
Malam ini langit begitu indah dengan gemerlap cahaya bintang yang bertaburan. Ditambah dengan rembulan yang bersinar terang. Saat ini Dave dan Sevia sedang berada di kawasan The Bund, setelah tadi dia terlebih dahulu menitipkan baby cantiknya pada Tante Icha dan Bi Lina agar menjaganya.
The Bund adalah salah satu kawasan tertua dan teramai di Shanghai. Para penguasa asing di Shanghai, yaitu Inggris, Prancis, dan Rusia membangun The Bund untuk menjadi pusat perkantoran. The Bund Shanghai sangat berkembang sejak abad ke-18. Karena itu arsitektur bangunan lama di sana banyak yang bergaya klasik & bercorak arsitektur Eropa seperti art deco. Sebuah Gaya arsitektur yang terkenal dengan klasik, glamor, konsumerisme dan kemewahannya.
Tiada waktu terbaik untuk menikmati indahnya langit Shanghai selain ketika saat-saat matahari terbit dan terbenam. Warna biru dan jingga terpantul akan dengan indahnya di sungai Huangpu memberikan kesan hangat dan menjadi latar belakang yang indah untuk berfoto. Akan tetapi, tak ada yang mampu menolak tawaran menikmati megahnya kota Shanghai di The Bund pada malam hari. Momen ketika langit mulai gelap dan lampu-lampu gedung mulai menyala akan menjadi malam paling romantis. Dengan segelas kopi atau satu cup ice cream bersama orang terkasih, menikmati malam di The Bund takkan pernah terlupakan.
Dave sengaja membawa Sevia jalan-jalan ke kawasan The Bund pada malam hari, karena dia ingin menikmati keindahan dari Sungai Huangpu dan juga gedung-gedung tinggi di sekitar kawasan itu. Dia juga ingin menikmati kilauan dari lampu-lampu indah yang dipancarkan gedung-gedung tinggi.
Sevia yang begitu sumringah diajak ke sana, tak hentinya dia mengabadikan momen liburan dengan latar belakang pemandangan bangunan yang megah. Berbagai pose dia ambil bersama dengan Dave ataupun sendiri. Untuk sejenak, di lupa kalau di rumah putrinya sedang menungggu.
"Dave, kamu kho tahu tempat seindah ini?" tanya Sevia saat keduanya lelah berfoto dan memutuskan untuk menikmati pemandangan dengan duduk di pinggir sungai.
"Tentu saja aku tahu! Via, coba sini tanganmu!" Dave pun segera mengambil tangan Sevia dan laangsung memakaikan gelang yang dia ambil dari balik mantelnya.
"Dave, gelangnya cantik sekali!" Sevia mengacungkan tangan kirinya untuk melihat gelang yang baru saja Dave pakaikan padanya.
"Jangan dilepas ya! Aku sudah menyimpan alat pelacak di gelang itu, agar kejadian seperti kemarin tidak pernah terjadi lagi. Via, ayo kita saling berjanji untuk terus bersama-sama dan tidak akan pernah meninggalkanku." Dave mengacungkan jari kelingkingnya agar Sevia menautkan jari kelingking dia.
"Aku berjanji akan selalu setia padamu, Dave. Mari kita buat keluarga kecil kita menjadi keluarga yang bahagia. Kita buat masa kecil anak-anak kita bahagia." Sevia pun menautkan jari kelingkingnya pada Dave.
Ada sedikit sesak di hatinya saat Sevia teringat dengan masa kecilnya. Saat anak-anak lain masih disayang dimanja oleh orang tuanya, dia justru tidak pernah merasakannya. Perpisahan kedua orang tuanya di saat dia masih balita, membuat Sevia samar-samar mengingat sosok ibunya sendiri. Dia hanya tahu nama dan fotonya saja yang selalu dia bawa ke manapun dia pergi.
