Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 114 Hasil Tes DNA


__ADS_3

Elzio melihat ke belakang, melihat dengan seksama wajah Abang angkatnya itu. "Sepertinya mereka satu koloni dengan Abang."


Dave langsung menoyor kepala Elzio pelan yang sukses membuat pemuda tanggung itu merengut tidak suka. Dia pun bersiap akan berteriak untuk memberitahu mamanya, yang sudah pasti akan membela putra bungsunya.


"Ma ...." belum sempat Elzio melanjutkan ucapannya, Dave sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Bilang Tante, Abang gak mau ajarin main game," ancam Dave memotong Elzio yang akan berteriak.


"Jangan dong, Bang! Iya, aku gak akan teriak. Tapi Abang harus ajarin game virtual yang keluaran terbaru itu. Aku akan menunjukkannya pada Jasmine," Elzio menaik turunkan alisnya meminta persetujuan pada Dave.


"Iya, nanti Abang ajarin. Sekarang keluar gih! Abang sedang ingin berduaan dengan kakak ipar kamu," usir Dave.


"Gak mau, aku mau sekalian belajar sama Abang bagaimana caranya agar mendapatkan cewek yang lebih tua dari aku," tolak Elzio.


"Memang Zio suka sama siapa?" tanya Sevia.


"Sama Jasmine, dia guru konseling baru di sekolahku. Orangnya cantik imut-imut, dari yang aku dengar dia baru lulus kuliah. Makanya aku sering berangkat sekolah telat agar bisa bertemu dengan dia," jelas Elzio dengan mata yang berbinar.


"Astaga, Zio! Abang bilang mamamu biar cepat dikawinin." Dave langsung menepuk jidatnya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran adik angkatnya. Sungguh Dave merasa heran kenapa Zio bisa berbuat seperti itu.


"Aku malah senang kalau cepat-cepat dikawinin, biar bisa kaya Abang yang selalu mesra-mesraan dengan Kak Sevia." Elzio bicara seperti tanpa beban. Sampai akhirnya, ada suara yang mengagetkan mereka semua.


"Siapa yang ingin cepat-cepat dikawinin? Kamu Zio? Jangan harap, sebelum kamu jadi sarjana dan bisa memimpin perusahaan, Mama gak akan mengijinkan!" sanggah Icha yang baru datang dengan membawa Devanya.


"Nggak kho, Mah! Tadi Bang Dave nyuruh aku buat cepat-cepat nikah sama guru cantik itu," kilah Elzio yang sukses membuat mata Dave melotot.

__ADS_1


"Sudah, Zio! Sekarang kembali ke kamar jangan mengganggu Abang dan kakakmu," suruh Icha seraya menyerahkan Devanya pada Sevia. "Dia nangis pengen mimi dulu."


"Iya Tan, makasih!" ucap Sevia dengan menggendong putrinya.


Icha hanya tersenyum menanggapi ucapan Sevia kemudian segera menarik putra bungsunya agar keluar dari kamar Dave. Dia pun langsung membawa Elzio ke kamar dan mulai menceramahi putranya.


"Zio, kalau lagi ada Kak Via, jangan masuk ke kamar abang kamu. Kamu itu masih kecil, tidak boleh sering-sering melihat kemesraan orang dewasa. Kalau sudah saatnya nanti, kamu juga pasti akan bisa seperti mereka. Tapi bukan sekarang," tegur Icha.


"Iya Mah!" sahut Elzio dengan menundukkan kepalanya.


Padahal aku sudah enam belas tahun, masih saja disebut anak kecil. Teman-teman di sekolah juga banyak yang sudah pacaran. Bahkan cewek-cewek di sekolah juga banyak yang ingin jadi pacar aku. Tapi Mama selalu saja bilang aku masih kecil-kecil, batin Elzio.


...***...


Tiga hari sudah rumah kediaman Putra seperti ada yang mengawasi. Namun, hanya Elzio dan Dave saja yang tahu. Mereka sengaja tidak memberitahu pada orang tuanya karena takut akan membuat mereka menjadi cemas.


