
Hari ini mentari bersinar cerah, nampak seorang gadis yang masih terlelap di ranjang king size nya dengan boneka dolphin putih di pelukannya. Entah kebetulan atau sengaja, Devanya memang sangat menyukai boneka itu, yang dia dapatkan sebagai kado ulang tahunnya yang ke tujuh.
Namun sampai sekarang dia belum mengetahui siapa pemberi boneka itu. Boneka yang berukuran besar, jika tombolnya di tekan maka akan bicara 'Hai cantik'. Devanya sering sekali mengajak bonekanya itu bicara meskipun dia tahu jawabannya pasti sama.
Namun ketenangannya terganggu saat terdengar ponselnya berbunyi dengan alunan lagu lawas yang melegenda. Devanya terus mencari-cari keberadaan benda pipih canggih miliknya itu. Hingga dia menemukannya di bawah tempat tidurnya, barulah dia menggeser tombol hijau tanpa melihat dengan jelas siapa yang sudah menghubunginya.
"Hallo, ada apa?" tanya Devanya dengan mata yang masih mengantuk.
Tidak ada jawaban di seberang sana sehingga gadis bermata biru itu menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang sudah menghubunginya di saat dia masih tidur. Nampak di sana Keano sedang tersenyum padanya dengan begitu manis. Sepertinya, tunangannya itu sedari tadi menahan senyum saat melihatnya yang belum sadar betul dari tidurnya.
"Kyaaa ... Bang Ano!" jerit Devanya kaget dan hampir melemparkan ponselnya.
"Siang sayang!" sapa Keano dia seberang sana.
"Apa? Siang?!" pekik Devanya kaget.
"Iya, sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit," ucap Keano masih dengan menahan senyumnya.
"Yang benar, Bang? Baru juga aku tidur setelah tadi sarapan pagi," tanya Devanya.
"Anak gadis jam segini baru bangun?" Lagi-lagi Keano menahan tawanya yang ingin pecah.
Sungguh Keano merasa gemas dengan apa yg dilakukan oleh Devanya. Seandainya gadis itu ada di depannya, ingin sekali dia menjawil hidung mancungnya. Ah ... Keano semakin tidak sabar ingin segera menghalalkan gadisnya yang menurutnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Abang, aku tutup dulu, aku mau mandi!" Devanya cemberut karena melihat Keano yang menahan tawanya.
"Sebentar! Ke kantor Abang ya! Kita makan siang bareng, Abang tunggu!"
"Iya! Aku tutup sekarang, bye ...."
Klik
Devanya langsung menutup ponselnya, kemudian dia berlari menuju ke kamar mandi. Sampai di sana, gadis itu langsung melihat pantulan wajahnya dari cermin yang terpampang di atas wastafel. Dia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Memalukan! Bang Ano melihat muka bantal ku. Pantas saja dia menahan tawa terus," gumam Devanya.
"Lagian salah siapa coba? Kenapa dia semalam pulangnya larut, udah gitu bikin orang baper lagi," lanjutnya.
Saat Keano akan pulang setelah mereka pesta martabak, tiba-tiba pemuda tampan itu berbalik menghadap Devanya. Namun Devanya yang tidak menyadari kalau Keano sudah menghadapnya, dia pun menabrak pemuda itu begitu saja. Keano pun dengan sigap menangkap tubuh Devanya yang oleng sampai tidak ada jarajk di antara keduanya.
"Hati-hati, kenapa melamun?" tanya Keano dengan wajahnya yang menunduk melihat wajah Devanya yang berada di bawah wajahnya.
Deg deg deg
Jantung Devanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tidak jauh beda dengan Keano yang memang hanya dengan gadis bermata biru itu, dia bisa berdekatan dengan seorang gadis. Perlahan Keano menundukkan wajahnya membuat Devanya perlahan menutup matanya.
Namun apa yang terjadi, tidak sesuai dengan bayangan gadis itu. Keano menundukkan wajahnya untuk berbisik padanya. "Abang akan melakukan hal itu nanti, setelah kamu halal untuk Abang."
__ADS_1
Devanya pun membuka matanya kembali dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Malu? Jelas saja dia merasa malu. Bisa-bisanya dia berharap Keano melakukan hal yang biasa Ion lakukan padanya.
Malu-maluin, pasti Bang Ano berpikir yang tidak-tidak. Tapi kenapa aku kecewa? Padahal Bang Ano sedang menjaga kehormatan aku. Otakku sepertinya bermasalah, gerutu Devanya dalam hati.
Karena hal itu, gadis bermata biru itu tidak bisa tidur semalaman. Dia merasa malu, karena takut dikira sebagai gadis murahan. Sampai akhirnya, dia baru bisa memejamkan matanya setelah sarapan pagi.
Flashback off
Setelah puas melihat penampilannya yang acak-acakan, Devanya pun segera membersihkan dirinya. Selesai dengan ritual kamar mandinya dan berhias diri, dia pun langsung menyambar kunci mobilnya.
Dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, Devanya melajukan mobilnya membelah kota Jakarta. Hingga tidak butuh waktu lama, mobilnya sudah terparkir rapi di depan gedung pencakar langit milik JS Group.
Setelah melapor pada resepsionis, gadis itu langsung menuju ke ruangan Keano. Dia mengetuk pintu tiga kali sebelum masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan presiden direktur.
Pintu pun terbuka sendiri, nampak di sana Keano masih bergelut dengan keyboard dan monitor yang terus saja dia lihat. Seolah-olah yang lain tidak semenarik benda persegi panjang itu. Perlahan, Devanya pun menghampiri Keano.
"Bang, masih sibuk?" tanya Devanya.
"Sedikit lagi, duduklah dulu!" suruh Keano.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....