
Dave dan Sevia segera saling melepaskan diri. Mereka serempak menengok ke arah suara yang mereka tahu kalau itu putranya yang selalu iseng. Terlihat di sana Devan dan Orion masih melongo melihat kemesraan orang tuanya.
"Kalian kenapa di kamar Papa?" tanya Dave sewot. Bagaimana tidak, saat hasratnya sudah menggebu, tiba-tiba ada dua anak muda di kamarnya.
"Ini kan kamar aku. Kata Mama, boleh tidur di kamar mana saja yang kosong. Kita suka dengan kamar ini karena paling luas, makanya pilih kamar ini."
"Davin ...!!! Maksud Mama itu, kamar kosong yang tidak ada pemiliknya," geram Sevia. Dia malu sangat-sangat malu kepergok sama dua bocah tengil itu.
"Tapi Tan, Ion suka kho sama kamar yang ini." Orion tersenyum.
"Ini kamar Om dan Tante, Ion. Sekarang kalian cepat keluar! Om ada kerjaan yang belum selesai," usir Dave dengan menunjuk pintu kamar.
"Ck! Bilang saja, Papa mau lanjutin yang tadi. Awas saja kalau jadi adik bayi, aku gak mau terima," ancam Devan.
"Papa memang ingin buat adik bayi buat kamu, biar kamu gak semaunya terus." Dave langsung menarik kedua pemuda tampan itu dan mengeluarkan dari kamarnya. Sudah seperti penghuni kontrakan yang diusir oleh pemiliknya karena menunggak berbulan-bulan.
"Papa tega sama anak sendiri. Aku adukan ke Komnas HAM."
"Sekalian saja kamu adukan ke WHO," suruh Dave seraya menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Van, papa kamu kayak orang kerasukan." Orion berbisik pelan di telinga Devan.
"Bisa jadi, sudah yuk kita cari kamar yang di dekat Kak Vanya. Biar bisa intip mereka berdua," ajak Devan.
Benar saja, kedua pemuda tampan yang terkadang suka kambuh keisengannya itu, memilih kamar yang berada di samping kamar Devanya. Mereka tidak langsung tidur tetapi mengeluarkan alat penyadap dari tas yang dibawa oleh Devan. Setelah men-setting dengan ponselnya, dia pun kembali keluar dan menggelindingkan alat penyadap itu ke kamar Devanya.
"Hahaha ... Aku penasaran apa yang mereka bicarakan saat berdua," gumam Devan dengan tersenyum miring.
Saat Devan akan kembali ke kamarnya, terdengar suara orang yang memberi salam. Devan pun langsung menuju ke ruang tamu. Ternyata, Davin dan Diandra baru saja sampai di kampung halaman mamanya.
"Masuk, Bro!" suruh Devan.
"Sepi banget, pada ke mana?" tanya Davin seraya masuk ke dalam rumah.
"Mama, Papa bikin adik baru. Kalau Kak Vanya mau bikin ponakan untuk kita. Kamu tidur bertiga saja sama aku dan Ion. Biar Rani tidur sendiri," ucap Devan seperti bapak kost yang sedang mengatur anak-anak kost-nya.
"Enak saja, aku tidur sama Dian lah. Kamu tidur sama Ion," tolak Davin.
__ADS_1
"Siapa yang mengijinkan kamu tidur dengan Dian?" terdengar suara Sevia yang baru datang ke ruang tamu.
Rupanya Sevia mendengar saat ada suara mobil yang masuk ke halaman rumahnya. Namun karena dia dan Dave sedang tanggung, akhirnya dia membiarkan orang lain untuk membukakan pintu untuk putranya.
"Mama, memang gak jadi bikin adik baru?" tanya Devan.
"Sudah! Davin, kamu istirahat dulu sebentar di sini. Nanti antar Dian pulang ke rumahnya.
Tante Rani pasti sudah menunggunya," suruh Sevia.
Davin hanya diam tidak menolak ataupun mengiyakan perintah mamanya. Dia hanya melihat Dian yang sedang menunduk. Sepertinya gadis itu merasa terusir saat mendengar perkataan Sevia.
