Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 69 Merajuk


__ADS_3

Meeting produk baru yang direncanakan hanya akan memakan waktu satu jam ternyata berjalan alot. Begitu banyak perbedaan pendapat di antara peserta meeting kali ini. Sampai akhirnya saat menjelang sore, barulah mencapai kesepakatan.


Dave yang sudah berjanji akan menjemput Sevia ke rumah kontrakannya nampak gelisah. Sedari tadi dia terus melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Saat semua peserta rapat sudah membubarkan diri, barulah dia bergegas pulang.


"Harry, aku langsung pulang. Sevia pasti sudah menungguku di rumah kontrakannya," ucap Dave pada assistennya.


"Baru jam empat sore, Dave!" sanggah Harry.


"Aku lagi malas buka berkas. Aku ingin segera bertemu dengan anak dan istriku. Sudahlah, aku pulang sekarang." Dave langsung bergegas pergi sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang menguping pembicaraannya.


Berarti tadi pagi Sevia memang ada di rumahnya. Kenapa dia harus sembunyi dariku? Tapi aku tidak akan menyerah sebelum melihat langsung, batin Adam.


Adam pun langsung mengikuti ke mana mobil Dave pergi. Benar saja, Dave menuju ke rumah kontrakan yang tadi pagi dia datangi. Nampak jelas di depan matanya, Sevia begitu sumringah menyambut kedatangan Dave. Meskipun hatinya tidak suka dengan apa yang dilihatnya, tetapi Adam memaksakan diri untuk menemui Sevia.


"Assalamu'alaikum," ucap Adam yang sukses membuat Sevia menjadi kaget dengan kedatangannya.


"Wa'alaikumsalam, loh Bang Adam mari masuk!" ajak Sevia. Dia merasa tidak enak jika tidak mempersilakan Adam untuk masuk ke dalam rumahnya. Lagipula ada Dave di dalam.


"Apa kabar, Via? Aku beberapa kali datang ke sini tapi kamu tidak ada," tanya Adam.


"Maaf, sekarang aku tidak tinggal di sini. Suamiku mengajak untuk tinggal bersamanya," jawab Sevia.


Padahal dulu aku sengaja tidak memberitahukan tentang keadaan Mr. Dave pada Sevia. Tapi ternyata mereka kembali bertemu. Aku pikir gadis yang waktu itu di pesta pertunangan Mr. Dave dan Nona Zee itu bukan Sevia karena aku melihatnya terlalu jauh, batin Adam.


"Via, siapa tamu yang datang?" tanya Dave yang baru keluar dari kamar bersama bayi cantiknya.


"Oh, ini kakaknya Reina, Adam." Sevia pun memperkenalkan kembali Adam pada Dave.

__ADS_1


Dave melihat tajam ke arah Adam, dia sudah mengenal manager engineering yang dari pabrik Cikarang itu. Hanya saja dia tidak ingat kalau Adam pernah Sevia kenalkan padanya.


"Pak Adam, ternyata Anda mengenal baik istriku. Apa Pak Adam sering berkunjung ke mari?" Dave memasang wajah tidak sukanya dengan kedatangan Adam.


"Sering, saya hanya ingin memastikan keadaan Sevia baik-baik saja setelah Anda mencampakkannya, Mister." Adam menjawab dengan entengnya.


"Apa maksudmu aku campakkan? Aku tidak pernah mencampakkannya dan aku harap, ini terakhir kalinya kamu menemui istriku. Setelah ini, jangan harap aku mengijinkan Sevia bertemu denganmu," sentak Dave. Kepalanya terasa mendidih mendengar pengakuan dari lelaki di depannya.


Melihat kekesalan suaminya, Sevia langsung menghampiri Dave dan mengelus lembut tangannya. Dia berusaha menenangkan Dave dari kemarahannya. "Sayang, Adam datang ke sini karena di suruh Rei untuk membawa makanan yang ku pesan saat dulu aku ngidam. Kamu jangan salah paham padanya, Aku sudah menganggapnya seperti abangku sendiri seperti Reina."


