
Sepulangnya dari kantor, Dave langsung mencari Sevia. Ingin sekali dia memeluk tubuh yang terlelap dia atas tempat tidur. Namun, keinginannya itu dia simpan rapat-rapat di hatinya. Dia tidak ingin melihat istrinya terus muntah karena berdekatan dengannya.
"Sebaiknya aku mandi dulu sebelum bicara dengannya," gumam Dave.
Dave pun segera beranjak pergi menuju ke kamar mandi. Dia langsung mengisi bathtub dan memberinya sabun serta aroma terapi yang menenangkan. Setelah busanya memenuhi bathtub, Dave pun segera membuka seluruh bajunya dan masuk ke dalamnya.
Pria bermata biru menyenderkan kepalanya dengan tangan yang dia rentangkan. Perlahan matanya terpejam, terbuai oleh wangi aroma terapi yang menyeruak masuk ke hidung. Dave masih saja terus kepikiran dengan apa yang Nyonya Kirana katakan tentang mertuanya. Dia terus menduga-duga kenapa Rudi menyembunyikan Sevia dari keluarga ibunya.
"Bukankah seharusnya Pak Rudi memberitahu tentang Sevia? Bagaimana pun, Sevia harus tahu tentang keluarga ibunya," gumam Dave.
Saat Dave sedang asyik dengan lamunannya, Sevia masuk ke dalam kamar mandi karena dia ingin buang air kecil. Namun, saat tanpa sengaja matanya melihat Dave yang sepertinya sedang tertidur, dia pun langsung mendekatinya perlahan.
Sevia mencium bibir merah Dave sekilas, sehingga Dave yang sedang terpejam langsung membuka matanya. Dia kaget saat melihat istrinya sedang berjongkok di depannya.
Grep
Dave langsung menarik Sevia dan membawanya masuk ke dalam bathtub. Tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada, Dave pun langsung memperdalam pagutannya. Tangannya dengan lincah membuka baju Sevia satu persatu, sehingga ibu hamil itu hanya bisa melenguh saat tangan Dave memainkan bukit kembar yang mulai mengencang.
"Dave, ah ...."
"Via, aku menginginkannya," bisik Dave dengan napas yang memburu.
Setelah mendapat persetujuan dari Sevia, Dave pun perlahan mengarahkan benda keramatnya masuk ke dalam rawa yang sudah licin oleh pelumas sehingga acara mandi itu pun menjadi mandi plus-plus yang membuat urat syarafnya sedikit menegang. Setelah keduanya sama-sama mendapatkan pelepasan, akhirnya mereka pun membilas badannya hingga bersih dengan wajah yang berseri.
Sepertinya wangi aroma terapy membuat ibu hamil itu tidak terlalu mual saat berdekatan dengan suaminya. Sehingga dia bisa memenuhi kewajibannya saat Dave menginginkan dirinya.
"Via, sekarang aku sudah bisa peluk kamu lagi kan?" tanya Dave saat keduanya sudah selesai memakai baju.
"Dave, mungkin kita harus memasang aroma terapi yang seperti tadi di kamar mandi, soalnya saat tadi di sana, aku tidak terlalu mual jika berdekatan dengan kamu," ucap Sevia.
"Baiklah, kita suruh Harry untuk membelinya. Ayo, temani aku makan! Perutku lapar sekali," ajak Dave dengan merentangkan tangannya ngi menggandeng Sevia.
"Dave, kamu duluan saja jalannya. Aku menyusul," tolak Sevia.
Dave hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi meninggalkan Sevia. Dia mengerti kenapa Sevia menyuruhnya untuk jalan duluan, sehingga Dave pun tidak mempermasalahkannya.
Saat sampai di bawah, dia segera mencari Harry untuk membelikannya aromaterapi seperti yang ada di kamar mandinya.
"Harry, tolong belikan aromaterapi untukku. Sevia tidak mual saat bersama jika mencium aroma terapi itu. Beli yang banyak, karena setiap ruangan yang ada di rumah ini akan dipasang aromaterapi dengan wangi yang sama," suruh Dave.
__ADS_1
"Aroma apa yang kamu mau?" tanya Harry.
"Sepertinya aroma bergamot yang tadi aku tuang ke bathtub," jawab Dave.
"Aroma itu memang banyak digunakan untuk mengatasi stres, depresi, gelisah hingga infeksi kulit. Selain itu, aroma bergamot dapat menyehatkan liver, meningkatkan fungsi pencernaan dan membuat perasaan lebih nyaman," jelas Harry.
"Pantas saja Sevia tidak terlalu mual saat berdekatan denganku. Cepat beli yang banyak, pokonya setiap ruangan yang biasa aku lewati bersama Sevia harus dipakai aroma itu," suruh Dave.
"Sabar, Dave. Aku makan dulu, lapar." Harry pun tidak menghiraukan tatapan kesal dari sahabatnya yang selalu ingin segera dituruti keinginannya.
Saat kedua pria saling berdebat, Sevia turun bersama dengan Devanya. Karena tadi saat dia akan turun, Sevia melihat dulu keadaan putrinya di kamar anak.
