
Dengan langkah gontai, Devanya terus melangkahkan kakinya ke arah halte busway yang tidak jauh dari gedung tempat bazar buku. Dia berjalan dengan sesekali menendang angin. Gadis bermata biru itu sangat kesal pada Orion yang bahkan tidak menyusulnya.
"Belum juga ada dua puluh empat jam, dia bicara yang bikin aku melayang tinggi. Sekarang sudah menghempaskan-nya sampai ke dasar jurang. Sebenarnya kamu serius gak sih sama aku? Apa hanya jadi mainan kamu saja?"
Devanya terus saja bergumam sendiri sampai tidak sadar dia ada mobil yang melaju ke arahnya, saat dia menyeberang jalan. Orion yang sedang mencari Devanya, langsung berlari ke arah gadis itu.
"VANYA AWAS!!!" teriak Orion. Dia langsung menarik Devanya dan membawa ke pelukannya
"Woy, kalau nyebrang jangan sambil melamun! Untung saja bawa mobilnya pelan," sentak pengemudi.
"Maaf, Bang!" ucap Orion.
"Lepas!!!" sentak Devanya seraya dia melepaskan diri dari dekapan Orion.
"Vanya, kamu gak apa-apa? Kamu mau ke mana nyebrang jalan?" tanya Orion cemas. Dia tidak memperdulikan Devanya yang meronta ingin melepaskan diri.
"Aku mau pulang, lepaskan Ion! Aku mau naik busway," suruh Devanya.
"Tidak, kamu datang bersama aku dan pulang pun harus bersama aku. Apa kamu marah karena melihat aku bersama Felicia?"
"Tidak! Untuk apa aku marah? Memangnya aku siapa sampai harus marah sama kamu?" Devanya memalingkan wajahnya tidak mau menatap wajah Orion yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kamu pacar aku, kamu juga berhak marah sama aku kalau aku dekat dengan cewek lain." Orion mengurai pelukannya dan membawa Devanya ke cafe yang tidak jauh dari tempat bazar.
"Aku mau pulang!" ketus Devanya.
"Makan dulu, aku lapar!"
Sesampainya di cafe, Orion pun langsung memesan makanan untuknya dan juga untuk Devanya. Sementara Devanya, sedari tadi hanya diam. Hatinya masih kesal dengan apa yang Orion lakukan saat tadi di bazar.
"Vanya, jangan lama-lama marahnya! Oke aku minta maaf. Aku hanya ingin lihat, apa kamu akan marah kalau ada cewek deketin aku atau tidak? Ternyata kamu malah ninggalin aku."
"Ion, sesuka-sukanya aku sama cowok, aku tidak akan memaksa cowok itu untuk suka sama aku ataupun mempertahankannya jika cowok itu sudah merasa tidak nyaman bersama aku. Aku tidak mau menyiksa diri aku dengan bertahan bersama orang yang tidak menginginkan aku."
"Aku tidak mau diduakan, kalau kamu tidak bisa setia, lebih baik kita udahan saja." ucap Devanya dengan menundukkan wajahnya melihat kedua tangannya yang saling merremas satu sama lain.
"Vanya, aku tidak menduakan kamu. Lagipula hanya aku yang berhak memutuskan kita udahan atau tidak. Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?"
Aku pikir kamu sudah berubah, Ion. Ternyata masih Ion yang aku kenal dulu, batin Devanya.
Devanya tidak bicara lagi, mood-nya langsung anjlok saat Orion mengingatkannya dengan perjanjian mereka. Dia pikir, Orion yang sekarang sudah berubah dan dia tulus mencintainya. Tapi ternyata, ekspektasinya terlalu tinggi.
Sementara Orion, dia sangat kesal karena Devanya mengajaknya udahan. Padahal belum ada tiga bulan mereka saling sepakat untuk bersama menjadi sepasang kekasih. Tetapi Devanya begitu mudah meminta pisah padanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pelayan pun datang membawakan makanan pesanan mereka. Orion dan Devanya pun langsung memakannya dalam diam. Sampai akhirnya Orion menyudahi makannya dan terus memperhatikan Devanya yang masih belum menghabiskan makanannya.
Tangan Orion terulur mengelap sisa makanan yang ada di sudut bibir Devanya lalu berkata, "Vanya, kita baikan ya! Aku janji tidak akan dekat-dekat dengan Felicia ataupun gadis lain tapi aku minta, kamu jangan pernah minta putus sama aku. Aku bisa nekat kalau kamu melakukanya."
Devanya tidak langsung menjawab ucapan Orion. Dia langsung mengambil gelas yang berisi jus dan meminumnya. Setelah menghabiskan setengah gelas jus alpukat, barulah dia bicara pada Orion.
"Aku akan pegang kata-kata kamu tapi saat kamu mengkhianati aku. Jangan salahkan aku jika aku memilih pergi dari kehidupan kamu," ucap Devanya.
"Iya sayangnya aku, I promise!" Orion langsung mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Sudah yuk! Nanti keburu malam pulangnya," ajak Devanya
Pasangan muda-mudi itu langsung keluar dari cafe.Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikannya dalam diam. Keano yang mendapatkan laporan dari pengawal bayangan Devanya, tentang gadis itu yang pergi sendiri meninggalkan Orion, yang sedang bersama dengan gadis lain, dia pun langsung menuju ke JCC karena merasa khawatir dengan gadis bermata biru itu. Namun, saat sampai di tempat tujuan, ternyata mereka sedang berada di dalam cafe.
Aku terlalu berlebihan mengkhawatirkannya. Dia baik-baik saja bersama Ion. Kenapa aku semakin mengkhawatirkan dia? Ada apa dengan kepalaku? Semenjak aku tahu dia dekat dengan Ion, aku malah semakin mengkhawatirkan dia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1