
Darah memang selalu lebih kental dari air. Meskipun mereka sering saling meledek dan berselisih paham, tetapi hal itu tidak mengurangi rasa sayang diantara kakak beradik itu. Melihat adiknya yang tersandung masalah, Devanya memutuskan untuk ikut menemaninya di kantor polisi seraya menunggu Devan datang dengan penghulu yang akan menikahkan Davin dan Diandra.
"Deva, makasih mau menemani aku di sini," ucap Dian sendu.
"Santai saja, kesalahan adikku berarti kesalahan aku juga. Aku minta maaf atas sikap Davin yang memaksakan cintanya sama kamu," ucap Devanya.
"Kakak, cepat carikan kebaya dan baju untuk aku menikah dengan Dian," suruh Davin.
"Astaga nih bocah! Nikah dadakan juga pengen pake baju bagus segala. Ya sudah tunggu, Kakak pulang dulu bawa baju," ucap Devanya.
"Deva, gak usah! Lihat ini dini hari, kau perempuan, tidak baik berkeliaran jam segini," cegah Diandra.
"Biar, Abang antar." Keano langsung menimpali setibanya dia di kantor polisi.
Tadi saat dia akan istirahat, Keano mendapat laporan kalau Devanya keluar rumah dengan motor sportnya. Setelah dia melacak keberadaan tunangannya, ternyata gadis itu menuju ke kantor polisi. Tentu saja dia merasa sangat khawatir, sehingga bergegas menuju kantor polisi.
"Bang Ano, kho tahu aku ada di sini?" tanya Devanya kaget.
"Aku bahkan tahu apa yang kamu lakukan sehari-hari," ucap Keano dengan tersenyum. "Ayo, kita ke ER's butik! Katanya butuh kebaya pengantin."
"Ya udah, aku ikut Abang aja."
"Kakak ipar ku memang the best!" puji Davin dengan tersenyum lebar.
Lumayan aku gak usah keluar duit untuk beli kebaya mahal. Kan uangnya bisa aku pake buat beli rumah seperti yang Diandra inginkan. Tidak sia-sia punya kembaran konyol seperti Devan. Rencananya sukes besar, batin Davin.
"Abang berangkat dulu," pamit Keano.
Keano pun langsung pergi bersama dengan Devanya. Dia melihat penampilan Devanya yang serba hitam dengan jaket kulit yang melekat di tubuh indah gadis itu. Dia hanya menghela napas dalam saat melihat lekukan tubuh Devanya yang terpampang jelas di matanya.
"Deva, boleh Abang minta sesuatu?" tanya Keano saat keduanya sedang berada di mobil.
"Boleh aja. Minta apaan, Bang?" tanya Devanya.
__ADS_1
"Bisa gak kalau nanti jangan memakai baju yang ketat. Abang gak mau lelaki lain menikmati keindahan tubuh kamu," ucap Keano pelan
"Apa segini ketat, Bang?" tanya Devanya dengan menggoyang-goyangkan badannya dengan dada yang sedikit membusung di depan Keano.
"Deva, boleh Abang khilaf?"
"Khilaf kenapa, Bang? Memang ada yang menggoda Abang?"
Cekit
Keano langsung menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Kemudian dia menghadap ke arah Devanya. Gadis bermata biru itu masih terkaget karena Keano menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Deva, lihat Abang!" suruh Keano.
Devanya hanya menuruti apa yang Keano katakan. "Kenapa berhenti, Bang?"
"Jangan menggoda Abang! Abang tidak memiliki iman seteguh ahli agama. Kamu mengerti, kan?"
Keano langsung mengusap wajahnya kasar. Dia terus bertanya dalam hatinya, Kenapa Devanya tidak mengerti kalau yang dia lakukan itu bisa mengundang hasrat seorang lelaki. Apalagi buah kembar milik tunangannya itu terlihat mangkel seakan-akan menantangnya untuk menyentuh dan memainkan. Meskipun baju yang dipakai Devanya tebal tapi terlihat pas di tubuhnya.
Keano langsung terdiam. Dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya daripada semakin tergoda dengan pemandangan yang disuguhkan oleh Devanya. Seandainya yang di depan Devanya itu Orion, sudah pasti pemuda itu langsung melahapnya. Jangankan digoda, tidak digoda pun pemuda itu selalu tidak bisa menahan hasratnya.