"Sini sayang sama Papa," ajak Dave pada Devanya dan segera mengambil alih putrinya dari Sevia. "Ayo kita makan, biar Deva nanti aku yang suapi."
"Tidak apa, Dave? Katanya tadi kamu lapar?" tanya Sevia.
"Iya, aku memang lapar. Aku hanya ingin kasih lihat sama si kembar kalau deket-deket sama papanya pasti disayang," ucap Dave seraya mendudukkan bokongnya di meja makan.
Sevia hanya menggelengkan kepalanya dengan apa yang Dave katakan. Dia pun langsung mengambilkan makanan untuk suaminya. Begitupun dengan Rani yang sigap mengambilkan makanan untuk Harry.
Kini kedua keluarga kecil yang memilih untuk tinggal satu rumah itu, nampak makan dengan tenang. Hanya Devanya yang sesekali berceloteh seraya disuapi oleh Dave. Mereka sengaja tidak menempati rumah baru yang diberi oleh bosnya, mengingat anak-anak yang masih kecil agar bisa bergantian menjaga di saat salah satunya sedang sibuk.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, Dave mengajak Devanya untuk menonton televisi, sedangkan Sevia dan Rani membereskan meja makan. Sementara Harry langsung pergi untuk membeli apa yang Dave perintahkan.
"Ini teh hangatnya," ucap Sevia.
"Makasih, Mommy!" sahut Dave.
Melihat Sevia yang duduk seraya matanya melihat ke arah televisi, Dave pun mulai mengajak ngobrol yang sedikit serius pada Sevia.
"Via, apa kamu pernah merasa kangen pada ibumu?" tanya Dave.
Mendengar pertanyaan Dave, Sevia pun menengokan kepalanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Memangnya kenapa? Tentu saja merasa kangen."
"Apa kamu ingin bertemu dengannya?"
"Dave, aku sudah ikhlas dengan kepergian ibu. Meskipun aku merasa kangen dan ingin bertemu dengannya, tetapi itu tidak mungkin selama aku masih hidup. Kata orang-orang ibu meninggal karena disiksa majikannya sehingga dia tidak pulang-pulang." Suara Sevia sedikit bergetar dengan apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Kalau ibumu masih hidup, apa kamu ingin bertemu dengannya?"
"Iya, aku ingin menanyakan satu hal pada ibu jika dia masih hidup."
"Via, apa kamu pernah bertemu dengan keluarga ibumu?" tanya Dave lagi.
"Tidak! Kata tetangga, ibu orang kota yang bapak nikahi kemudian dibawa tinggal di kampung. Tapi mereka tidak ada yang tahu siapa keluarga ibu karena bapak maupun ibu tidak pernah mau menceritakannya," jelas Sevia.
"Via, apa kamu ingat dengan Nyonya Kirana? Yang kita temui saat berlibur di pulau Dewata?" tanya Dave kemudian.
"Yang suaminya pengusaha timur tengah itu?" tanya Sevia.
"Iya, tadi siang dia datang ke kantor. Dia minta tolong padaku untuk mencari keponakan dia yang katanya disembunyikan oleh ayahnya," tutur Dave.
"Kenapa minta tolong sama kamu? Memangnya kamu detektif, Dave?" tanya Sevia heran.
Ya ampun, Via. Lagi ngomong serius juga malah kamu anggap candaan. Aku semakin yakin kalau yang dicari oleh Nyonya Kirana itu Sevia. Tapi, siapa orang tuanya? Apa mungkin Pak Rudi sebenarnya bukan ayahnya Sevia tapi orang yang sudah menculiknya? Sepertinya, aku harus secepatnya mempertemukan Sevia dengan Nyonya Kirana, batin Dave.
"Dave, Dave kenapa bengong? Tadi kan aku tanya kamu." Sevia melambaikan tangannya di depan wajah Dave.
"Tidak apa! Via, nanti aku akan mengundang Tuan Hamish dan Nyonya Kirana untuk makan malam sebagai perayaan kerjasama pada proyek baru," ucap Dave mengalihkan pembicaraan.
"Wah, aku harus dandan cantik. Apa Rani dan Harry juga diajak?" tanya Sevia.
"Tentu saja diajak, nanti kamu ke salon aja dulu sama Rani kalau ingin kelihatan cetar," suruh Dave.
"Siap Pak Bos! Rani pasti senang diajak ke salon," ucap Sevia dengan mata yang berbinar.
Menyadari Devanya yang ternyata tertidur di pangkuan Dave, Sevia pun segera membawa Devanya ke kamar. Sementara Dave memilih untuk ke taman belakang rumahnya dan menghisap sebatang benda bernikotin yang dia harapkan akan menenangkan pikirannya.
Pikiran Dave berkecamuk dengan semua praduga tentang siapa sebenarnya Sevia dan hubungannya dengan Nyonya Kirana. Entah kenapa dia malah berpikiran buruk tentang pria paruh baya yang sudah menjadi wali nikahnya.
"Aku harus segera menghubungi Nyonya Kirana dan membuat janji untuk makan malam bersama," gumam Dave.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
Sambil nunggu Brondong update yuk melipir dulu ke karya keren satu ini, miliknya Author Iren.