
Perjalanan yang melelahkan karena harus putar arah, membuat Harry langsung tertidur pulas sesampainya di rumah Rani. Hati, pikiran dan badannya benar-benar ingin istirahat. Apalagi sampaidi rumah Rani sudah larut malam ditambah tadi harus melewati perkampungan karena ada kecelakaan beruntun di jalan utama yang harus dia lalui.
Sementara Rani merasakan perutnya mulas akibat goncangan tadi melewati jalanan yang rusak di perkampungan. Dia terus meringis menahan rasa sakitnya. Sampai akhirnya, Bu Asti menyadari dengan keadaan putrinya.
"Neng kenapa, apa perutnya sakit?" tanya Asti.
"Iya Bu, mulas terus," keluh Rani dengan tangannya yang tidak berhenti mengusap perut buncitnya.
"Ayo kita periksa dulu ke Bidan Ria. Pasti dia sudah pulang dari Puskesmas," ajak Bu Asti.
"Ya, sudah Bu ayo!" Rani pun hanya mengikuti ajakan ibunya karena memang Dia merasakan sakit di perut bagian bawahnya.
Sesampainya di rumah bidan desa yang ada di kampung Rani, yang hanya terhalang dua rumah dari rumah Rani, mereka pun langsung masuk setelah dipersilakan. Bidan Ria yang memang kenal baik dengan keluarga Rani, tersenyum ramah menyambut kedatangan ibu dan anak itu.
"Neng Rani lama tidak pulang ternyata sudah mengandung. Sudah jalan berapa bulan?" tanya Bidan Ria.
"Kalau pemeriksaan di sana, sekarang sudah bulan ke tujuh, Bu. Tapi perutku sakit dan mulas," jawab Rani.
"Iya Bu Bidan, seperti orang mau melahirkan saja," timpal Bu Asti.
"Bisa jadi kalau mulasnya sudah sering. Apalagi kandungan usia tujuh bulan sudah terbilang matang. Mari aku periksa!" Bidan Ria punlangsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke sebuah tempat tidur khusus untuk memeriksa pasien.
Rani hanya mengikuti apa yang bidan itu katakan. Dia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bidan Ria pun langsung memeriksa keadaan bayi.
"Kepalanya sudah masuk, bayinya sudah ingin keluar. Coba dibuka kakinya, kita lihat sudah pembukaan berapa," ucap Bidan Ria dengan tangannya terus memeriksa ke bagian inti Rani.
"Bu, apa anakku baik-baik saja?" tanya Rani cemas.
"Sebentar ya kita cek detak jantungnya, sekarang sudah pembukaan lima. Tinggal menunggu empat pembukaan lagi. Kemungkinan bayinya akan lahir prematur karena berat badannya belum cukup. Bagaimana Bu Asti, mau lahiran di sini atau aku langsung rujuk ke rumah sakit saja?" tanya Bidan Ria dengan tangannya yang mulai memeriksa detak jantung bayi. "Detak jantungnya bagus."
__ADS_1
"Bagaimana baiknya saja, Bu." Bu Asti pasrah yng penting anaknya baik-baik saja.
"Aku rujuk ke rumah sakit saja ya, Bu. Agar bayinya cepat mendapatkan penanganan. Karena setelah lahir dia harus masuk inkubator dulu," saran Bidan Ria.
"Baik, Bu! Kalau begitu, saya permisi dulu mau mengambil keperluan untuk lahiran Rani sambil mencari mobil dulu," pamit Bu Asti panik. Bagaimana tidak, Anaknya baru datang dari kota malah langsung mau melahirkan.
"Kalau mobil, biar pakai mobilku saja, Bu Asti. Sekalian aku antar," ucap Bidan Ria.
"Baik, Bu terima kasih."
Bu Asti tergesa-gesa langsung mencari suaminya dan memberitahukan kalau Rani akan dibawa ke rumah sakit. Dia melupakan Harry yang sedang tertidur pulas di kamar Rani, sehingga meninggalkannya begitu saja. Setelah semuanya siap, dia pun kembali ke rumah Bu Bidan bersama dengan suaminya.
"Bapak, ayo angkat Rani ke mobil! Kasian anak kita kesakitan," suruh Bu Asti.
Pak Iwan ayahnya Rani yang memiliki badan kecil dan kurus berusaha mengangkat putrinya. Namun ternyata usahanya tidak membuahkan hasil. Dia kesusahan mengangkat putrinya yang memiliki berat badan 65 kilogram selama kehamilannya.
