
Suasana makan siang yang diharapakan akan terkesan romantis, kini berubah menjadi makan siang yang penuh canda tawa. Orion tak hentinya mengerjai Luna dengan latahnya yang selalu menyebut perabotan rumah tangga. Tak urung, Devanya pun ikut tertawa melihat kelatahan Luna.
“Sayang, tertawanya dikondisikan. Lihat, kita jadi pusat perhatian!” tegur Keano.
“Iya, Bang. Maaf!” sahut Devanya seraya menutup mulutnya.
“Cepat habiskan makan siangnya! Kita harus secepatnya kembali ke kantor,” suruh Keano.
“Suapin ...,” pinta Devanya dengan nada manjanya
Keano tersenyum mendengar permintaan istrinya. Saat pagi dia yang ingin sekali disuapi oleh Devanya. Sekarang istri cantiknya yang meminta dia suapi. Dengan telaten, Keano pun menyuapi Devanya dengan sesekali menyuapi dirinya. Sampai makanan yang ada di piring Devanya habis.
Setelah selesai makan siang, Keano pun pamit undur diri pada Orion. Dia langsung kembali ke kantornya karena sudah ditunggu oleh klien. Begitupun dengan Orion yang memilih pergi mengikuti kakak sepupunya.
“Bang, nanti kita makan siang bersama lagi. Aku pulang dulu mau mengantar Luna. Sampai jumpa jelek di acara wisuda nanti,” ucap Orion.
Orion langsung melambaikan tangannya seraya pergi menuju ke mobilnya. Dia mulai mencair pada Luna dan tidak menampilkan muka jutek lagi. Tetapi sebagai gantinya, dia tidak henti mengerjai gadis itu. Sementara Keano dan Devanya hanya mengulas senyum pada Orion.
“Ay, memang kapan kamu wisuda?” Tanya Keano.
“Lusa, Bang. Aku lupa kasih tahu,” jawab Devanya cengengesan.
“Sudah cari kebaya?”
“Sudah aku siapkan dari sebelum kita nikah. Tapi ada di rumah mama,” jawab Devanya.
“Ya sudah, nanti pulang kantor ke rumah mama saja. Biar obat untuk Devdev Hayden yang antar,” ucap Keano.
“Gak melihat keadaan Devdev dulu, Bang?”
“Nanti, saja. Kamu lebih penting dari apapun,” ucap Keano yang sukses membuat gadis bermata biru itu langsung merona. Semakin hari, Keano semakin pintar membuat hatinya melambung tinggi.
“Abang pinter banget gombalnya.” Devanya memukul dada suaminya pelan untuk menetralkan perasaannya.
...***...
Benar saja apa yang Keano katakan. Dia lebih memilih mengambil kebaya dibandingkan dengan memberikan obat buat Devdev. Namun, meskipun bukan dia sendiri yang pergi ke sana, Keano dapat memantau lumba-lumba itu dari rekaman cctv yang sengaja dia pasang di sekitar kolam penangkaran lumba-lumba orca itu.
Setibanya di rumah orang tua Devanya, wanita muda itu langsung menuju ke kamar. Karena kedua orang tua dia sedang tidak ada di rumah. Hanya ada Devan yang sedang sibuk kuliah online di kamarnya, sehingga dia tidak berniat untuk mengganggu adiknya.
"Ay, Abang tiduran dulu ya!" ujar Keano seraya memejamkan matanya. Dia merasa lelah sehingga saat badannya menempel pada kasur dan bantal, matanya cepat terpejam.
__ADS_1
Devanya hanya tersenyum melihat suaminya yang tertidur. Dia terus mencari kebaya yang sudah dia siapkan untuk wisuda. Devanya sengaja mencari kebaya jauh-jauh hari. Agar dia bisa lebih santai saat menghadapi acara wisudanya.
"Syukurlah masih, muat. Punya Dian masih muat gak ya?" gumam Devanya.
Devanya pun berjalan menuju ke balkon dengan ponsel di tangannya. Dia mencoba untuk menghubungi Diandra. Namun, panggilan teleponnya selalu saja tidak terangkat.
"Kenapa gak diangkat? Memang Dian sedang apa sehingga tidak sempat menerima panggilan telepon dariku," gerutu Devanya.
Ibu hamil itu terus saja menggerutu dengan ponsel di tangannya. Dia merasa kesal karena sedari tadi Diandra tidak mengangkat panggilan telepon darinya. Sampai akhirnya ada panggilan masuk ke ponselnya, Devanya pun segera mengangkatnya.
"Hallo, Dian kemana saja? Kenapa tidak menerima panggilan telepon dariku?" tanya Devanya saat dia sudah menggulir tombol hijau di ponselnya.
"Tadi aku lagi masak, sedangkan ponselku sedang aku charger."
"Oh, gitu. Dian, kamu sudah siap belum? Aku Kho jadi deg-degan. Jantung ku terus saja berdebar lebih kencang dari biasanya. Aku gak ngerti kenapa aku nervous sekali."
"Mungkin kamu mau jadi lulusan terbaik tahun ini," ucap Diandra sekenanya.
"Mending kalau gitu, kalau malah terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana?"
