
Sevia langsung menuju ke kamar mandi. Sedikit pun dia tidak menghiraukan Dave yang terus mengikuti. Terngiang terus di telinganya apa yang dikatakan oleh Ines. Membuat Sevia merasa jadi wanita yang tidak pantas untuk mendapatkan lelaki manapun.
Mungkin benar apa yang Ines katakan. Punyaku akan jadi longgar seperti karet yang sudah dipakai. Apalagi punya Dave memang gede. Aku tidak akan menikah dengan lelaki pribumi seandainya nanti Dave meninggalkan aku. Aku takut mengecewakan dia karena kekurangan yang aku miliki, batin Sevia.
Melihat Sevia yang langsung menuju ke kamar mandi, Dave pun langsung mengikutinya dari belakang. Dia mengira kalau istrinya mengajak bermain di dalam bathtub. Sampai akhirnya suara lenguhan kenikmatan itu memenuhi kamar mandi.
Sevia menjadi lupa dengan apa yang Ines katakan setelah mendapatkan kenikmatan yang Dave berikan. Sepasang suami istri itu, kini sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk setelah lelah bermain di dalam kamar mandi. Sevia memeluk erat tubuh kekar suaminya, seakan dia takut akan ada yang mengambilnya.
"Via, katanya mau pulang kampung, apa jadi?" tanya Dave seraya membelai lembut kepala Sevia.
"Jadi Dave, kita berangkat Sabtu pagi saja. Besok aku masih ujian," ucap Sevia.
"Via, boleh aku tahu kenapa tadi kamu sedih?" tanya Dave.
"Gak apa-apa, aku hanya kesal karena kamu pulang tapi tidak memberitahu aku." Bohong Sevia.
"Aku ingin kasih kamu kejutan, tapi malah aku yang terkejut melihat kamu diantar oleh mobil," ucap Dave dengan tangan nakalnya mulai memainkan bukit kembar kesayangan dia.
"Itu mobil kakaknya Reina. Aku tidak enak menolak ajakan dia, makanya aku ikut." Sevia menjelaskan dengan mata yang sudah terpejam.
"Gak apa-apa kalau kamu bersama sahabatmu. Asal jangan hanya berdua dengan kakaknya, karena aku tidak suka melihat wanita yang aku cintai dekat dengan lelaki lain," ungkap Dave tanpa sadar.
Sevia yang sudah terlelap hanya diam saja tidak menjawab apa yang Dave katakan, sehingga pria bermata biru itu sedikit mengintip melihat wajah istrinya. Dave menghela napas dalam saat menyadari kalau Sevia sudah tertidur pulas.
"Tidurlah! Energi kamu pasti terkuras setelah pulang kerja langsung ujian. Padahal aku tidak keberatan mempunyai istri yang hanya lulusan SMA," lirih Dave. Tak berapa lama kemudian, Dave pun menyusul istrinya ke alam mimpi.
...***...
Keesokan harinya, pasangan suami istri itu sudah siap dengan baju kerjanya. Dave terlihat gagah dengan setelah jas dan dasi yang dipakainya. Hari ini dia akan kembali ke Jakarta karena ada meeting penting di kantor pusat.
__ADS_1
"Via, hari ini aku ke kantor pusat. Nanti kalau sempat, pulangnya sekalian jemput kamu di kampus." Dave meminum susunya lalu mengelap bibirnya dengan tissue.
"Kamu gak capek pulang pergi Jakarta? Apalagi kemarin habis dari Jogja. Jangan lupa jaga kesehatan, Dave!" Sevia mengelus pipi Dave perlahan. Entah kenapa hatinya merasa khawatir pada brondong tampannya itu.
Dave memegang tangan Sevia yang sedang mengelus pipinya. Dikecupnya telapak tangan istrinya yang sangat jarang memberi perhatian yang berlebihan. Dave pun menatap lurus ke manik Sevia lalu berkata, "Selama ada kamu di sisi aku, aku pasti baik-baik saja. Kamu seperti vitamin untukku, Via."
Sevia tersenyum manis dengan menatap lekat manik biru suaminya. Ada rasa yang tidak biasanya yang dia rasakan setiap kali melihat kedalam mata Dave. Rasa cemas, takut ditinggalkan, senang, bahagia bercampur menjadi satu memenuhi rongga hatinya.
"Via, jangan menggodaku! Nanti malam saja kita bermain lagi. Aku mau nyari uang dulu untuk kamu dan anak-anak kita." Dave langsung mencium bibir istrinya sekilas sebelum dia beranjak untuk mengambil tas kerjanya.
