
Dave sangat terkejut saat dia membuka ponselnya begitu banyak panggilan dari Sevia. Apalagi saat dia membuka pesan yang dikirim istrinya itu yang mengatakan sudah menunggunya di luar gedung. Pria tampan itu langsung bergegas mengambil kunci mobil dengan setengah berlari menuruni anak tangga.
"Dave, mau ke mana buru-buru sekali?" tanya Icha yang sedang duduk bersama suaminya sambil menonton televisi.
"Aku ada urusan Tan, aku pulang dulu!" Dave pun mengambil tangan Icha dan mencium punggung tangannya bergantian dengan Al.
Elzio tak kalah kagetnya saat melihat Dave bersalaman dengan orang tuanya. "Loh, Bang! Ini aku baru bawa cemilan dan minuman buat kita main game."
"Sorry, Dek! Abang benar-benar ada urusan sekarang. Lain kali ya, Abang lanjut lagi. Assalamu'alaikum." Dave langsung pergi begitu saja meninggalkan Elzio yang sedang termangu di tempatnya.
"Sudah Zio, sini minumnya buat Mama saja! Mungkin Abang sedang ada urusan penting." Icha mengulurkan tangannya meminta salah satu minuman yang ada di nampan yang Elzio bawa.
"Ya udah nih, buat Mama aja. Bang Dave sekarang aneh, betah banget di sana. Udah gitu jarang pulang ke rumah. Kayak punya istri simpanan saja," gerutu Elzio yang sukses membuat Icha tersedak.
Uhuk uhuk
Al yang ada di samping istrinya langsung menepuk pundak Icha pelan. "Zio, kalau ngomong suka asal. Lihat mama kamu sampai tersedak," tegur Al.
"Maaf, Mah! Zio hanya curiga sama Abang. Ya udah, Zio mau ke atas lanjut main game." Elzio pun melanjutkan langkah kakinya untuk kembali ke kamarnya
Memang sebenarnya Dave sedari tadi tanding game bersama dengan Elzio sampai dia lupa pada ponselnya. Dia tidak menyadari Sevia banyak melakukan panggilan padanya karena ponselnya dia mode silent. Saat tadi Elzio pamit untuk mengambil minum dan cemilan, barulah dia teringat pada ponsel yang teronggok di sampingnya.
Dave langsung menancap gas menuju ke tempat Sevia tadi dia turunkan. Saat sampai di sana, suasana sudah terlihat lengang. Hanya beberapa orang saja yang masih bertahan di sana. Dave langsung memutar kemudi menuju ke pintu keluar. Terlihat samar-samar ada seseorang yang sedang berjalan seraya menghentak-hentakan kakinya seperti orang yang sedang kesal. Dave pun langsung mempercepat kemudinya, dan benar saya ternyata orang yang dicarinya sedang menggerutu kesal. Dia pun langsung menghentikan mobilnya tepat di samping gadis itu.
"Sevia, ayo naik!"
Mendengar namanya di panggil, Sevia pun langsung menengok ke arah suara yang sudah sangat dikenalnya. Benar saja brondongnya sedang melongokkan kepalanya ke luar jendela. Melihat Dave yang datang, bukannya Sevia cepat naik, dia malah melanjutkan kembali jalan kakinya.
"Via, ayo naik!" Dave sedikit meralat ucapannya takut karena dia salah memanggil makanya Sevia menjadi kesal.
__ADS_1
"Aku mau naik bis saja!" ketus Sevia kesal.
Dave langsung turun dari mobilnya dan mengejar Sevia yang sedang ngambek karena dia telat menjemput. Hanya butuh beberapa langkah, Dave sudah bisa menggapai tangan kecil istrinya. Dalam satu tarikan, Sevia langsung terhuyung menabrak dada bidang suaminya.
"Maaf, aku telat! Tadi Zio mengajakku main game, aku lupa kalau dari semalam ponselku mode silent. Makanya aku gak tahu kalau kamu beberapa kali menelpon dan mengirim pesan padaku." Dave menangkup kedua pipi Sevia dengan tangan besarnya. "Jangan marah ya! Sebagai gantinya, aku akan menuruti apapun yang kamu mau."