"Maaf, Dian. Bukannya Tante tidak suka kamu menginap di sini. Tapi besok, akan ada seorang pemuda yang melamar kamu. Rasanya kurang baik kalau kamu menginap di rumah Tante," lanjut Sevia.
"A-apa Tan? Me-melamar aku? Bagaimana bisa? Kenapa mama tidak bilang apa-apa sama aku?" tanya Diandra bertubi-tubi.
"Kalau soal itu, kamu tanyakan saja pada mama kamu."
"Mah, gak bisa gitu! Dian milik aku, aku tidak akan mengizinkan Dian dilamar oleh lelaki manapun." Sewot Davin.
"Davin, cinta boleh tapi tidak boleh terobsesi. Kamu tidak boleh memaksa Dian untuk terus bersama kamu jika dia tidak menginginkannya. Dian berhak menentukan masa depannya sendiri," ucap Sevia.
"Maaf Tante, tapi aku dan Davin sudah ...."
"Kami sudah menikah, Mah." Davin langsung memotong ucapan istrinya. Dia tidak mungkin membiarkan Diandra yang mengatakan kebenarannya.
"Kamu jangan bercanda, Vin! Kapan Mama melihat pernikahan kalian," sentak Sevia.
Ternyata istriku pintar sekali berakting. Lihat anak dan menantuku sampai pucat begitu, batin Dave.
Dia ingin sekali tertawa melihat raut wajah Davin dan Diandra. Namun, sebisa mungkin dia menahannya. Sehingga Dave memilih untuk duduk di sofa dan memainkan ponselnya.
"Mah, jangan marah dulu! Kita duduk dulu. Nanti aku jelaskan," rayu Davin dengan membawa Sevia menuju ke sofa panjang yang muat tiga orang.
Setelah mamanya duduk dengan tenang. Davin pun mulai menceritakan detail kejadiannya seperti apa. Tapi dia tidak bilang kalau semua kejadian itu adalah hasil rekayasa dia, Devan dan sahabatnya. Setelah Davin selesai bicara, barulah Sevia kembali membuka suaranya
"Meskipun kamu sudah menikah, tapi acara lamaran itu tidak bisa dibatalkan. Karena kedua belah pihak sudah sepakat," ucap Sevia.
__ADS_1
"Mama bagaimana bisa begitu? Lakukan sesuatu, Mah agar Diandra tidak menikah lagi dengan lelaki lain. Lagipula, bukannya poliandri tidak diperbolehkan?"
"Memang siapa yang mau poliandri? Masa Diandra tidak boleh merasakan bagaimana rasanya dilamar oleh suaminya sendiri," tanya Sevia cuek.
"Maksud Mama?"
"Masa orang yang memiliki IQ 200 tidak mengerti? Kalah dong sama Mama yang pas-pasan," ledek Sevia.
"Mah, jangan ngerjain aku!" pinta Davin.
"Mama tidak mengerjai kamu. Mama hanya melakukan yang seharusnya Mama lakukan sebagai orang tua kamu," ucap Sevia.
Flashback on.
Siang itu, Nani salah seorang pekerja di rumah Sevia menghampiri majikannya. Meskipun sebenarnya enggan. Tapi dia berusaha untuk memberanikan diri bicara pada Sevia.
"Maaf, Bu. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," ucap Nani.
"Katakan saja, ada apa Nan?" tanya Sevia heran.
"Anu, Bu. Saya-saya melihat Den Davin dan Non Diandra sudah melakukan hal yang diluar batas layaknya sepasang suami istri," ucap Nani dengan menundukkan kepala dan jari tangannya yang saling bertautan.
"Maksud kamu?"
"Saya tidak sengaja melihat Den Davin dan Non Diandra sedang melakukan hubungan suami istri di kamar Den Davin ketika rumah sedang sepi," adu Nani.
"Kamu serius, Nani? Jangan mengada-ada!"
"Saya serius, Bu! Bahkan saya sempat menguping pembicaraan mereka," ucap Nani.
"Baik Nani, terima kasih."
Setelah Nani berpamitan untuk kembali bekerja, Sevia pun bergegas mencari suaminya. Dia berencana untuk mengadukan apa yang dikatakan Nani pada suaminya. Namun, di luar dugaannya, tenyata Dave sudah tahu tentang pernikahan putranya.
Flashback off
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....