
Devanya masih terdiam di balkon kamarnya. Dia tidak peduli dengan sinar mentari yang menerpa kulitnya. Pikirannya masih melayang pada saat dia tiba-tiba masuk ke dalam mulut Orca dan terlempar ke atas hingga akhirnya terjatuh.
Devanya langsung memegang perutnya dengan air mata yang berderai. Syok, mungkin itu yang masih dia rasakan. Meskipun kejadian itu sudah seminggu berlalu, tetapi Devanya masih belum bisa melupakan kejadian itu.
Keano yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya menghela napas berat melihat keadaan istrinya. Dia mencoba membawa Devanya pada psikiater, tetapi istrinya menolak dengan alasan kalau dia tidak gila. Pada akhirnya, mau tidak mau Keano hanya mengikuti keinginan Devanya agar istrinya itu tidak semakin tertekan.
"Sayang, mataharinya sudah tinggi. Masuk yuk!"
Keano langsung memapah Devanya agar mengikutinya masuk ke dalam rumah. Bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dari luar.
"Bang, aku bisa jalan sendiri." Devanya langsung melepaskan tangan suaminya.
"Kalau gitu Abang buka pintu dulu, ya!" pamit Keano.
"Iya!" sahut Devanya dengan tidak melepaskan pandangannya dari Keano.
Keano langsung beranjak membuka pintu kamarnya. Terlihat di sana Dave sedang berdiri menunggunya. Keano pun langsung menyapa ayah mertuanya.
"Iya, Pah. Ada apa?"
"Apa Deva ada di dalam?" tanya Dave.
"Ada Pah!" sahut Keano.
"Nanti Papa tunggu di ruang kerja. Sekarang Papa mau melihat keadaan Deva dulu," ucap Dave.
"Silakan, Pah!"
Dave langsung masuk ke dalam kamar putrinya. Dilihatnya Devanya yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Pria bermata biru itu pun langsung menghampiri putrinya.
"Sayang, untuk beberapa hari ke depan, Papa harus ke luar kota. Kamu di sini saja ya, Nak. Biar ada temannya, atau kalian liburan saja." Dave mengelus rambut putrinya lembut.
"Aku di sini saja, Pah."
"Biar nanti Dian yang menemani kamu. Sayang, Papa sedih saat melihat putri kesayangan Papa tidak ceria seperti dulu lagi. Papa minta, jangan terus larut dalam kesedihan! Sayang, yakinlah Allah pasti akan menggantikan dengan yang lebih baik," ucap Dave dengan mata yan berkaca-kaca.
"Maafkan aku, sudah membuat Papa sedih."
"Tidak, Sayang. Jangan terus minta maaf, Papa hanya ingin melihat putri Papa kembali." Dave langsung memeluk Devanya. Rasanya berat saat harus pergi meninggalkan putrinya. Sementara keadaan Devanya belum pulih seratus persen.
"Maafkan aku, Pah!"
Keano menengadahkan kepalanya ke atas untuk menahan air mata yang memaksa ingin ke luar. Dia bertekad untuk melepaskan Devdev meskipun masih terasa berat. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa Devanya terulang lagi pada siapa pun.
Tak berapa lama kemudian, Sevia masuk bersama dengan Allana. Rupanya, mommy mertuanya itu sengaja datang untuk memeriksa keadaan menantunya. Allana memang setiap hari selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Devanya.
__ADS_1
"Wah, kenapa Mama tidak diajak pelukan nih? Papa curang ikh!" Sevia yang selalu berusaha ceria di depan putrinya langsung menggoda anak dan suaminya.
Dia sengaja tidak memperlihatkan kesedihan di depan Devanya, agar putrinya itu bisa mengalihkan kesedihan yang dirasakan. Meskipun sebenarnya dia menangis dalam hati melihat apa yang sudah terjadi pada putri sulungnya.
Dave langsung mengurai pelukan pada putrinya. Dia pun membiarkan istri dan besannya yang berusaha mengembalikan keceriaan putrinya.
"Iya, nih Mommy juga gak diajak," timpal Allana.
"Pagi Mommy, Mah!" ujar Devanya.
"Pagi, Sayang. Apa perutnya masih suka terasa sakit?" tanya Allana.
"Tidak, Mah!" sahut Devanya.
"Syukurlah! Mommy ke sini mau mengajak Deva untuk berkunjung ke panti asuhan. Apa Deva mau ikut?" tanya Allana.
"Boleh, Mah. Biar nanti Dian juga ikut," ucap Devanya.
"Kalau gitu, Papa ke luar dulu ya! Ayo Ano!" ajak Dave seraya menarik Keano agar mengikutinya.
Di sinilah sekarang Keano dan Dave berada. Setelah tadi mereka ke luar dari kamar Devanya, Dave membawa menantunya untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Ano, Papa titip Deva ya! Opa kamu meminta Papa untuk datang menemuinya. Sepertinya ada masalah di perusahaan yang ada di negeri Gajah Putih," ucap Dave.
