
Keano terus saja tersenyum membayangkan saat nanti dia dan Devanya sudah menjadi suami-istri. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu hari itu segera tiba. Dia pun langsung melihat kalender di ponselnya dan menghitung tinggal berapa hari lagi dia dan Devanya akan bersanding di pelaminan.
"Masih lama, kenapa tidak dipercepat aja jadi minggu depan? Lebih baik aku lanjut kerja saja, aku takut khilaf jika terus memandang wajah Deva," gumam Keano.
Pemuda yang terlihat nyaris sempurna itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, sepertinya setan terus menerus mengusiknya sehingga dia menjadi tidak konsentrasi dalam bekerja. Keano pun memutuskan untuk ikut tidur di samping Devanya.
Hujan yang lebat, suara petir yang menggelegar ditambah udara dingin yang menusuk kulit. Membuat Devanya tanpa sadar memeluk erat tubuh Keano. Pemuda tampan itu untuk beberapa saat sempat terkaget mendapat pelukan dari tunangannya. Dia yang belum bisa memejamkan mata dengan tangan sebagai bantalnya, langsung melongokkan kepala melihat ke arah Devanya yang tertidur pulas.
Mungkin dia kira aku guling, makanya pake peluk segala, batin Keano.
Keano pun membalas memeluk Devanya dan mengecup pucuk kepala gadis itu. Sebelum akhirnya dia ikut terlelap menyusul Devanya ke dunia mimpi. Kini keduanya tidur dengan berpelukan mencari sebuah kehangatan di tengah hujan deras yang mengguyur kota itu.
Saat pagi menjelang, suara burung berkicau riang. Mentari pun sudah menampakkan sinarnya di ufuk timur. Perlahan Devanya membuka mata. Untuk sesaat dia merasa kaget saat menyadari dirinya sedang memeluk seorang lelaki yang berbadan atletis. Perlahan dia menarik tangannya dan melepaskan tangan kekar Keano yang masih memeluknya. Dia berniat menuju ke kamar mandi.
Namun, tunangannya itu langsung menariknya kembali sehingga Devanya menimpa tubuh Keano dan sukses membuat pemuda itu meringis saat benda pusaka-nya yang mulai menegang tertimpa oleh tunangannya.
"Bang, kenapa?" tanya Devanya khawatir saat melihat Keano kesakitan.
"Tidak apa! Abang duluan ke kamar mandi ya!" Keano langsung bangun setelah Devanya bangun dari tubuhnya. Dia mencium pipi Devanya sekilas sebelum akhirnya berlari menuju ke kamar mandi.
Sakit, Ay! keluh Keano dalam hati.
Sementara Devanya langsung merona dengan memegang pipinya yang dicium oleh Keano. Dia tidak menyangka Keano akan berani mencium pipinya. Seulas senyum terbit dari bibirnya yang tipis.
Ya ampun Bang Ano! Bikin orang klepek-klepek. Coba Diandra tahu, dia pasti iri.
Devanya pun beranjak dari tempat tidur menuju ke balkon. Dia menghirup udara pagi pegunungan dalam-dalam dengan mata yang memandang jauh ke depan. Sampai akhirnya ada sebuah tangan yang melingkar di perut ratanya.
"Bang ...," lirih Devanya.
"Sebentar, Ay!" Keano menyimpan dagunya di pundak Devanya. Dia ingin mempraktekkan adegan yang ada di film Titanic yang pernah ditontonnya.
"Bang, kenapa selalu memanggil aku Ay? Namaku 'kan Devanya."
"Karena kamu kesayangannya Abang," jawab Keano seraya melepaskan pelukannya. "Mandi dulu ya! Abang mau nelpon Hayden lagi agar jemput kita di sini."
__ADS_1
Devanya langsung menuju ke kamar mandi, sedangkan Keano langsung menelpon Hayden seperti yang dia katakan pada Devanya. Setelah gadis bermata biru itu selesai mandi, ternyata helikopter sudah menunggu dia atas hotel yang mereka tempati.
"Ay, gak usah dandan ya! Heli udah nunggu kita di atas," ucap Keano saat melihat Devanya sudah berpakaian rapi.
"Baiklah, lagipula aku tidak suka dandan menor."
"Kita langsung ke kantor Abang saja ya! Biar kamu bisa ganti baju dulu setibanya di sana."
