu tenang saja, bukankah aku pernah memberi hadiah sebuah gelang kaki pada putramu? Di sana ada alat pelacaknya. Aku akan mengecek keberadaannya dulu," ucap Dave seraya mematikan panggilan teleponnya.


Dave pun langsung melacak keberadaan Noni yang ternyata masih ada di sekitar kota industri. Setelah mendapatkan keberadaan perawat itu, Dave langsung bergabung dengan Sevia yang sedang mandi. Namun mereka mandi dengan secepat mungkin karena ingin ikut mencari keberadaan Gavin. Setelah keduanya rapi, Dave dan Sevia pun segera pulang ke rumahnya.


"Bi Lina, Harry sudah berangkat?" tanya Dave saat tiba di rumah dan tidak mendapati sahabatnya.


"Sudah, Den! Di rumah hanya ada Bibi dan Bi Surti."

__ADS_1


...~Bersambung~...


...Selamat berlibur kawan! Jangan lupa dukungannya ya! Cukup klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


__ADS_2