
Sepertinya Sevia sudah salah langkah dengan menjanjikan Dave untuk membayar sarapan pagi yang tertunda. Dia dibuat kewalahan dengan gairah brondong tampannya itu. Sampai-sampai dia menjadi kram karena Dave terlalu bersemangat menggempur sang istri.
"Dave perutku sakit," keluh Sevia saat mereka sudah selesai mencapai puncak kenikmatan untuk yang ke sekian kalinya.
Sevia merasa ada cairan yang merembes dari bagian intinya, dia pun memegang sedikit cairan itu. Dia pun melihatnya karena penasaran, Sevia sangat terkejut melihat darah di tangannya. Tak ingin Dave tahu, Sevia segera menyembunyikan nya
"Apa? Sakit perut? Apa aku terlalu keras Via? Bagaimana ini? Bagaimana jika melukai anak kita? Apa yang harus kita lakukan?" Dave langsung panik saat Sevia mengeluh sakit perut. Dia bangun dari tubuh Sevia dan berjalan mondar-mandir tidak karuan.
"Dave bersihkan badanmu dulu! Jangan mondar-mandir di depanku tanpa sehelai benang pun! Kasian belalainya bergelantungan." Sevia menahan tawa seraya menahan sakit di perutnya melihat kepanikan suami brondongnya.
"Untung kamu mengingatkan aku. Tadinya aku mau ke luar menemui Harry agar menyiapkan mobil." Dave langsung menuju ke kamar mandi setelah dia selesai bicara pada istrinya.
Sementara Dave membersihkan diri, Sevia beringsut untuk mengambil baju di lemari. Namun, gerakannya tertahan saat Dave kembali dan langsung membopong dirinya ke kamar mandi. Dengan telaten Dave membersihkan Sevia dari sisa-sisa percintaannya. Begitupun dengannya, sehingga dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit mereka sudah bersih dan langsung bersiap menuju ke rumah sakit.
Dave tidak membiarkan istrinya berjalan, dari selesai mandi, berpakaian dan turun ke lantai bawah, dia menggendong Sevia dengan gaya bridal style.
"Sayang, maafkan aku! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Dave saat melihat Sevia meringis kesakitan.
"Iya, sudahlah! Semua salah kita berdua yang terlalu terhanyut dalam suasana. Aku tidak menyalahkan kamu, Dave." sahut Sevia. Dia tidak tega melihat wajah bersalah suaminya.
Saat sampai di bawah, Harry yang sedang duduk berdua dengan Rani sangat terkejut melihat Dave menggendong Sevia malam-malam. Bukankah tadi sahabatnya itu minta ijin untuk tidur lebih cepat.
"Dave, Sevia kenapa?" tanya Harry.
"Harry, cepat siapkan mobil! Kita langsung ke rumah sakit. Sevia kram perut," suruh Dave.
Harry pun langsung menyambar kunci mobil yang baru saja dia simpan di atas meja karena memang Harry dan Rani baru pulang dari minimarket.
"Rani, titip Deva," lirih Sevia.
"Iya, Via. Kamu cepat sehat lagi ya! Mungkin besok aku yang akan menjaga kamu di sana. Kalau malam Diandra suka ingin mimi langsung gak mau pake dot," jelas Rani.
Setelah Harry mengeluarkan kembali mobilnya yang baru saja dia masukkan ke dalam garasi, Dave pun langsung membawa Sevia masuk ke dalam mobil. Mereka bergegas pergi menuju ke rumah sakit terdekat, meninggalkan Rani yang memandang mobil Harry sampai hilang dari pandangan matanya.
Semoga kamu baik-baik saja, Via,
Berbeda dengan Harry yang sedang dibuat kesal oleh sahabatnya. Dave terus saja menyuruh Harry untuk mempercepat laju mobilnya. Padahal jarak dari rumah ke rumah sakit tidak memakan waktu lama.
"Harry cepetan ngebut! Lihat Sevia kesakitan," suruh Dave
Belum juga Harry sempat menjawab, Dave sudah bicara terlebih dahulu." Harry ayo percepat mobilnya, aku tidak mau anak aku kenapa-napa."
__ADS_1
" Harry nanti tolong kamu urus administrasinya."
"Harry, kenapa kamu bawa mobil kaya keonq gini?"
"Cukup, Dave!!! Kamu membuat aku tidak bisa konsentrasi nyetir. Kamu lihat, rumah sakitnya ada diseberang sana. Kita tinggal putar balik, langsung sampai," sentak Harry yang sudah tidak bisa menahan lagi kekesalannya pada Dave yang berubah cerewet seperti ibu kost yang melihat anak kost-nya tidak mau bersih-bersih.
"Iya, kamu benar. Via, sabar ya. Sebentar lagi kita sampai," ucap Dave dengan mengelus perut istrinya.
Sevia hanya tersenyum samar, meskipun dia berusaha menahan rasa sakitnya. Tetap saja dia tidak bisa menahannya.
