Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 56 Ke rumah Tante Icha


__ADS_3

Hanya butuh dua hari, Sevia dirawat pasca melahrkan. Hari ini dia rencananya akan pulang ke rumah. Namun, hatinya masih mengganjal karena dia tidak pernah bertemu lagi dengan Icha, seseorang yang telah menolongnya. Sevia berencana ingin mengembalikan uang yang terpakai untuk biaya rumah sakit selama dia dirawat. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang memberikannya petunjuk tentang keberadaan ibu baik hati itu. Sampai akhirnya dia pasrah dan memutuskan untuk pulang saat dokter menyuruhnya.


Empat bulan sudah berlalu, putri kecilnya yang memiliki mata biru seperti papanya sangat menggemaskan. Sevia memberi nama yang hampir mirip dengan nama papanya, Devanya Sky. Kini bayi kecilnya sudah pintar tengkurap dan berceloteh.


Sevia sempat mencari tahu keberadaan Dave dengan mencarinya ke Cikarang tempat pertama kali mereka bertemu sekaligus juga berpisah. Namun, ternyata usahanya tidak membuahkan hasil. Justru membuat dia malah bertambah pusing dengan sikap Adam yang terus saja mendekatinya.


"Via, tolong kamu pertimbangkan perasaan aku! Aku tulus menyayangimu juga putri kecilmu. Aku akan menganggap dia seperti putriku sendiri," ucap Adam saat mengantarkan Sevia sepulang dari Cikarang.


"Adam, aku minta maaf! Sejujurnya aku belum bercerai dengan suamiku. Aku masih istri orang," elak Sevia.


"Percuma kamu masih mengharapkan dia. Kamu tahu, Mr. Dave akan menikah dengan Nona Zee. Aku mendapat undangan untuk acara pertunangannya. Kalau kamu tidak percaya dengan ucapanku, aku akan menjemputmu untuk menghadiri acara pertunangan mereka." Adam bicara begitu meyakinkan membuat Sevia akhirnya menyetujui apa yang Adam katakan.


"Baiklah, aku ingin tahu kebenaran dari apa yang kamu katakan!" sahut Sevia. "Terima kasih sudah mengantarku!" lanjutnya.


Kenapa sulit sekali meluluhkan hati kamu, padahal sudah jelas-jelas kalau Dave sudah meninggalkan dia. Dari awal juga sudah kelihatan kalau Dave menyukai Zee, batin Adam.


Semalaman Sevia tidak bisa tidur, dia terus kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Adam. Hatinya sangat sakit jika memang benar Dave akan bertunangan dengan Zee.


Berarti apa yang kamu katakan dulu itu bohong, Dave. Kamu sebenarnya memang mencintai Zee dari dulu tapi kenapa kamu tidak mau mengakuinya?


...***...


Keesokan harinya, Sevia mengajak Rani dan putrinya untuk berbelanja kebutuhan bulanan ke supermarket. Devanya terlihat begitu senang berada dalam kereta dorongnya. Sementara Sevia dan Rani asyik memilih popok untuk bayi cantik itu. Sampai akhirnya, saat keduanya sedang asyik memilih cemilan. Ada seorang ibu yang terpukau dengan bayi kecilnya.


"Dedek cantik siapa namanya? Matanya indah sekali berwarna biru," sapa ibu itu pada Devanya.


Mendengar ada orang yang mengajak bicara pada putrinya, Sevia pin langsung membalikkan badannya dan melihat seseorang yang sangat ingin sekali ditemuinya.


"Nyonya!" panggil Sevia.

__ADS_1


"Loh, Sevia kan? Jadi, ini bayi yang waktu itu kamu lahirkan?" tanya Icha merasa tidak percaya bisa bertemu dengan Sevia.


Waktu itu, dia belum sempat menengok Sevia karena ada sedikit masalah sehingga melupakan tentang Sevia.


"Iya, Nyonya! Apa kabar? Aku belum berterima kasih dengan benar. Waktu itu sempat bertanya tentang Nyonya pada perawat tapi mereka tidak ada yang memberi tahu," jelas Sevia.


Jelas saja mereka tidak ada yang berani memberitahu, karena setelah kejadian itu, identitas Keluarga Putra langsung dirahasiakan, batin Icha.