Tanpa menjawab, Devanya hanya mengikuti laki-laki yang berstatus tunangannya itu menuju ke atas hotel tempat di mana helikopter sudah menunggu mereka. Mereka disambut senyum cerah Hayden yang sudah berdiri di depan Helikopter.
"Bagaimana malam kalian, apa menyenangkan?" tanya Hayden menggoda Keano.
"Kenapa baru jemput sekarang, Bang? Memang Semalam hujan gak reda ya?" Bukannya menjawab, Devanya malah balik bertanya.
"Semalam sebenarnya ...." Hayden langsung mengurungkan niatnya untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi ketika melihat mata Keano yang tiba-tiba melebar padanya.
"Semalam kenapa? Apa cuacanya tidak mendukung?" tanya Devanya.
"Iya, seperti yang Nona katakan." Hayden pun mendadak bicara formal karena dia takut Keano marah padanya jika dia berterus terang pada calon istri sahabatnya.
Setelah assisten-nya itu menyuruh salah satu pengawal pribadi Keano untuk membawa pulang mobil bosnya, dia pun segera mengikuti Keano masuk ke dalam helikopter. Mereka langsung menuju ke gedung bertingkat milik JS Group karena dalam waktu satu jam yang akan datang, Keano ada meeting dengan klien dari luar negeri.
Setibanya di gedung JS Group, Hayden langsung menuju ke kantornya. Sementara Devanya diajak untuk mengikuti Keano masuk ke dalam penthouse.
"Bang, aku mau pulang! Papa dan mama pasti cemas karena aku tidak pulang semalaman," ucap Devanya.
"Sebentar, Ay! Abang mau ambil sesuatu dulu. Nanti pulang sama supir gak apa-apa kan?"
"Mobil aku kan ada di sini. Aku pulang sendiri saja," ucap Devanya.
Gadis cantik itu duduk di sofa ruang tamu. Dia menunggu Keano yang sedang berganti baju di kamarnya. Untuk menghilangkan kejenuhannya, dia pun berselancar di dunia maya. Namun matanya langsung melotot saat melihat postingan temannya di grup medsos miliknya, yang mengatakan kalau dia menjadi simpanan pengusaha sukses negeri ini.
"Gak ada kerjaan banget sih, gosipkan orang yang enggak-enggak. Sepertinya aku harus mengundang semua teman sekolah agar mereka tahu kalau yang menjadikan aku simpanan itu calon suamiku sendiri. Lagipula aku dan Bang Ano gak ngapa-ngapain. Kita hanya tidur sambil ...." Devanya langsung teringat saat kejadian tadi pagi.
"Aku dan Bang Ano kan emang gak ngapa-ngapain kita hanya ...."
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu kecewa karena Abang tidak melakukan hal seperti kebanyakan pria jika satu kamar di hotel dengan seorang gadis?" tanya Keano dengan memotong ucapan Devanya.
"Bukan begitu, Bang! Aku hanya heran, kenapa mereka bikin gosip yang gak jelas tentang aku?" Devanya mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Sini Abang lihat!" Keano langsung mengambil ponsel Devanya dan melihat gosip yang dikatakan oleh tunangannya itu. Dia pun langsung mengotak-atik ponsel Devanya sampai gosip itu hilang karena dia mem-banned grup medsos dan si penyebar gosip.
"Nih, mereka gak akan bisa gosipkan kamu lagi. Kalau ada apa-apa bilang saja sama Abang, jangan disimpan sendiri!"
"Apa Abang bisa meng-akses cctv saat kejadian beberapa bulan yang lalu?" tanya Devanya hati-hati.
"Bisa, memang kenapa?"
"Aku ingin melihat melihat rekaman cctv saat tanggal 30 September di jalan xxx sekitar jam sepuluh malam."
"Apa soal kecelakaan itu?" tebak Keano.
"Abang tahu?"
"Tentu saja Abang tahu karena Ion meminjam komputer Abang untuk melacak kejadian itu."
"Apa?! Ion?!"
"Iya, tapi Abang tidak tahu dia melacak apa, karena waktu itu Abang sedang sibuk jadi tidak memperhatikan apa yang dia cari," jelas Keano.
Pantas saja Ion bisa punya rekaman kejadian itu, ternyata dia minta tolong Bang Ano. Apa aku bisa minta Bang Ano untuk menghapus semua rekaman itu? Aku takut ada orang lain yang menyebarkannya dan menuduh aku yang tidak-tidak.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu up, yuk kepoin karya teman Author yang keren ini
__ADS_1