Harry langsung menghentikan mobilnya di depan IGD. Dia pun segera memanggil perawat untuk menyiapkan brangkar. Sementara Dave langsung membawa Sevia keluar dari mobil.
Sevia pun langsung dibawa ke ruang IGD dengan brangkar. Dia langsung mendapatkan tindakan dari dokter jaga. Sementara Dave dan Harry meninggalkan di depan ruangan.
"Dave, memang tadinya kenapa? Kho bisa kram begitu?" tanya Harry.
Dave tidak langsung menjawab pertanyaan Harry. Dia melihat wajah sahabatnya sebelum akhirnya dia bicara. "Sebenarnya, kita baru selesai bercinta. Aku tidak menyangka, Sevia akan kesakitan."
"Astaga, Dave! Kamu jangan terlalu liar pada ibu hamil itu bisa saja membuat istri kamu keguguran," ujar Harry.
"Apa katamu, keguguran? Kenapa kamu mendoakan jelek pada istriku? Memang Sevia salah apa sama kamu?" tuduh Dave.
"Sudahlah! Hari ini kenapa kamu mendadak menyebalkan?"
Ya ampun, Dave. Sevia sakit kenapa kamu jadi hilang kewarasan seperti ini? Apa begitu berarti Sevia buatmu, tanya Harry dalam hati.
Harry yang awalnya merasa sangat kesal dengan apa yang sahabatnya katakan, kini dia mengerti kalau itu sangat berarti untuk hidup orang lain.
Tidak berapa lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD. Dokter itu pun memanggil keluarga pasien.
"Dengan keluarga Ibu Sevia,"
"Iya, dok. Saya sendiri." Dave langsung menuju ke arah Dokter yang baru keluar dari ruang IGD.
"Mari kita bicara di ruangan saya!" Dokter itu pun berlalu menuju ke ruangannya.
Dave hanya saling berpandangan dengan Harry, lalu kedua sahabat yang baru saja berdebat itu mengikuti langkah dokter. Mereka seolah lupa kalau tadi habis beradu mulut, buktinya kini keduanya malah mengobrol seperti biasanya.
"Harry, kira-kira Via kenapa ya? Aku kho serem lihat raut wajah dokter itu," tanya Dave saat mereka berjalan ke ruangan dokter yang menangani Sevia.
"Aku gak tahu, Dave. Tapi dokter yang tadi sepertinya galak. Meskipun dia cantik tapi auranya tadi, seperti aura membunuh," ucap Harry.
__ADS_1
"Kamu jangan menakuti aku, Harry! Aku khawatir dengan keadaan Sevia," sentak Dave.
"Sudahlah, ayo kita berdoa agar Sevia baik-baik saja."
Saat sudah sampai di ruangan dokter, Dave pun langsung mengetuk pintu dan segera masuk setelah dipersilakan.
"Permisi, Dok!" ujar Dave.
"Silakan duduk!" ucap Dokter itu datar.
"Terima kasih."
Dave dan Harry menjadi tegang saat dokter yang sedang duduk di depannya menatap mereka dengan lekat secara bergantian. Sampai akhirnya Dave bertanya untuk mengurai kecanggungan.
"Bagaimana istri saya, Dok?" tanya Dave.
Bukannya menjawab, dokter itu malah balik bertanya. "Apa kalian berdua sudah menggilir ibu hamil itu? Sampai dia kram perut dan keluar darah?"
"Maksud dokter?" tanya Dave yang bingung dengan pertanyaan dokter itu.
"Anda tahu, akibat Ibu Sevia berhubungan badan terlalu agresif dengan pasangannya, dia hampir saja kehilangan janinnya. Dia kram perut dan mengeluarkan darah. Sebaiknya, jika memang suami Ibu Sevia sayang dengan anak dan istrinya, dia bisa bersikap lebih lembut saat berhubungan badan. Bukan malah menyakitinya seperti sekarang," jelas dokter yang tertulis nama dr.Tri Wahyu, Sp.OG.
"Apa? Kehilangan janin?" pekik Dave kaget.
Lagi benar-benar dia merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Dave sangat menyesal karena terlalu menuruti hawa napsunya sehingga dia lupa kalau istrinya sedang hamil muda.
"Iya, tapi beruntung Bu Sevia tidak terlambat dibawa ke sini sehingga kami diberi kesempatan untuk menyelamatkan janin itu," ucap Dokter Tri.
"Terima kasih," lirih Dave yang nampak syok mendengar apa yang dokter itu katakan.
Sungguh dia akan merasa sangat bersalah jika janinnya tidak bisa tertolong. Dave pun tak henti mengucapkan syukur dalam hatinya karena masih diberi kesempatan untuk memiliki anak kembar.
"Saran saya, sebaiknya Anda kurangi kegiatan malam itu sampai usia kandungan Bu Sevia menginjak bulan ke empat karena biasanya kalau usia janin sudah empat bulan, dia akan lebih kuat saat mendapatkan goncangan."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Biar othor tambah semangat update....
Sambil nunggu Dave dan Sevia, Yuk cek ke karya Author keren yang satu ini.
__ADS_1