"Beneran?" tanya Sevia dengan memicingkan mata.
"Serius!" Dave mengacungkan tangannya pertanda dia sedang berjanji.
"Oke, aku maafin! Tapi kamu harus mengajakku ke Dufan. Aku ingin naik bianglala malam-malam. Pasti romantis banget lihat lampu kelap-kelip dari ketinggian," ucap Sevia.
"Aku bosan pergi ke sana. Apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?" tanya Dave.
"Gak ada! Aku belum pernah pergi ke sana Dave, aku hanya mendengar cerita dari teman-teman di PT." Sevia menundukkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari, Andika melihat semua keromantisan mantan kekasihnya itu. Dia bermaksud untuk pulang, tetapi dari jauh dia melihat Dave sedang mengejar Sevia sehingga dia pun menghentikan mobilnya. Dia ingin tahu apa yang akan terjadi di antara Sevia dengan suaminya itu.
Apa hatimu secepat itu berpaling, Via? Bukankah kamu bilang kalau kamu masih mencintaiku? Tapi kenapa kamu mudah sekali dibujuk olehnya?
...***...
Suasana senja di dermaga begitu membuat Sevia terkagum-kagum dengan keindahan alam yang mungkin baru pertama kali dilihatnya. Sevia menatap jauh ke depan. Mengagumi cahaya kemerahan di ufuk barat. Dave yang berdiri di belakangnya langsung melingkarkan tangannya ke perut rata Sevia.
"Apa kamu senang?" tanya Dave yang mengikuti arah pandang Sevia dengan menyimpan dagu di pundak istrinya.
"Aku senang, ini pertama kali aku melihat senja di tepi pantai. Makasih Dave, kamu sudah membawaku ke sini." Sevia mengelus tangan Dave yang melingkar di perutnya pelan.
"Aku senang melihatmu senang, ayo kita makan! Aku lapar," ajak Dave.
__ADS_1
"Dave, kenapa merusak suasana?" Sevia cemberut mendengar ajakan Dave yang mengajaknya untuk makan.
Kedua sudut bibir Dave terangkat membentuk bulan sabit mendengar apa yang istrinya katakan. Dia pun melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Sevia agar menghadapnya. Dipegangnya kedua pipi Sevia dan sedikit mendongakkan kepala istrinya agar melihat wajahnya yang tepat berada di atas Sevia.
"Kamu ingin suasana yang seperti apa? Apakah yang seperti ini?" Dave sedikit membungkukkan badannya dan langsung meraup bibir ranum Sevia. Perlahan dia menghisapnya, begitupun dengan Sevia yang langsung memejamkan mata menikmati setiap sapuan lembut di bibirnya
Semakin lama, ciuman itu semakin dalam bersamaan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat. Dave melepaskankan pagutannya setelah merasa Istrinya seperti kehabisan napas. Dia tersenyum seraya mengusap lembut bibir Sevia yang masih ada sisa saliva.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Dave dengan menatap lekat Sevia.
Sevia malu-malu mengangguk. Kedua pipinya sudah merona. Mulutnya seakan terkunci untuk mengiyakan apa yang suaminya tanyakan. Dia menyembunyikan wajahnya dengan memeluk erat brondong tampan itu. Dave pun langsung membalas pelukan dari istrinya.
"Makasih Dave! Kamu sudah memberi warna dalam hidupku," lirih Sevia.
"Mari kita buat kenangan yang indah," ucap Dave
Kruyuk kruyuk
Terdengar begitu nyaring suara perut keduanya. Membuat mereka tertawa secara bersamaan. Dave pun mengurai pelukannya dan langsung membawa Sevia ke restoran sea food yang ada di daerah itu. Saat keduanya sudah selesai mengisi perut dan melaksanakan kewajibannya pada Sang Pencipta, Dave pun mengajak Sevia untuk masuk ke area dunia fantasi.
Terlihat wajah Sevia yang begitu senang. Dia begitu terkagum-kagum melihat banyaknya wahana bermain. Dia pun mengajak Dave untuk naik bianglala seperti apa yang dia inginkan.
"Dave, kalau nanti aku punya anak, aku akan mengajak mereka untuk main ke sini."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1