"Kalau begitu, bagaimana kalau sepulang dari sini mampir ke rumah Tante. Bukankah KTP kamu juga masih ada sama Tante?" tanya Icha.


"Iya juga, Nyonya! Baiklah kalau begitu, sekalian aku juga ada yang ingin aku kembalikan." Sevia akhirnya menyetujui ajakan Icha.


"Sudah aku katakan, jangan panggil Nyonya! Panggil Tante saja," suruh Icha.


"Via, sudah belum?" tanya Rani yang baru datang dengan beberapa makanan di pelukannya.


"Aku Rani, Tante. Makasih waktu itu sudah menolong sahabatku." Rani langsung mengulurkan tangan mengajak Icha untuk bersalaman.


"Senang berkenalan dengan kalian," ucap Icha.


"Ran, kita pulangnya mengambil KTP aku dulu yang masih ada di Tante Icha," ucap Sevia.


"Oh, iya gak apa-apa!" sahut Rani.


"Sekalian makan siang di rumah Tante, ya! Kebetulan suami dan anak-anak Tante sedang tidak ada di rumah. Kita bisa bebas mengobrol dan bermain dengan bayi kecil ini." Icha begitu bersemangat ingin bermain dengan bayi cantik yang bermata biru itu.


"Nanti merepotkan, Tan!" sanggah Sevia.


"Tidak akan, kalau sudah selesai ayo kita pulang! Kurang baik juga buat bayi berlama-lama di keramaian," ucap Icha.

__ADS_1


Sevia dan Rani hanya saling pandang dengan apa yang dilakukan oleh Icha. Meskipun ada ragu di hatinya, tetapi Sevia meyakinkan diri kalau Ibu cantik yang satu ini adalah orang baik sehinga dia pun mengikuti ajakannya.


Setelah membayar barang belanjaan, ketiganya segera menuju ke luar supermarket karena supir Icha sudah menunggu di sana. Selama perjalanan menuju ke rumahnya, Icha terus saja mengajak bercerita tentang pengalaman merawat keempat anaknya. Sevia dan Rani yang masih canggung hanya menimpali seperlunya. Sampai akhirnya mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah, barulah mereka menghentikan obrolannya.


"Ayo turun! Jangan sungkan di rumah Tante! Kami tidak menggigit hanya menelan bulat-bulat," canda Icha yang melihat raut kegugupan dari kedua wanita muda.


"Iya Tan!" Sevia dan Rani pun turun dari mobil dan mengikuti kemana Icha membawanya.


"Via, Devanya ditidurkan saja di kamar tamu. Kasian kalau digendong terus nanti pegal. Ayo Tante antar!" Icha langsung menarik Sevia menuju ke kamar tamu, sedangkan Rani sudah duduk di ruang tamu.


"Kamu tahu tidak, Via? Putrimu mengingatkan Tante dengan putra angkat Tante saat dia masih bayi. Matanya juga sama bermata biru. Apa suami kamu bule?" tanya Icha.


Ada rasa kasihan di hati Icha. Dia berpikir, kalau Sevia adalah salah satu korban kawin kontrak dengan para bule yang menetap di tanah airnya. Sehingga saat kawin kontrak berakhir meninggalkan benih yang tidak diketahui oleh suaminya.


"Iya, Tan!" sahut Sevia.


"Oh, tidak apa. Yang penting sebagai wanita kita tetap tegar dan kuat," ucap Icha dengan tersenyum. "Ayo kita ngobrolnya di sana sambil minum-minum!" ajak Icha


Saat sampai di ruang tamu, Icha pun berpamitan hendak ke kamarnya untuk mengambil KTP Sevia sekaligus menyimpan tasnya. "Tante tinggal, ya! Mau mengambil KTP Sevia dulu."


"Iya, Tan!" kompak Sevia dan Rani.


Setelah kepergian Icha, tanpa sengaja mata Rani melihat foto keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu, sehingga dia pun langsung menyikut sahabatnya yang sedang membaca pesanan dari para pelanggannya.


"Via, bukankah itu foto suami kamu?" tunjuk Rani.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rani, Sevia pun langsung melihat ke arah tangan Rani yang sedang menunjuk sebuah foto keluarga.


"Dave," lirih Sevia.

__ADS_1


__ADS_2