"Sudah, Pak! Biar Rani jalan saja," ucap Rani seraya berusaha turun dari tempat tidur. Meski dia merasakan sakit yang teramat sakit tapi Rani berusaha untuk menghalaunya.
"Oh itu. Dia kelelahan selama perjalanan, jadi sekarang sedang tidur. Kasian jika harus dibangunkan," kilah Bu Asti.
Bidan Ria hanya mengangguk menanggapi apa yang dikatakan oleh tetangganya. Meskipun dalam hatinya dia merasa heran, tetapi dia memilih untuk tidak bertanya lagi. Saat sampai rumah sakit, Rani sudah memasuki pembukaan ke tujuh sehingga dia langsung dibawa ke ruang bersalin. Sementara dan Ria membantu mengurus administrasi.
Hanya butuh satu kali dorongan, bayi cantik itu lahir dengan selamat. Rani dan kedua orang tuanya tidak berhenti mengucapkan syukur karena bayinya lahir dengan selamat dan sehat. Meskipun dia harus dimasukkan dulu ke inkubator.
"Selamat ya Neng Rani persalinannya lancar, bayinya juga sehat. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Bidan Ria.
"Makasih, Bu!" ucap Rani.
"Bapak juga pulang dulu, nanti malam ke sini lagi dengan te ...." Pak Iwan menghentikan ucapannya saat melihat kode dari istrinya. "Dengan calon suami kamu," lanjutnya.
__ADS_1
Bapak apa-apaan mengaku Harry sebagai calon suamiku. Bagaimana kalau Harry tahu, bisa malu aku, batin Rani.
...***...
Sementara Harry yang terbangun saat matahari sudah berada di tengah-tengah kepala, merasa aneh karena tidak mendapati seorang pun di rumah Rani. Dia berkelling mencari ke dapur ruang tengah dan ruang tamu, tapi hasilnya nihil. Dia pun langsung membersihkan dirinya dan berniat untuk mencari makan di luar. karena tidak mungkin dia makan di rumah Rani, sedangkan tuan rumah tidak mempersilakannya. Namun, saat dia keluar rumah, Harry dikagetkan dengan pertanyaan tetangga Rani.
"Kang Bule, calon suami barunya Rani ya? Tadi Rani dibawa ke rumah sakit, katanya mau melahirkan," tanya Wina tetangga Rani.
"Apa melahirkan? Bukannya masih tujuh bulan ya?" gumam Harry kaget.
"Dibawa ke rumah sakit mana, Mbak?" tanya Harry.
"Ke rumah sakit umum, Kang. Tadi jam sepuluhan berangkatnya," jawab Wina.
"Oh, begitu! Terima kasih Mbak, permisi!" Harry langsung kembali ke dalam rumah. Namun saat akan keluar, dia berpapasan dengan ayahnya Rani yang baru datang.
"Om, katanya Rani melahirkan. Bagaimana keadaannya?" tanya Harry cemas.
"Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat dan sehat. Kamu mau ke mana? Ini Bapak bawakan nasi padang untukmu. Bapak yakin pasti kamu lapar kan?" tanya Pak Iwan.
"Iya, Om! Terima kasih sudah dibelikan, tadinya aku mau nyari makan ke luar," ucap Harry.
"Tidak usah, ayo kita makan sama-sama!" Pak Iwan pun langsung mengajak Harry menuju meja makan.
Kini keduanya sedang menikmati nasi Padang yang sengaja Pak Iwan beli saat dia keluar dari rumah sakit. Karena dia yakin, istrinya pasti belum memasak untuk makan siang. Sudah pasti tidak ada makanan di rumah untuk tamunya. Setelah menghabiskan makanannya, Pak Iwan pun memulai percakapan dengan Harry.
"Terima kasih Nak Harry sudah mengantar Rani ke rumah dengan selamat, tapi Bapak mau minta tolong satu hal pada Nak Harry. Kalau Nak Harry berniat serius pada Rani, tolong nikahi Rani secepatnya. Tapi jika tidak ada niat untuk serius, tolong jangan dekati Rani lagi. Bapak tidak enak dengan tetangga yang mengira Nak Harry calon suami baru Rani. Apalagi, setelah Neneng bercerita banyak tentang pernikahan Sevia dan melihat kedekatan kalian."
...~Bersambung~...
__ADS_1
Nah loh Harry mau jawab apa ya. Yang ingin Harry sama Rani sok atuh sawerannya jangan kendor. B