"Deva, ucapan adalah do'a. Kenapa kamu malah berharap hal yang gak baik, padahal aku berharap hal baik padamu." Diandra langsung menegur sahabat sekaligus iparnya itu.
"Iya, iya adik ipar. Gak lagi deh, kakak ipar kamu ini hanya keceplosan."
"Anu apaan Dian? Cerita dong! Aku penasaran gimana bocah itu jebol gawang kamu." Devanya terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Aku juga penasaran gimana Bang Ano bisa bikin kamu tekdung," sengit Diandra.
"Hahaha ... Itu gak bisa aku ceritakan. Nanti Bang Ano marah kalau aku bilang-bilang." Devanya tertawa lepas. Dia merasa lucu saat membayangkan pertama kali suaminya itu menyentuh dia.
"Dasar kakak ipar pinter kodek (licik)!!! Kamu ingin tahu cara adikmu tapi gak mau kasih tahu gimana cara suami kamu bisa jebol gawang. Tapi aku yakin, kalau Bang Ano pasti kaku pas awal-awal. Benar kan?"
"Enak aja kamu bilang kaku. Tapi emang sih, kalau pas awal-awal Bang Ano itu ...."
Klik
Devanya langsung mematikan ponselnya, saat ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. Dia yakin pasti suaminya terbangun karena suara berisik dia.
"Emang Abang dulu terlihat kaku sekali ya?" tanya Keano dengan menggigit kuping Devanya pelan.
Dia merasa gemas karena istrinya sendiri malah menggosipkan dia dengan sahabatnya. Apalagi, yang mereka bahas itu adalah hal sensitif. Yang seharusnya menjadi rahasia suami istri itu sendiri.
__ADS_1
"Hehehe ... Iya! Abang tahu, dulu Abang itu seperti sebuah gaun indah di dalam etalase. Bisa dilihat keindahannya tetapi tidak bisa dipegang, ingin dimiliki tetapi sulit untuk didapatkan tanpa seijin pemiliknya. Aku dan Dian fans garis keras Abang," jelas Devanya.
"Abang tahu. Abang bersikap seperti itu karena takut tidak bisa mengendalikan perasaan Abang. Kamu tahu, Ay. Abang harus bisa menyelesaikan serangkaian pelatihan yang diberikan Opa Andrea." Keano berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebelum Abang bisa menyelesaikan semuanya, opa melarang Abang untuk dekat dengan gadis manapun, karena itu akan membuat Abang tidak fokus. Tapi opa berjanji akan membantu Abang untuk mendapatkan gadis yang Abang sukai," jelas Keano.
"Apa perjodohan kita, Abang yang minta?" tanya Devanya.
Flashback on
Saat Keano berusia dua puluh tahun dan sudah mendapatkan gelar S2 nya, Andrea mengajak berbicara serius pada cucunya. Dia akan memberikan ijin pada Keano untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis.
"Ano, Opa senang, kamu bisa menyelesaikan pendidikan kamu lebih cepat dari perkiraan Opa. Untuk itu, Opa tidak akan melarang kamu lagi jika ingin berpacaran ataupun menikah dengan seorang gadis," ucap Andrea.
"Nanti saja Opa. Karena gadis itu masih kecil," ucap Keano.
"Maksud kamu? Apa kamu suka dengan gadis bermata biru itu?"
"Iya!"
"Pantas saja fotonya terpajang rapi di kamar kamu. Opa sangat setuju jika kamu menikah dengan putrinya Dave karena Opa juga sangat menyukai gadis itu tapi Opa tidak akan memaksa jika kamu tidak suka sama dia. Mungkin Opa akan menawarkan pada Elgar jika dia sudah selesai S2 seperti kamu."
"Jangan Opa! Aku akan menunggu dia tumbuh besar baru aku nikahi."
"Baiklah, Opa akan mempersiapkannya dari sekarang agar Dave tidak memberikan putrinya pada orang lain. Tapi sepertinya nenek kamu juga menginginkan kamu dekat dengan gadis bermata biru itu kan?"
"Dulu Iya, tapi saat Ion sering mendekati Deva, Nenek tidak pernah membahasnya lagi."
"Kamu jangan khawatir, Opa pasti membantu kamu untuk mendapatkan gadis itu. Soal putra dari keluarga Pratama itu, kamu tidak usah khawatir! Dia tidak akan berani bersaing dengan Keluarga Wiratama," ucap Andrea dengan penuh keyakinan.
Flashback off
"Bang, kenapa tidak mendekati aku saat masih SMU? Aku kan jadi tidak merasakan punya pacar saat sekolah," keluh Devanya.
"Abang sibuk kerja, Ay. Jadi lupa kalau kamu sudah tidak anak-anak lagi. Waktu itu kan, Abang mengurus perusahaan yang ada di negeri ginseng sebelum kantor pusatnya dipindahkan ke sini. Apa Ion pacar pertama kamu?" tanya Keano.
"Iya, tapi dia bukan cinta pertama aku. Karena aku pertama kali merasakan debaran aneh saat seorang pangeran tampan menolongku dari keisengan Ion."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....