
Seperti yang sudah dikatakan Harry pada Dave, dia pun berangkat ke kampung untuk menjemput Rani. Dave sengaja tidak memberithukannya pada Sevia tentang pernikahan Harry dengan Rani. Dia ingin istrinya tahu dari sahabatnya sendiri.
Rani yang sudah tahu akan dijemput Harry akhir pekan ini, dia pun sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk kebutuhan bayinya. Bayi kecil yang dia beri nama Diandra itu, tumbuh dengan baik dan sehat meskipun dia terlahir prematur.
"Assalamu'alaikum," ucap Harry saat baru sampai d rumah Rani.
"Wa'alaikumsalam, ayo masuk!" ajak Rani.
Harry tidak langsung masuk, dia masih berdiri di depan pintu dengan tangan yang menggantung di udara. Harry pikir, Rani akan seperti Sevia yang selalu mencium punggung tangan Dave saat baru datang dan akan berangkat kerja. Namun, ternyata pikirannya tidak sesuai dengan kenyataan. Menyadari Harry yang tidak mengikutinya, Rani pun berbalik dan meraih tangan Harry lalu menciumnya.
Kenapa aku merasa sangat senang sekali saat Rani mencium punggung tanganku?
"Maaf, aku lupa kalau sekarang kamu suamiku." Rani cengengesan mengingat kebodohannya.
"Tidak apa! Aku mengerti," ucap Harry dengan membalas senyuman Rani. Lalu dia pun mengekor Rani dari belakang.
"Ibu dan Bapak kemana? Perasaan sepi sekali," tanya Harry.
"Ibu dan bapak sedang ke pasar, katanya ingin membeli sesuatu." Rani langsung berlalu menuju ke dapur, sedangkan Harry duduk di kursi.
Namun, saat Harry baru saja mendudukkan bokongnya, terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar Rani. Dia pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama kemudian, Rani datang dan menghampiri Harry yang sedang mengganti popok bayi karena basah.
"Dede Diandra ngompol ya! Wah jadi ngerepotin Daddy nih," ucap Rani yang ikut menunduk di belakang Harrya, sehingga saat Harry memalingkan mukanya untuk melihat ke arah asal suara, Tanpa sengaja bibirnya dan bibir Rani menempel satu sama lain. Membuat dua insan itu mematung merasakan desiran aneh di hatinya. Sampai terdengar suara dari luar kamar, mereka pun langsung saling menjauh.
__ADS_1
"Maaf, Rani. Aku tidak sengaja," ucap Harry gugup.
"Iya, gak apa-apa!" sahut Rani dengan pipi yang sudah seperti kepiting rebus.
"Rani, suami kamu sudah datang?" teriak Bu Asti di ruang tamu. Dia melihat mobil Harry tapi tidak melihat orangnya. Ingin melihat ke dalam kamar Rani tapi merasa tidak enak hati pada menantunya.
"Pak sepertinya kita tidak perlu memberi ramuan ini," bisik Bu Asti.
"Harus Bu! Mereka masih malu-malu, kalau kita beri ramuan ini pasti malunya hilang karena mereka akan ketagihan nantinya," bisik Pak Iwan dengan terkekeh.
Saat kedua suami istri itu saling berbisik, Harry keluar dari kamar dengan Rani yang menggendong putrinya. Harry pun langsung bersalaman pada mertuanya dan berbasa-basi menanyakan kabar mereka.
"Ibu, Bapak apa kabar?" tanya Harry.
"Alhamdulillah baik," ucap Pak Iwan dan Bu Asti kompak.
"Rani, nanti kita tinggal bersama Dave dan Sevia. Mungkin sampai rumah barunya siap untuk kita tempati, karena kita akan tinggal di Cikarang. Om Andrea menyuruh aku dan Dave memegang pabrik Cikarang," tutur Harry.