Lagi-lagi Sevia hanya tersenyum dengan apa yang Dave. Dia pun segera menghabiskan makanannya agar turun bareng ke bawah. Setelah keduanya siap, sepasang suami istri saling berjalan dengan saling merangkul satu sama lain menuju ke basemen apartemen.
Tidak butuh waktu lama, mobil Dave sudah terparkir rapi di parkiran. Namun, Sevia seperti enggan turun dari mobil karena takut ketahuan oleh karyawan lain. Sementara Dave hanya tersenyum melihat kecemasan istrinya.
"Dave kamu turun saja dulu, kalau sepi nanti kasih kode ke aku ya!" suruh Sevia.
"Kenapa memang, kamu mau dandan dulu?" tanya Sevia.
"Masih malu jalan sama aku?" tanya Dave dengan menatap lekat istrinya.
"Bukan aku malu, tapi kamu terlalu menarik perhatian orang. Nanti mereka pasti bilang kalau aku gak pantas di sisi kamu," jawab Sevia sendu.
Dave hanya menghela napas dalam sebelum dia keluar dari mobil. Tanpa bicara lagi, dia pun langsung mengikuti apa yang istrinya katakan. Setelah dirasa parkiran terlihat sepi karena tempat Dave parkir memang khusus untuk petinggi perusahaan, dia pun mengetuk pintu memberi kode Sevia untuk turun.
Sevia segera turun saat mendengar ketukan dari Dave. Dia mengedipkan sebelah matanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya, saat berpapasan dengan Dave. Sebelum akhirnya dia berlari menuju ke pintu masuk khusus karyawan. Dave hanya mengulum senyum melihat tingkah istrinya.
"Via, Via ... Kamu menggemaskan sekali. Sepertinya aku sudah benar-benar jatuh hati sama tante mesum. Aku merasa tidak ingin jauh dari dia," gumam Dave sebelum akhirnya dia pun langsung pergi menuju ke ruangannya karena ada berkas yang harus diambilnya.
...***...
__ADS_1
Waktu pun terus berputar, pagi sudah berganti siang, siang berganti sore, sore pun berganti malam. Sevia baru saja selesai mengerjakan ujian terakhirnya saat jam sudah menunjukkan angka delapan. Dia dan sahabatnya langsung bergegas ke luar kampus karena tadi Adam menelpon Reina kalau dia sudah menunggunya di luar gerbang kampus.
"Via, mau ikut gak? Kita mau makan di app janda. Bang Adam sudah nunggu di luar," tawar Reina.
"Makasih, Rei! Suamiku pulang, jadi aku gak boleh pulang telat. Kapan-kapan saja ya," tolak Sevia.
"Ya udah, gak apa-apa. Padahal Bang Adam sepertinya suka sama kamu. Sayang kamu sudah nikah," sesal Reina.
Sevia hanya tersenyum hambar mendengar apa yang sahabatnya itu katakan. Dia merasa kurang nyaman ikut bersama Reina kalau ternyata kakaknya malah menyukainya. Meskipun Adam memang tampan untuk ukuran seorang lelaki tetapi dia tidak memiliki perasaan lebih dari seorang teman.
Sesampainya di luar gerbang, nampak Adam yang sedang menyenderkan badannya pada mobil yang dia parkir di tepi jalan. Pemuda tampan dan itu melambaikan tangannya saat melihat kedatangan adik dan gadis yang mampu mengusik hatinya. Reina dan Sevia pun langsung mendekati Adam yang tersenyum menyambut kedatangannya.
"Bang, Via katanya gak ikut sama kita. Dia lagi ada acara," ucap Reina.
"Wah sayang banget. Besok ikut bareng kita, Via! Aku sama Reina mau main ke karaoke. Sudah lama ya Rei kita gak teriak-teriak," sahut Adam.
"Abang sih, mau aja tinggal di pulau kecil itu," gerutu Reina.
"Abang udah resign, Rei. Baru tadi siang Abang di terima di AP Technology." Senyum mengembang tercetak jelas di bibir Adam. "Senin, Abang mulai kerja di sana," lanjutnya.
"Wah selamat ya, Bang! Itu kan tempat kerjanya, Via." Reina langsung memeluk tubuh Abangnya yang sudah seperti sahabat baginya.
"Selamat bergabung, Bang!" ucap Sevia dengan tersenyum manis dengan mengulurkan tangannya dan langsung disambut hangat oleh Adam.
Kenapa sangat kebetulan sekali, aku bisa berkerja dalam satu perusahaan dengan dia, batin Adam.
Tanpa ada yang menyadari kedatangannya, Dave sudah berdiri di belakang Sevia dan langsung menarik tangan istrinya yang sedang digenggam erat oleh Adam. "Tidak udah bersalaman tanpa seijin aku!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung Author terus ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan masukin....
...Terima kasih!...