Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 133 Pesta Ulang tahun


__ADS_3

Ruang tamu rumah Dave sudah di hias sedemikan indah dengan balon yang sudah disusun rapi memenuhi ruangan. Tak ketinggalan beberapa tokoh kartun sudah terpajang menghiasi ruangan. Kue ulang tahun pun sudah siap di meja kecil. Devanya terlihat menggemaskan dengan memakai gaun putri salju yang membuat balita cantik bermata biru itu nampak seperti boneka Barbie.


Icha dan Al juga Elzio sudah datang sedari siang. Dia sangat antusias membantu mempersiapkan pesta ulang tahun cucu angkatnya. Icha pun mengajak Keano ikut bersamanya karena Allana sedang berhalangan hadir, sedangkan Mitha dan Andrea sedang berada di luar negeri sehingga tidak bisa datang ke pesta dadakan itu.


"Cucu Enin cantik sekali. Ano, lihat adiknya cantik kan?" ucap Icha mengajak bicara cucunya Keano.


"Tidak, cantikan juga mommy." Keano nampak cuek dengan apa yang neneknya tanyakan. Dia memang selalu ketus dan cuek pada orang yang jarang ditemuinya.


Kenapa bukan sifat Dika yang ramah yang menurun padanya. Meskipun wajahnya memang sangat mirip dengan Dika, tapi sikap dia mengingatkan aku pada Allana saat dia masih kecil dulu, batin Icha.


"Tante kenapa?" tanya Sevia yang melihat Icha menjadi bengong atas jawaban cucunya.


"Tidak apa, Via. Maaf ya kalau Ano kurang bisa bergaul," ucap Icha yang merasa sungkan pada Sevia.


"Tidak apa, Tante. Namanya juga anak-anak, jangan terlalu dipusingkan. Ano mau coklat?" tawar Sevia.


Bocah berusia tujuh tahun itu tidak langsung menjawab pertanyaan Sevia, tetapi dia melihat dulu wajah orang yang berbicara padanya. "Boleh, Tan," jawabnya.


Sevia langsung memberikan cokelat black forest yang memang ada di meja. Dengan senang hati, bocah laki-laki itu menerima cokelat pemberian dari Sevia.


"Kalau Ano kurang boleh ngambil sendiri di kotak ini ya," ucap Sevia.


"Makasih, Tante!"


Sevia hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Keano, dia pun kembali mengobrol dengan Icha yang sedang duduk memangku Devanya. Sementara Dave, Al, Elzio dan Harry asyik berbincang di taman belakang.


Tak lama kemudian, Edward dan Yenita datang. Mama tiri Harry itu nampak memakai gaun malam yang glamor, membuat Icha yang melihatnya hanya mengulum senyum.


Memang mereka akan mengadakan pesta tapi hanya pesta kecil-kecilan yang tidak perlu berdandan wah seperti akan menghadiri pesta yang mewah dan megah.


"Terima kasih Tante sudah menyempatkan diri untuk datang," ucap Sevia seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Yenita. Namun Yenita diam saja, hanya tangannya yang terulur ke depan untuk bersalaman dengan Sevia.


"Selamat datang Mbak Yenita, lama kita tidak bertemu," ucap Icha menyambut kedatangan sahabat besannya.


"Terima kasih, Jeng. Apa tamunya belum pada datang?" tanya Yenita mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.


"Hanya menunggu tamunya Dave, karena kita hanya makan malam keluarga saja, Mbak." Icha tersenyum manis pada Yenita.


"Oh, begitu ya?" Yenita tersenyum samar menanggapi jawaban Icha.


Astaga, tahu begini aku tidak perlu repot-repot ke salon dan menyewa gaun ini. Bikin kantong tekor tapi tidak ada yang melihat, batin Yenita.


"Ayo Mbak, kita duduk di dalam!" ajak Icha.


Icha dan Yenita pun larut dalam obrolan, mama tirinya Harry memang selalu pilih-pilih dalam bergaul. Dia akan mengakrabkan diri pada istri-istri yang suaminya memiliki kedudukan di perusahaan ataupun pemerintahan. Sementara pada orang biasa, dia selalu menghindar untuk bergaul.

__ADS_1


Nampak Rani baru turun dengan menggendong putrinya dan pengasuhnya menggendong Gavin. Dia pun langsung menghampiri mertuanya untuk mencium punggung tangan Edward dan Yenita.


"Sudah lama, Mah, Pah?" tanya Rani.


"Baru saja," ucap Yenita dengan segera menarik tangannya seperti enggan bersalaman dengan Rani.


"Kami baru sampai, bagaimana keadaan anak-anak?" tanya Edward.


"Alhamdulillah baik, Pah!" sahut Rani.


Icha langsung menautkan kedua alisnya melihat apa yang Yenita lakukan pada istrinya Harry. Dia merasa heran dengan sikap Yenita, karena setahunya Yenita selalu ramah padanya. Sementara Rani tersenyum samar. Meskipun sebenarnya dia merasa sakit hati, tetapi Rani langsung menepisnya.


Saat Icha akan bicara ingin menanyakan kenapa Yenita seperti itu pada Rani, terdengar ada yang memberi salam di depan. Sevia pun segera menyambut kedatangan tamu yang ditunggu-tunggunya.


"Nyonya, apa kabar?" ucap Sevia dengan sumringah.