Namun, sepertinya hari ini Dave mendapatkan kejutan yang luar biasa. Pasalnya, saat dia pulang kerja, Dave mendapati Mr. David dan Istrinya sedang berbincang bersama Icha dan juga Al di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum," ucap Dave.


"Wa'alaikumsalam," sahut Icha dan yang lainnya.


"Wah kebetulan sekali kamu sudah datang, Dave. Mr David sudah menunggu kamu sedari tadi," ucap Icha setelah menjawab salam Dave.


"Apa kabar Mister?" Dave pun mengulurkan tangannya mengajak bersalam pada David dan istrinya setelah tadi dia mencium punggung tangan Al dan Icha.

__ADS_1


"Baik, Son!" jawab David dengan tersenyum.


"Sini duduk, Dave!" Kylie menepuk sofa yang ada di sebelahnya.


Meskipun bingung, Dave pun menuruti apa yang Kylie minta. Dia duduk di samping nenek biologisnya. Nampak kedua paruh baya itu begitu senang saat melihat Dave duduk di antara mereka.


"Sebenarnya kami ke sini ada yang ingin disampaikan terutama pada Dave." David mengkode istrinya untuk mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. "Lebih baik, Dave baca dulu hasil tes DNA ini, agar lebih jelas."


Dave pun langsung membuka amplop yang diberikan oleh Kylie. Hatinya sudah dah dig duh dengan semua praduga di pikirannya. Begitupun dengan Al dan Icha yang kaget dengan apa yang dilihatnya. Dave membaca dengan seksama isi dari selembar kertas putih itu. Sampai pada sebuah tulisan mengatakan kecocokannya sebagai anak dan ayah dengan Dave Mattews, Dave langsung membisu seraya melihat ke arah Mr. David dan istrinya.


"Maafkan kami, Dave! Kami baru tahu kalau memiliki cucu dari almarhum putra kami saat ada seseorang yang membuka data penting keluarga," jelas David.


"Jadi Anda sebenarnya tahu, kalau aku mencari tahu tentang Keluarga Mattews?" tanya Dave dengan suara bergetar.


"Awalnya, aku mengira orang itu berniat jahat pada Keluarga Mattews. Tapi saat bertemu denganmu dan melihat gelagat kamu saat kita bicara di pesta, aku menjadi curiga kalau kamu yang telah membuka data itu. Tapi tidak apa, aku bisa memakluminya untuk kali ini," jelas David.


"Bisakah memberikan pelukan pada kami, Dave?" tanya Kylie dengan mata penuh pengharapan.


Dia sangat bahagia saat melihat hasil tes DNA yang baru didapatnya tadi pagi. Sehingga dia buru-buru untuk bertemu dengan cucunya. Untung saja, dia selalu membawa kemana pun rambut hasil cukuran pertama putranya sehingga saat bertemu dengan Dave Sky, dia pun segera mengambil rambutnya ketika waktu itu memeluk Dave di pesta.


Meskipun awalnya merasa ragu, Dave pun langsung menghambur ke dalam pelukan neneknya. Ada setetes bulir bening yang memaksa keluar dari pelupuk matanya. Dia merasa terharu karena tidak menyangka akan diterima baik oleh orang tua papa kandungnya.


"Maaf, Mr. David! Meskipun Dave memang cucu kandung Anda, aku harap Anda tidak mempublikasikannya. Aku tidak mau keamanan Dave terancam karena perselisihan di keluarga Anda," sela Al yang sedari tadi diam melihat pertemuan cucu dana kakek neneknya yang mengharu biru.


"Saya mengerti dengan kekhawatiran Anda Tuan Aldrich. Tapi Anda tidak usah khawatir, meskipun Dave tidak terdaftar sebagai cucuku, tapi dia akan tetap mendapatkan harta bagian dariku. Aku sudah tua, sudah ingin beristirahat dengan tenang. Jadi aku akan membagikan semua milikku dengan adil pada anak-anakku," jelas David.

__ADS_1


"Anda begitu bijaksana, Mister!"


...~Bersambung~...


__ADS_2