
Keesokan harinya, Sevia dan Dave pun berkeliling kota Bali dengan Harry yang menjadi supirnya dan Rani bersama dengan Devanya duduk di samping Harry. Sementara pasangan yang sedang honeymoon menikmati kebersamaan mereka di kursi belakang. Harry berkali-kali memejamkan matanya saat tanpa sengaja melihat Dave lewat kaca spion sedang mencium mesra Sevia. Ataupun sedang iseng memasukkan tangannya ke baju istrinya.
Senang sekali jadi Dave, memiliki istri yang penurut. Meskipun Sevia usianya lebih tua dari Dave tapi dia bisa menghargai suaminya yang brondong. Andai Nadine juga bisa seperti itu, dia memang selalu hot di atas tempat tidur tapi kadang sikapnya dia membuat aku merasa seperti adiknya, batin Harry.
Tidak berapa lama kemudian Harry membelokkan mobilnya ke pasar seni yang menjual aneka karya seni dari lukisan, patung, gelang, dan lain sebagainya. Dave sengaja mengajak Harry ke sini karena dia ingin membeli beberapa lukisan untuk dia pajang di rumah barunya.
"Dave barangnya unik-unik ya!" ujar Sevia dengan mata yang jelalatan melihat melihat barang-barang yang ditawarkan di pasar itu.
"Kamu mau beli apa, Via? Pilih saja, aku sama Harry ingin membeli lukisan," tanya Dave.
"Aku ikut juga deh beli lukisan buat di ruang makan," jawab Sevia.
Dave yang menggendong Devanya asyik melihat-lihat lukisan bersama dengan Sevia. Sementara Harry langsung menarik tangan Rani agar meninggalkan pasangan suami istri itu. Dia sengaja memisahkan diri dari Sevia dan Dave agar tidak bisa melihat kemesraan mereka terus. Ditambah lagi, Harry ingin istirahat.
"Rani kita menunggu saja yuk di sana. Lebih baik kita menikmati es kelapa muda di cuaca yang panas seperti ini," ajak Harry.
"Boleh, aku juga merasa pusing berada di pasar." Rani langsung menyetujui ajakan Harry karena memang kepalanya terasa pusing melihat orang banyak yang berada di pasar.
"Rani, ingin membeli apa? Biar nanti aku yang belikan," tanya Harry.
"Aku hanya ingin jeruk Bali," jawab Rani.
" Habis ini kita beli ya. Sekarang habiskan dulu esnya. Sepertinya makan bakso enak ya, kita ke kedai bakso yuk!" ajak Harry.
Saat keduanya sedang asyik menikmati Bakso, Dave dan Sevia datang ikut bergabung. Terlihat Dave dengan wajah kesalnya menghampiri Harry. Assisten-nya itu sedang asyik menikmati semangkuk bakso yang menggiurkan.
"Bagus ya main kabur, aku potong gaji kamu, Harry." Ancam Dave.
"Jangan dong, Dave! Sekarang kan aku punya istri dua, eh maksudku punya tanggungan dua," Harry terlihat gugup dengan apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi besok kamu yang lanjutkan meeting sampai selesai karena aku harus honeymoon. Kita puas-puasin liburan yang hanya dua hari ini buat bikin adiknya Devanya," ucap Dave dengan tersenyum senang.
"Iya gak apa-apa, daripada di villa hanya melihat kebucinan kamu." Harry langsung memasukan baso berukuran kecil ke mulutnya.
"Deal, besok aku hanya sampai jam makan siang. Sisanya kamu yang handle."
"Udah Dave ayo dimakan baksonya! Ngobrol aja terus," ucap Sevia segera menengahi.
Setelah menghabiskan baksonya, mereka pun langsung pulang menuju ke villa karena hari sudah sore. Apalagi Devanya sudah mulai rewel berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak.
...***...
Keesokan harinya, Dave terlihat segar dan berseri. Sangat berbeda dengan Sevia yang terlihat seperti kelelahan. Bagaimana tidak, dia terus-menerus digempur oleh brondongnya dengan seribu satu macam tipu daya. Sevia yang diajak berendam malam-malam di Jacuzzi, ternyata hanya akal-akalan Dave agar mereka bisa bermain di kolam air hangat itu.