Bang Ano normal gak sih? Aku kho jadi khawatir, dia belok. Masa udah mau dua puluh delapan tahun tidak bisa ciuman. Apa itu hanya alasan dia?
Kini keduanya saling terdiam membisu. Keano fokus dengan jalanan di depannya, sedangkan Devanya memilih untuk memainkan ponselnya. Saat sampai di butik, Keano langsung meminta pada satpam butik untuk masuk ke dalam. Satpam itu pun langsung membangunkan karyawan butik yang memnag menginap di sana.
Meskipun bukan untuknya tetapi Keano tidak tanggung-tanggung membelikan kebaya yang harganya ratusan juta untuk pernikahan dadakan Davin dan Diandra. Dia menyuruh tunangnnya yang memilihkan kebaya untuk Diandra. Devanya pun memilih kebaya warna putih yang bertabur swarovski lengkap dengan kosmetik serta jas dan kemeja putih untuh Davin.
Setelah mendapatkan kebaya untuk pengantin dadakan, mereka langsung menuju ke mesjid yang tidak jauh dari kantor polisi. Karena acaranya akan diadakan di sana setelah sholat subuh.
Selepas sholat subuh berjamaah, Devanya meminta salah ibu-ibu jamaah untuk mendadani Diandra. Meskipun make-upnya nampak natural, tetapi membuat gadis cantik itu semakin anggun dan pangling.
Selesai mendandani pengantin, kini mereka menunggu Davin mengucapkan ijab qabul di depan penghulu. Setetes air mata jatuh di pelupuk mata Diandra. Dia benar-benar tidak menyangka akan menikah tanpa disaksikan oleh mamanya dan kemungkinan, dia kan menyembunyikan pernikahannya di depan keluarga mereka.
__ADS_1
Bukan apa-apa, tapi Diandra maupun Davin takut dimarahi oleh orang tua mereka karena menikah tanpa membicarakannya dulu pada keluarga. Apalagi mereka menikah karena terkena rajia.
"Saya terima nikah dan kawinnya Diandra Dewantara binti Diwan Dewantara dengan maskawin sebuah kalung berlian delapan belas karat dibayar tunai." Dengan satu tarikan napas, Davin dengan lantang mengucapkan ijab dan qabul.
"Bagaimana saksi? Apakah sah?" tanya penghulu.
"Sah ...." Kompak semua jemaah subuh yang ikut menyaksikan pernikahan Davin dan Diandra.
"Alhamdulillah."
Penghulu pun langsung meminpin do'a untuk kebaaian pengantin baru dan memberikan nasihat pernikahan. Apalagi dia tahu kalau yang dia nikahkan seorang anak muda yang belum cukup umur untuk menikah.
"Selamat bergabung dengan keluarga Sky, adik ipar. Aku tidak menyangka kamu akan menikah mendahului aku," ucap Devanya dengan memeluk Diandra yang sedari tad menunduk.
"Makasih." Diandra langsung menangis tersedu seraya memeluk sahabatnya. Hatinya terasa tidak karuan.
"Maafkan Davin. Tapi aku yakin kalau cintanya tulus sama kamu. Bukan karena sebuah obsesi. Tolong buka sedikit hatimu untuk adikku," ucap Devanya dengan mengelus lembut punggung sahabatnya.
Saat namanya dipanggil oleh penghulu, Diandra pun segera mengurai pelukannya. Dia menghampiri Davin yang masih duduk di depan penghulu yang tadi menikahkannya.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Meskipun Nak Davin usianya lebih muda dari Nak Diandra, tetapi sekarang dia menjadi kepala keluarga. Nak Diandra harus menghormatinya. Ayo cium tangan suaminya!" suruh penghulu.
Diandra pun langsung mengambil tangan Davin lalu menciumnya, sedangkan Davin mencium pucuk kepala gadis yang baru saja dinikahinya.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa memiliki Diandra seutuhnya. Makasih Devan, kamu memang saudara yang bisa aku andalkan, batin Devan.
Semoga saja, Devan tidak seperti Daddy yang mudah tergoda di saat mama tidak berdaya. Maafkan Dian, Mah. Dian tidak memberitahu mama tentang pernikahan Dian.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1