"Alhamdulillah, baik! Via, bagaimana keadaan kamu? Baik juga kan?" tanya Kirana balik bertanya.


"Alhamdulillah baik, Nyonya. Tuan Silakan masuk!" ucap Sevia kemudian mempersilakan tamunya masuk ke dalam.


Saat mereka saling bersalaman satu sama lain, Dave, Al dan Harry pun datang karena mendengar suara keributan di depan. Dave langsung menyambut kedatangan rekan bisnisnya itu dan memulai acara potong kue.


"Terima kasih untuk kedatangan semuanya, sebelum kita ke acara ini, mari kita bersama-sama berdoa untuk kebaikan kita semua, terutama Devanya.Semoga Devanya menjadi anak yang sholeha, pintar, berbakti pada orang tua, agama dan bangsa aamiin."


"Aamiin." Kompak semua orang yang hadir.


"Suapan pertama untuk Mama," Dave langsung menyuapi Sevia setelah mendapat satu potong kue ulang tahun.


"Suapan kedua untuk Papa," Sevia pun balik menyuapi Dave.


Sementara Devanya yang ulang tahun hanya melongo melihat kedua orang tuanya.


"Au au," pinta Devanya.


"Ya ampun Dave, kalian tuh. Lihat anak kamu juga ingin disuapi kue!" seru Harry yang sedari tadi diam.


"Maaf, sayang. Papa suka lupa kalau sudah dekat mama kamu," ucap Dave seraya menyuapi Devanya.


"Permisi, Den. Makan malamnya sudah siap," ucap Bi Lina.


"Iya, Bi. Oh iya, Bi nanti tolong kuenya dipotong-potong ya lalu di taruh di piring kecil," suruh Sevia.


"Iya, Neng!" sahut Bi Lina kemudian beranjak pergi ke dapur untuk mengambil piring kecil seperti yang dikatakan oleh Sevia.


"Mari semuanya, kita ke meja makan!" ajak Sevia yang langsung diikuti oleh semua orang.

__ADS_1


Suasana meja makan nampak tenang, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, yang terdengar di telinga. Sevia duduk di samping Kirana karena atas permintaan Nyonya itu sedang Icha dan Yenita, ada di seberang meja Sevia. Saat semuanya sudah menyelesaikan makan, barulah ada yang angkat bicara.


"Via, gelang kamu bagus sekali, beli di mana?" tanya Kirana yang sedari tadi terus memperhatikan tangan Sevia.


"Ini pemberian dari ibu sebelum dia pergi kerja ke luar negeri," jawab Sevia.


"Ibu kamu seorang TKW? Jadi babu dong di negeri orang," sarkas Yenita.


"Iya, Tan. Aku juga hanya seorang buruh pabrik," jawab Sevia.


"Memang kenapa kalau TKW, Mbak?" tanya Icha yang tidak suka dengan pertanyaan Yenita pada menantunya.


"Ya gak gimana-gimana, Jeng. aku kan hanya memastikan," elak Yenita.


"Boleh, saya memegangnya?" tanya Kirana.


"Tapi Nyonya, ini hanya ...."


"Sebentar saja, boleh kan?" potong Kirana.


"Iya silakan!" Sevia langsung membuka gelangnya dan memberikan pada Kirana. Semua itu tidak lepas dari pandangan Dave. Dia semakin yakin kalau orang yang dicari Kirana itu istrinya sendiri.


Kirana langsung mengambil gelang yang diberikan oleh Sevia. Dia membolak-balikkan gelang mencari sebuah nama yang terpatri di gelang itu. Dia masih ingat, saat dulu dia ulang tahun yang ke tujuh belas, ayahnya memberikan gelang yang sama dengan kakaknya Kinara. Hanya saja tiap gelang sudah diberi nama lengkap oleh ayahnya.


Saat dia melihat sebuah nama di bagian dalam gelang itu, matanya langsung berkaca-kaca. Keinginannya untuk bertemu dengan putri kakaknya, kini dapat terwujud. Gadis yang dia cari sudah ada di depan mata. Kirana pun langsung memeluk Sevia erat. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada orang lain. Biarlah mereka tahu kalau dia sedang menangis bahagia karena bertemu dengan keponakannya.


"Nyonya, Anda kenapa?" tanya Sevia bingung. Bukan hanya Sevia yang merasa bingung dengan sikap Kirana, tetapi semua orang yang sedang ada di meja makan pun merasakan hal yang sama.


Kirana tidak menjawab pertanyaan Sevia, dia masih larut dalam rasa harunya. Sampai akhirnya Dave yang duduk di samping Sevia ikut bertanya.


"Nyonya, apa Sevia orang yang Anda cari?" tanya Dave.


Kirana hanya menganggukkan kepalanya. Setelah dia merasa puas memeluk Sevia, akhirnya Kirana pun mengurai pelukannya.


"Sevia, mamamu merindukan kamu. Dia ingin sekali bertemu denganmu," ucap Kirana dengan menangkup kedua pipi Sevia dengan tangannya.


"Mama? Maksud Anda?" tanya Sevia heran.


"Wanita yang sudah memberikan gelang ini padamu."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan, agar Author makin semangat update-nya....


Sambil nunggu brondong update yuk melipir dulu ke karya Author Selvi_19, ceritanya sudah tentu menarik.

__ADS_1



__ADS_2