
Setelah kepergian Andika, Dave yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Dia sebenarnya ingin tertawa melihat istrinya yang terdiam saat Andika dibawa pergi oleh wanita itu. Namun, dia terus menahannya.
"Kenapa? Masih kangen sama mantan? Sepertinya dua kali kamu ditinggalkan di taman ini oleh dia. Dua kali pula, aku datang untuk menemani kamu." Dave menahan senyumnya saat dia bicara pada Sevia.
"Tertawa saja, aku tidak apa-apa kho! Tidak apa aku dia tinggalkan dua kali, karena aku mendapatkan brondong mesumku yang super super ganteng." Sevia balik menggoda Dave dengan mengerlingkan matanya.
Mendapat godaan dari istrinya, Dave langsung mencubit pipi Sevia gemas. "Ternyata istriku sudah pintar menggoda, nanti goda aku saat sudah ada di kamar oke! Akan aku pastikan, usahamu pasti berhasil."
Bukan hanya berhasil, tapi sudah pasti aku akan kewalahan menghadapi kemesuman kamu, batin Sevia.
"Pulang yuk! Mataharinya sudah mau tenggelam," ajak Sevia.
"Baiklah Mommy!" Dave berdiri dan mengulurkan tangannya agar Sevia menggenggamnya.
"Makasih, Papa!" Sevia pun berdiri dari duduknya dengan tangan Dave sebagai tumpuannya. Mereka pun segera beranjak pergi menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
Apa yang Sevia dan Dave lakukan, tidak lepas dari pengamatan Andika. Dia begitu penasaran dengan gadis yang selalu mertuanya ceritakan. Karena, meskipun sekarang dia mengandung anak Andika, api sikap suaminya itu terkadang cuek padanya.
Sepertinya, dia tidak akan menjadi sainganku. Suaminya saja orang kaya. Bahkan mobil yang mereka tumpangi bukan mobil biasa yang kebanyakan orang pakai. Beruntung sekali gadis itu bisa mendapatkan lelaki kaya.
"Risa kamu lihat apa? Kenapa dari tadi bengong? Ayo kita pulang sudah mau gelap!" Andika menyadarkan istrinya yg sedari tadi melihat ke arah Sevia sampai mobil yang ditumpanginya tidak kelihatan lagi.
"Aa apa Aa Andika masih menyukai perempuan itu? Bukankah itu mantan Aa?" tanya Risa.
Meskipun aku masih menyukainya, tapi aku tidak akan bisa kembali padanya. Sevia akan selalu menempati salah satu ruang di hatiku, karena hanya dia gadis yang sudah banyak berkorban untukku, tetapi aku malah menyia-nyiakannya.
"Sudahlah Risa, tidak penting aku masih suka atau tidak. Sekarang aku dan dia sudah sama-sama memiliki pasangan. Kamu tidak perlu mengungkit lagi masa laluku," ucap Andika.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" Risa berdiri dari duduknya dan menuju mobil Andika yang ikuti oleh Andika dan putrinya.
...***...
Keesokan harinya, lagi-lagi Sevia mual muntah di pagi hari. Dia nampak lemas karena muntah terus menerus. Tiap apa yang dia makan, pasti dia keluarkan lagi.
Melihat istrinya yang kesusahan, Dave ingin sekali mendekatinya. Mengelus punggung istrinya agar merasa lebih baik lagi. Namun, setiap kali Dave mendekat, asam lambung Sevia pasti naik sehingga dia selalu berlari ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Dave, tolong jangan dekat-dekat aku. Badanku sudah lemas jika harus muntah terus," pinta Sevia.
"Via, bagaimana aku bisa menjauhi kamu kalau keadaan kamu seperti ini," tolak Dave.
"Dave, tolong sampai morning sick Sevia berakhir, kamu tidurnya terpisah dulu. Kasian Via, mukanya sampai pucat seperti itu," timpal Rani yang tidak tega melihat keadaan istrinya.
__ADS_1
"Kenapa kalian tega sama aku, memeluk pun aku tidak boleh." Wajah Dave memelas berharap ada keputusan lain yang bisa menguntungkannya.
"Tolonglah, Dave! Kamu masih bisa melihatnya dari jauh," mohon Rani.
"Baiklah, aku akan melihatnya dari sofa. Tapi kamu jangan menyuruhku untuk tidur di kamar lain, karena aku tidak akan melakukannya." Keputusan Dave final, dia tidak mau jika harus tidur terpisah kamar dengan istrinya.
"Maaf Dave, tolong mengerti ya!" Sevia menatap sendu suaminya. Dia tidak tega melihat wajah suaminya yang memelas.
"Aku ke kantor dulu, Rani tolong jaga istriku!" Dave langsung keluar dari kamar meninggalkan dua sahabat yang saling berpandangan.
Setelah kepergian Dave, Sevia pun kembali tertidur setelah dia minum obat untuk meredakan mual muntah. Sementara Rani melihat anak-anak dan bergabung bersama mereka.
Saat Sevia sedang terlelap tidur, terdengar ada suara orang yang memberi salam. Rani pun segera membuka pintu. Nampak Pak Rudi berdiri di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Rudi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rani. "Ayo masuk, Pak!"
Pak Rudi pun langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Melihat rumah Yang Sevia tempati sekarang.
"Rani, kenapa pindah ke sini? Bukankah rumah yang di Jakarta lebih bagus dari ini?" tanya Pak Rudi.