"Iya, Pah. Ano pasti jagain Deva," ucap Keano.
"Akan Ano usahakan, Pah. Ano harus membereskan dulu pekerjaan di kantor. Soalnya sedang ada proyek besar yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Keano.
Dave hanya menghela napas berat. Menantunya ini benar-benar gila kerja. Bahkan saat kemarin dia menjaga putrinya di rumah sakit. Keano masih menyempatkan diri untuk memeriksa berkas yang dibawa oleh Hayden.
"Atur saja bagaimana baiknya. Kamu tinggal memilih mana yang lebih penting untuk hidupmu. Tiga puluh menit lagi Papa harus terbang. Papa mau bersiap dulu," ucap Dave seraya melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Iya, Pah! Hati-hati di jalan," pesan Keano. "Aku juga mau ke kamar dulu."
Keano pun kembali ke kamarnya. Akan tetapi, dia tidak mendapati istri dan juga mommy-nya. Sepertinya semua wanita cantik itu sudah turun ke lantai bawah. Saat Keano akan mencari Devanya dan mommy-nya, terdengar bunyi ponsel di kantong bajunya. Terlihat di sana nama pelatih Devdev yang melakukan panggilan. Keano pun langsung menerima panggilan telepon itu.
"Hallo, Tuan selamat pagi!"
"Pagi, ada apa?"
"Begini Tuan, kami sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk pelepasan Devdev. Apa Tuan ingin melihatnya untuk yang terakhir kali sebelum Devdev dilepaskan ke lautan?"
"Jangan dilepaskan dulu sebelum aku datang!"
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Klik
Keano langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia pun bergegas mencari keberadaan istrinya. Terlihat Devanya sedang berada di ruang tengah bersama dengan mommy dan juga iparnya. Meskipun yang lain terlihat sedang bersenda gurau, tetapi Devanya hanya diam dan sesekali tersenyum tipis.
"Sayang, jadi mau ke panti asuhannya?" tanya Keano.
"Besok Ano, tadi Pak Mun bilang, barang yang akan disumbangkannya belum siap. Nanti Mommy jemput Deva ke sini. Dian kalau mau ikut juga boleh," ucap Allana.
"Iya, Tan!" sahut Diandra.
"Oh! Sayang, hari ini Devdev mau dilepaskan ke lautan. Apa kamu ingin ikut?"
"ANO!!!" sentak Allana.
"Tidak apa, Mah. Devdev tidak salah, tapi aku yang ceroboh. Maafkan aku Bang! Aku tidak bisa ikut mengantar Devdev," ucap Devanya dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf, Sayang. Abang ingin melihat Devdev untuk yang terakhir kalinya. Apa boleh Abang pergi?"
"Pergilah, Bang! Aku baik-baik saja," suruh Devanya.
"Ay, sama mama dulu ya! Abang hanya sebentar ke sananya," pamit Keano.
"Iya, Bang. Aku tidak membenci Devdev. Aku hanya belum lupa saat berada di mulut dia dan dilempar ke atas," ucap Devanya pelan.
"Iya, Sayang. Abang mengerti. Semuanya terjadi karena pelatih perempuan itu. Tapi kamu tenang saja. Om El pasti sudah menghukumnya."
El bertindak? Kenapa Keano tidak memberi tahu aku? Apa yang sudah dilakukannya? Tapi sudahlah, kali ini aku tidak akan ikut campur urusan El, batin Allana.
Allana hanya diam melihat interaksi putra dan menantunya. Karena dia tahu betul bagaimana berartinya Devdev untuk Keano. Bayi lumba-lumba yang Keano temukan di dekat tempat penyekapan dulu, sengaja dia bawa dan dia rawat dengan baik, hanya untuk mengembalikan senyum putranya.
Keano yang sempat murung setelah penculikan itu, akhirnya bisa kembali ceria. Saat orang tuanya selalu mengajak dia untuk mengunjungi lumba-lumba yang mereka temukan di tepi pantai. Bahkan setiap hari libur, mereka selalu menyempatkan diri untuk melihat bayi Orca itu.
Kini, orca yang dia rawat selama dua puluh tahun itu, akan dia lepaskan. Meskipun rasanya berat tapi Keano tetap melakukannya. Bukan karena dia membenci binatang laut itu, tetapi dia tidak ingin Orca itu sampai terluka lagi olehnya.
"Dev, maafkan aku! Aku tidak bisa mempertahankan kamu lagi. Carilah keluargamu dan menikahlah. Jangan lagi menyakiti manusia! Terima kasih sudah menjadi sahabatku selama ini. Selamat jalan Devdev!"
"MAAF!" Devdev melihat ke arah tuannya.
Keano mengelus lembut kepala lumba-lumba itu. Seperti yang mengerti ucapan tuannya, Devdev meneteskan air mata kemudian berenang menjauh dari Keano. Lumba-lumba itu bersuara seperti peluit panjang saat sudah memasuki lautan lepas.
"Selamat jalan Dev-dev!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....