__ADS_1
Dave merengkuh tubuh istrinya dan membawa ke dalam pelukannya. Dia mencoba memberi kehangatan pada Sevia. Meskipun sebenarnya dia juga merasakan perasaan yang tidak jauh beda dengan Sevia. Rasa sesak di dada setiap kali mengingat kedua orang tuanya yang sudah pergi untuk selama-lamanya.
Merasa hari sudah larut, Sevia pun mengajak Dave untuk pulang. Dia teringat pada putrinya jika harus meninggalkannya terlalu lama. Namun saat sampai di mansion, ternyata Devanya sudah tertidu pulas dengan Icha yang menjaganya di kamar Dave.
"Tante maaf, jadi ngerepotin." Sevia menjadi tidak enak hati saat melihat Icha tertidur bersama dengan Devanya.
"Nggak apa, Via! Tante malah senang menjaga cucu yang seperti barbie ini. Seandainya dia sudah besar, Tante tidak keberatan jika dia berjodoh dengan Keano." Icha terus memandang wajah damai Devanye yang tertidur pulas. "Kalau begitu, Tante ke kamar dulu ya, mau lanjut tidur lagi."
"Iya Tan," jawab Sevia.
Setelah kepergian Icha, Sevia pun langsung membersihkan diri. Dia memastikan tubuhnya bersih dari debu saat akan tertidur bersama dengan putrinya. Begitupun dengan Dave yang langsung bergabung dengan Sevia saat tahu istrinya pergi mandi. Pasangan suami istri benar-benar mandi untuk kali ini. Tidak ada acara mandi plus-plus karena hari sudah malam .
Namun, saat keduanya sudah selesai mandi, Dave tidak membiarkan Sevia untuk memakai bajunya. Papa muda itu begitu bersemangat menikmati candunya. Sevia yang tidak bisa menolak setiap sentuhan tangan nakal suaminya, akhirnya ikut menikmati permainan Dave yang selalu membuatnya terbang melayang. Sampai akhirnya suara lenguhan panjang mengakhiri pelepasan Dave.
Keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Tinggal Dave dan Sevia yang belum turun dan masih berada di dalam kamar. Saat pasangan muda itu turun, semua mata memandang ke arahnya, membuat Sevia menjadi kikuk.
"Maaf, kami terlambat!" Sevia menundukkan kepalanya malu menjadi pusat perhatian.
"Tidak apa, Via! Ayo duduk, kita masih menunggu Elvano dan Arabella yang belum turun," suruh Mitha dengan tersenyum manis.
Sevia dan Dave pun langsung mengambil tempat duduk di dekat Zee dan Malvin. Tidak lama kemudian Elvano datang bersama istrinya. Namun, kedatangan mereka sepertinya membuat yang ada di meja makan tersenyum mesem.
__ADS_1
"Bang El, apa di kamarmu banyak nyamuk?" tanya Allana menyindir kembarannya.
"Tidak! Memangnya kenapa?" Elvano balik bertanya.
"Oh, lain kali bikin tandanya jangan di tempat yang terbuka," sindir Allana.
Sevia dan Arabella langsung merona karena merasa tersindir dengan apa yang Allana katakan, sehingga Sevia pun langsung bertanya pada suaminya.
"Dave, memang kamu bikin tanda merah di leherku?" bisik Sevia.
"Coba aku lihat! Nggak ada kho," sahut Dave lalu memeriksa leher Sevia.
"Ya ampun, Dave. Kamu juga sudah bikin tanda merah? Padahal maksud aku bukan sama kamu." Allana terkekeh dengan apa yang dilakukan oleh Dave dan istrinya. Sementara orang yang dituju terlihat cuek bebek.
"Sudah, Lana! Ayo kita sarapan, setelah ini Papa mau ke rumah sakit dan bertemu klien penting." Andrea langsung menengahi percakapan anak-anaknya.
Suasana hening menghiasi acara sarapan. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sampai acara makan selesai, barulah Allana kembali berbicara.
"Aku mau mengajak anak-anak ke Disneyland. Apa Sevia dan Zee mau ikut?" tanya Allana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...