
Suasana mansion terlihat begitu meriah. Meskipun hanya keluarga dekat dan kerabat yang diundang, tetapi tidak mengurangi kemeriahan jamuan makan malam. Dave yang baru datang dengan menggandeng Sevia, langsung disambut dengan suka cita oleh tuan rumah.
"Wah gagah sekali kamu, Dave! Om senang melihat kedatangan kalian," sapa Andrea dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Om, bisa saja. Om juga masih terlihat gagah sama seperti dulu saat aku pertama kali mengenal Om," ucap Dave.
"Oh, iya! Cucu menantuku mana? Aku tidak sabar melihat mereka menikah. Kalau boleh, besok saja ya, Dave?" tanya Andrea.
"Om, bisa saja. Kasian mereka kalau terlalu terburu-buru," sangkal Dave.
Kadang Dave merasa heran pada bosnya itu, sedari Devanya kecil dia sudah sering bicara padanya untuk menjadikan Devanya cucu menantunya. Awalnya Dave hanya menganggapnya sebagai candaan tetapi saat beberapa waktu yang lalu Andrea bicara serius padanya, dia pun akhirnya menyetujui keinginan bosnya itu.
Tak berapa lama kemudian, Devanya, Diandra, Davin dan Devan pun datang. Mereka memang berangkat belakang setelah insiden tadi di rumah. Membiarkan orang tuanya untuk berangkat duluan.
"Malam Opa, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur," ucap Devanya dan yang lainnya kompak.
"Terima kasih, masuklah! Ano sudah ada di dalam." Andrea pun tersenyum menyambut kedatangan calon cucu menantu dan yang lainnya.
Devanya dan Diandra pun langsung masuk ke dalam. Ternyata Harry dan Gavin sudah berada di sana. Mereka memang sengaja tidak mampir dulu ke rumah karena harus memutar arah jika pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Dian, bagaimana kabarmu?" tanya Harry langsung menghampiri putri sambungnya.
Melihat Harry yang datang menghampiri Diandra, Devanya dan si kembar pun langsung pergi menuju ke sofa yang membentuk lingkaran besar. Mereka sengaja memberi ruang untuk Diandra dan Harry berbincang.
"Baik, Dad!" sahut Diandra.
__ADS_1
"Mama, keadaannya gimana? Maafkan Daddy belum sempat pulang. Setiap hari harus lembur," tanya Harry lagi.
"Mama juga sudah membaik, sudah bisa duduk sendiri," jelas Diandra.
"Syukurlah! Daddy senang mendengarnya," ucap Harry.
"Dad, apa benar rumah kita akan disita Bank? Sehingga Daddy memilih tinggal di Cikarang bersama dengan Gavin?" tanya Diandra.
"Tidak, Sayang. Rumah itu, mau Daddy jual saja. Agar semua kenangan buruk tentang apa yg terjadi di rumah itu tidak teringat terus. Mungkin Daddy akan amil rumah yang di samping rumah Om Dave. Katanya mau dijual," jelas Harry
Saat Harry melihat Andrea melambaikan tangan padanya, dia pun langsung berpamitan pada Diandra. "Daddy ke sana dulu, dipanggil Opa Andrea."
"Iya, Dad!" sahut Diandra.
Setelah kepergian Harry, Diandra pun langsung menyusul sahabatnya. Di sana sudah ada Keano dan Elgar putranya Elvano yang usianya tiga tahun lebih muda dari Keano serta Aigner adiknya Keano yang usianya dua tahun lebih tua dari Devanya.
"Deva, tumben Ion belum kelihatan?" tanya Diandra.
"Gak tahu, padahal nenek dan kakek sudah datang," jawab Devanya.
Keano langsung menelan ludahnya kasar saat menyadari sepupunya tidak ikut ke acara jamuan makan malam opanya. Ada rasa bersalah di hatinya karena setelah malam ini, mungkin Devanya akan jadi tunangannya.
Ion kenapa gak ikut? Apa dihukum oleh opanya gara-gara semalam? Kenapa hatiku menjadi tidak tenang? tanya Devanya dalam hati.
Ya Tuhan, kenapa aku jadi jahat sekali pada sepupuku. Dengan teganya aku merebut gadis yang dia cintai, tapi aku juga menginginkannya untuk jadi pendamping hidupku, batin Keano.
__ADS_1
Tidak lama berselang, semuanya sudah duduk rapi di meja makan yang memuat dua puluh orang itu. Setelah Andrea menguapkan kata-kata pembuka, acara makan malam pun dimulai. Suasana hening menyelimuti meja makan. Hanya suara sendok yang terdengar beradu dengan piring.
"Hari ini, aku bahagia sekali karena Tuhan masih memberikan kesempatan padaku untuk berkumpul bersama kalian di bersama. Setelah makan malam, acara kita pindah ke ruang musik. Biar lebih rileks," ucap Andrea setelah dia menghabiskan makan malamnya.
"Memang ada, Bang?" bisik Devanya pada Keano yang duduk di sebelahnya.
"Ada," sahut Keano. "Ayo kita ke sana!" ajaknya saat melihat semua orang sudah bangun dari duduknya dan akan pindah ke ruang musik yang ada di lantai atas.
"Ayo, Dian!" ajak Devanya.
Devanya dan Diandra pun berjalan beriringan. Sedangkan Keano sudah berjalan lebih dulu. Hatinya sedikit kesal karena Devanya memilih berjalan bersama dengan Diandra.
Saat sampai di ruang musik, semua keluarga sudah sampai lebih dulu karena mereka naik lift lebih dulu. Sedangkan Devanya dan anak muda lainnya belakangan.
"Sebelum kita menikmati lagu dari artis yang sengaja Opa undang untuk memeriahkan acara ini, ada sedikit kabar bahagia yang ingin opa sampaikan. Tapi sebelumnya, Keano dan Devanya ayo temani opa di sini," ajak Andrea.
Devanya yang tidak tahu apa-apa, hanya menurut dengan apa yang Andrea katakan. Dia dan Keano pun datang menghampiri Andrea yang tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.
Opa sangat bahagia menyambut kedatanganku dengan Deva. Bagaimana kalau Deva menolak, beliau pasti sangat sedih," batin Keano.
Opa Andrea begitu baik meskipun dia memiliki kekayaan yang berlimpah. Sangat berbeda jauh dengan opa-nya Orion yang melihatku hanya dengan sebelah mata, batin Devanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...