Flashback on
"Via, temani aku berendam. Badanku terasa pegal-pegal setelah tadi berkeliling. Mana besok harus meeting pagi," keluh Dave saat mereka selesai makan malam.
"Ada, di belakang. Biar nanti Devanya titip dulu sama Rani," ucap Dave.
"Biar tidur sama aku aja, Via. Biar aku ada temannya. Kamu sediakan saja ASIP untuk Devanya," ucap Rani.
"Ya sudah kalau begitu. Aku titip ya!" Sevia pun akhirnya mengikuti apa yang Dave inginkan.
Setelah makan malam, Rani langsung mengambil Devanya sedangkan Sevia menyiapkan ASIP di kamarnya. Khawatir nanti saat tidur bersama Rani Devanya kekurangan ASIP. Sedangkan Dave, sedari tadi menelan ludah saat melihat Sevia memompa buah kesayangannya.
"Via, masih lama tidak? Aku juga ingin mencicipinya," tanya Dave dengan mata yang tidak lepas dari Sevia.
"Dave jangan melihatku terus, nanti kamu pengen," tegur Sevia.
__ADS_1
"Aku memang menginginkannya. Cepatlah sedikit!" suruh Dave.
"Katanya badan pegal-pegal, tapi kamu ingin ...." Sevia tidak melanjutkan ucapannya karena Dave sudah menyerangnya terlebih dahulu. Dia sudah tidak bisa menahan hasratnya saat melihat istrinya terus memompa buah kembar kesayangannya. Untung saja Sevia bisa menampung dua botol ASIP sehingga bisa dipastikan itu cukup untuk persediaan.
"Dave ah ... kamu nakal ...." Sevia akhirnya hanya bisa menikmati dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Sampai suara ketukan pintu membuat pasangan suami istri menghentikan pemanasannya.
"Dave, aku ke luar sebentar!" teriak Harry di depan pintu.
"Ya pergilah!" teriak Dave yang sudah menghentikan kegiatannya panasnya. "Via, cepat berikan ASIP ini pada Rani. Aku sudah tidak tahan badanku pegal sekali."
Sevia pun menurut dengan apa yang Dave katakan. Dia khawatir suaminya nanti sakit. Apalagi besok ada meeting penting dengan klien dari luar negeri. Setelah menemui Rani, Sevia langsung mengikuti Dave menuju bagian belakang villa. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar, yang di dalamnya ada kolam air hangat.
Tanpa menunggu waktu lama, Dave langsung menanggalkan semua bajunya dan menyisakan baju intinya. Tak berbeda jauh dengan Dave, Sevia langsung dilucuti oleh suaminya untuk ikut berendam dalam kolam air hangat.
"Via cepetan ke sini! Gak akan ada yang mengintip kita. Lihat ruangannya tertutup!" Dave langsung menarik Sevia untuk masuk ke dalam kolam.
"Dave tadi pintunya sudah dikunci kan?" tanya Sevia untuk memastikan.
"Sudah sayang, sekarang kamu pijit aku bagian ini," tunjuk Dave pada pundaknya.
Sevia pun hanya mengikuti apa yang suaminya suruh. Sampai akhirnya dia menyadari kalau sebenarnya Dave hanya mengerjainya saat suami brondongnya itu menyuruh Sevia untuk memijat bagian bawahnya.
"Dave, kamu nakal sekali! Katanya pegal-pegal tapi kamu sebenarnya hanya ingin ...." Dave langsung membungkam mulut istrinya dengan mulutnya hingga pergulatan lidah pun tidak bisa mereka hindari. Sampai pada akhirnya lenguhan kenikmatan memenuhi ruangan sampai dini hari.
Flashback off
"Dave, semalam kamu melakukannya berapa kali? Aku pulang tengah malam sepertinya belum selesai?" tanya Harry saat mereka akan berangkat meeting.
"Aku tidak tahu berapa kali, soalnya setelah bosan bermain di jacuzzi, aku pindah ke kamar," jawab Dave.
__ADS_1
"Pantas saja Sevia sampai kelelahan seperti itu."
...~Bersambung~...