Saat hati Dave membaik dengan apa yang Sevia katakan, kini hati Adam seperti ranting yang patah terpotek-potek. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaannya.


"Kamu benar, Via. Kita bisa menjadi saudara seandainya memang kita tidak bisa berjodoh. Aku harap, kamu tidak menghindari aku lagi," sarkas Adam.


Sevia hanya cengengesan mendengar apa yang Adam katakan. Ternyata Adam mengetahui kalau dia menghindarinya. "Maaf, aku gak bermaksud begitu."


"Dave, kita nginap di sini apa pulang?" tanya Sevia saat Adam sudah tidak ada.


"Kamu mau menunggu Adam kembali ke sini?" ketus Dave.


Yah, dia masih kesal. Aku kasih permen saja apa ya biar berondongku ini tidak merajuk, batin Sevia.


"Sebelum pulang ke rumah Tante, kita ke mall dulu yuk. Aku ingin makan chicken sama kentang goreng," ajak Sevia.


"Terserah!"


Ayo, Via rayu aku! Janjiin aku, nanti kamu yang akan pegang kendali atau kita main sampai subuh, batin Dave.

__ADS_1


"Udah dong, Dave! Adam kan hanya peduli sama aku karena waktu itu, aku sangat menyedihkan. Coba saja kamu bayangkan, aku pingsan di taman kerena nungguin kamu. Udah gitu hujan deras lagi, untung saja ada Reina dan Adam yang menolongku." Sevia pun langsung memasang muka sendu dan sukses membuat Dave langsung memeluk istrinya. Meskipun kejadian itu bukan keinginannya, tetapi mengetahui Sevia menderita membuat Dave merasa bersalah.


"Maaf, ayo kita berangkat! Katanya mau makan Chicken!" Dave langsung mengajak Sevia pergi ke mall agar istrinya tidak teringat terus dengan kejadian itu.


Ternyata mudah sekali merayu, Dave. Asalkan memasang wajah sedih, dia langsung luluh. Maafkan istrimu, suamiku. Mungkin kedepannya akan aku jadikan senjata saat kamu sedang merajuk, batin Sevia.


Kini keluarga kecil itu sedang berjalan mengelilingi Mall setelah tadi terlebih dahulu makan di restoran cepat saji, dengan Devanya dalam gendongan Dave seperti kanguru. Papa muda itu sangat menikmati perannya sebagai seorang suami siaga dan papa yang perhatian. Banyak wanita yang melihat takjub padanya, bagaimana tidak dengan kemeja putih yang pas di badan dan bagian tangannya di gulung, serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dave menggendong putrinya tanpa sungkan. Dia tidak peduli dengan tatapan semua orang. Dia hanya ingin meringankan beban istrinya agar tidak menggendong putrinya terus. Sementara Sevia berjalan di sampingnya dengan tas keperluan Devanya.


"Wow, Dave! Kamu sudah punya anak?" tanya seorang gadis cantik bak foto model.


Dave yang akan masuk ke sebuah butik merasa kaget mendengar suara orang yang menegurnya. Dia sedikit menurunkan kacamatanya untuk memastikan penglihatannya. Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya, Dave pun membenarkan kembali kacamatanya.


"Oh, Mona! Tentu saja dan ini istriku," Dave tersenyum bangga dan langsung memperkenalkan Sevia.


"Aku pikir kamu jadi menikah dengan Zee, bukannya kalian sudah menyebar undangan pertunangan?" tanya Mona dengan penuh selidik.


"Bagaimana bisa kami menikah, kalau kami sudah memiliki pasangan yang kami cintai. Lagipula cinta itu tidak bisa dipaksakan ataupun penuh ancaman karena cinta yang seperti itu namanya bukan cinta, tapi OBSESI." Dave sengaja menekankan kata obsesi tepat di telinga Mona.


"Maksud kamu apa, Dave?" tanya Mona heran. Dia tidak tahu kalau Dave orang dibalik pembebasan Malvin.


"Aku gak maksud apa-apa! Aku masuk dulu, istriku ingin beli baju buat acara liburan kami."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kakak! Tinggal klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2