"Suami Sevia dipindah ke sini, Mang. Jadinya, kita semua pindah ke sini. Mang Rudi mau minum apa? Biar Rani buatkan," tanya Rani.
"Sevia sedang tidur, Mang. Dia sedang hamil muda jadi mabok, dari tadi pagi muntah terus." Rani langsung berlalu pergi setelah selesai menjawab pertanyaan Rudi.
Semoga saja, Sevia belum bertemu dengan perempuan itu. Aku tidak mau jika harus kehilangan Sevia. Tapi bagaimana jika perempuan itu mengatakan hal yang sebenarnya?
Saat Rudi sedang asyik dengan lamunannya, Rani pun datang kembali dengan nampan di tangannya. Setelah dia menyimpan jus dan beberapa cemilan, Rani pun duduk di sofa untuk menemani ayah dari sahabatnya.
"Mang Rudi bisa tahu alamat ini dari mana? Bukankah belum pernah ke sini?" tanya Rani.
"Mamang minta Sevia semalam karena ada hal yang Mamang bicarakan dengan dia," ucap Rudi.
"Oh, bagaimana keadaan nenek dan yang lainnya? Apa mereka sehat?" tanya Rani lagi.
"Alhamdulillah sehat. Rani apa pernah ada wanita yang datang ke sini dan ngaku-ngaku ibunya Sevia?" tanya Rudi hati-hati.
"Seingat aku, gak ada. Memangnya kenapa? Apa Bi Nara pulang dari timur tengah?" tanya Rani.
Dia masih ingat, saat Rani dan Sevia berumur tujuh tahun, ibunya Sevia pamit untuk menjadi TKW ke timur tengah. Namun, semenjak itu tidak pernah ada kabar beritanya sampai sekarang. Banyak orang yang menduga-duga kalau ibunya Sevia meninggal di perantauan, tapi ada juga yang mengatakan kalau ibunya Sevia itu menikah dengan majikannya.
__ADS_1
Semenjak banyak kabar burung yang Rudi dengar, dia pun setiap hari jadi mabuk-mabukan dan tidak peduli lagi pada Sevia. Dia merasa dibohongi oleh wanita yang dia cintai. Meskipun Rudi tahu kalau istrinya itu tidak pernah mencintainya.
"Tidak, bukan Nara tapi perempuan lain. Mamang hanya ingin memastikan agar Sevia tidak mudah terpengaruh oleh orang asing," jawab Rudi.
"Oh, aku pikir Bi Nara pulang. Udah dua puluh tahun dia tidak pulang. Pasti sekarang dia cantik sekali,"
"Siapa Rani? Apa Ibu pulang?" tanya Sevia di ambang pintu.
Dia yang baru bangun teringat pada putrinya karena dari pagi belum bertemu dengan Devanya, Sehingga Sevia pun memaksakan diri untuk turun ke lantai bawah mencari Devanya. Namun, saat dia berada di ruang tengah, Bi Lina mengatakan kalau ada bapaknya di ruang tamu.
"Via, apa kamu sehat?" tanya Rudi langsung berdiri menyambut putrinya.
"Kalau udah siang begini, lumayan tidak terlalu mual. Bapak sehat? Aku pikir Bapak tidak secepat ini datang ke sini." Sevia pun langsung mencium punggung tangan bapaknya.
"Bapak khawatir sama kamu. Kata Rani, kamu sedang mengandung lagi?" tanya Rudi.
"Iya, Pak. Ini sudah jalan delapan minggu. Aku kebobolan tidak tau kalau sedang hamil," jawab Sevia.
"Tidak apa yang penting kamu sehat." Rudi menjeda ucapannya sesaat. "Via, bapak hanya mau berpesan jangan mudah percaya dengan orang asing. Apalagi, orang itu baru saja kamu temui. Bisa saja dia hanya mengarang cerita," pesan Rudi.
"Iya, Pak. Tapi kenapa bapak pesan seperti itu, memangnya ada orang asing yang mencari aku?" tanya Sevia.
"Bapak hanya mau mengingat karena kamu suka mudah percaya dan mudah sekali dimanfaatkan orang," ucap Rudi.
Padahal dia sendiri yang sering memanfaatkan anaknya, bukan orang lain. Tapi dia malah mengingatkan Sevia, batin Rani.
"Iya, Pak. Bapak tenang saja. Sekarang sudah ada Dave yang menjaga aku dari orang-orang yang seperti itu," sahut Sevia.
Aku lupa kalau suami Sevia orangnya perhitungan sekali. Sangat berbeda dengannya yang selalu tidak tega dengan orang yang susah ataupun memohon padanya, batin Rudi.
"Syukurlah di kalau begitu. Bapak lega jadinya. Tapi Via, Bapak ke sini hanya bawa uang untuk sekali jalan. Untuk ongkos pulangnya tidak ada," ucap Rudi dengan memelas.
"Bapak tenang saja, nanti Via kasih untuk ongkos sekalian juga untuk nenek," ucap Sevia.
Baru saja kasih nasihat, ujung-ujungnya minta uang sama Sevia. Mang Rudi tidak pernah berubah, selalu saja seperti itu. Tapi untung suami Sevia tajir sehingga dia tidak perlu lagi membanting tulang lagi untuk memenuhi permintaan bapaknya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan!...
Sambil nunggu Dave update, yuk kepoin cerita keren satu ini
__ADS_1