"Harry, aku belum menceritakan tentang pernikahan kita pada Sevia. Aku bingung harus bercerita dari mana dulu. Apalagi, kamu masih suami orang. Aku tidak mau dikira merebut kamu," ucap Rani dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu tenang saja! Sevia pasti mengerti kho! Lagipula perceraian aku dengan Nadine sudah beres." Harry terpaku saat matanya dengan mata Rani saling bertabrakan.
Seperti ada magnet yang menariknya, Harry pun langsung mendekat ke arah Rani. Tak berbeda jauh dengan Harry, Rani pun merasakan hal yang sama, sehingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Rani langsung memejamkan matanya saat Harry mulai mencondongkan wajahnya. Hingga sapuan lembut Rani rasakan di bibirnya. Merasa tidak ada penolakan dari wanita yang berstatus istri sirinya, Harry pun langsung memperdalam ciumannya. Hingga dua insan itu kini sedang bergelut lidah dan bertukar saliva.
__ADS_1
Awalnya hanya saling berpagutan, kini keduanya sudah dalam keadaan polos. Entah apa yang membuat dua anak manusia itu merasakan gairahnya yang semakin bergelora. Hingga akhirnya Harry mampu menembus benteng pertahanan Rani. Meskipun awalnya terasa sakit karena efek setelah melahirkan. Namun, akhirnya Rani pun menikmati permainan Harry. Sampai pria kesepian itu melakukan pelepasan berkali-kali.
"Rani terima kasih! Kamu membuatku menjadi ketagihan," ucap Harry sebelum akhirnya dia tertidur dengan memeluk Rani.
Sementara di luar kamar, Pak Iwan dan Bu Asti tersenyum senang. Karena ternyata ramuan yang berbentuk teh itu berhasil membuat anak dan menantunya memadu kasih. Kedua orang tua itu khawatir, jika pernikahan kedua Rani akan berakhir perceraian karena tidak ada cinta di antara keduanya. Sehingga mereka pun mencari cara agar Rani dan Harry bisa saling terikat satu sama lain.
"Alhamdulillah ya Bu, usaha kita berhasil," ucap Pak Iwan dengan ber-tos ria dengan istrinya.
"Iya, Pak Alhamdulillah. Semoga pernikahan mereka awet ya! Ibu tidak mau kalau sampai Rani harus menjadi janda karena bercerai," sahut Bu Asti.
"Iya benar, bapak juga tidak mau harus kejadian seperti itu. Sekarang ayo kita rayakan keberhasilan kita, Bu! Bapak juga jadi ingin seperti anak menantu yang kuat beberapa ronde," ucap Pak Iwan dengan terkekeh.
"Halah Bapak ini, jangankan beronde-ronde, baru satu ronde saja sudah ngos-ngosan. Belum lagi ngeluh encok." Bu Asti mencebikkan bibirnya kemudian berlalu menuju ke kamarnya.
Pak Iwan yang merasa diberi kode oleh istrinya, langsung mengikuti wanita yang dia cintai itu ke kamar. Tanpa bicara lagi, pas Iwan langsung mengunci pintu dan menyerang istrinya. Dia lupa kalau cucunya ada di kamar mereka. Hingga saat dia ingin menancapkan senjata keramatnya, terdengar suara tangisan dari bayi kecil itu. Dengan terpaksa, Pak Iwan menghentikan aksinya.
"Kenapa sampai lupa kalau Diandra ada di sini? Bisa gagal nih," keluh Pak Iwan terkulai lemas. Apalagi saat melihat benda keramatnya sudah tidak tegak seperti tadi membuat Pak Iwan hanya menghembuskan napasnya kasar.
"Sabar Pak! Kita bisa melanjutkannya setelah Diandra ganti popok dan diberi minum. Bukannya ide Bapak untuk membawa bayi ini tidur di kamar kita. Sekarang malah ngeluh, harusnya Bapak pikirkan matang-matang resikonya," ucap Bu Asti panjang lebar.
"Iya Bapak lupa kalau cucu kita suka bangun saat ingin mimi dan popoknya basah. Tapi gak apalah, yang penting usaha kita berhasil."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...